Beranda Fokus Lagi, Konvoi Aremania Anarkis Di Jalanan

Lagi, Konvoi Aremania Anarkis Di Jalanan

Pesta konvoi Aremania menyambut tim pujaannya menjuarai turnamen pemanasan Inter Island Cup 2015 menuai kontroversi. Dalam euforia selebrasi, muncul selentingan kabar tak sedap dari social media.

Laman facebook Komunitas Peduli Malang (ASLI Malang) dan Oposisi Malang Raya melaporkan terjadinya tindakan anarkis yang dilakukan segelintir oknum suporter yang melakukan konvoi di jalan raya.

Lewat capture BlackBerry Messenger milik Ira, ia menceritakan beberapa hari lalu mengalami kejadian tak menyenangkan ketika ia berkendara bersama anaknya yang masih berusia lima tahun. “Bolehlah menjadi suporter bola, asal itu (tongkat) bendera gak dipukulkan ke mobil orang” katanya lewat BBM.

Konvoi rusuh Arema
Capture keluhan Ria dari BBM. Source : Komunitas Peduli Malang (ASLI Malang) & Oposisi Malang Raya

Mobil Ira yang menggunakan plat AD (Solo dan sekitarnya) dipukul oleh oknum suporter meski ia sudah meminggirkan kendaraannya hingga separuhnya berada di bahu jalan. Meski tak mengalami kerugian materi, Ira nampak shock akibat peristiwa tersebut. “Pengaruh ke psikologis. Anak saya dan saya yang tadi ketakutan” tambahnya. Atas kejadian ini Ira hanya bisa mengelus dada dan mencoba bersabar.

Selain Ira, perilaku segelintir oknum suporter yang tak simpatik telah menuai beberapa kali keluhan. Masih teringat momen perayaan HUT Arema 11 Agustus 2013 lalu. Pesta Aremania dinodai segelintir oknum yang melakukan tindakan negatif dengan mengganggu para pengguna jalan.

Salah satu korban Mamanya Aira, mengalami kerugian materi akibat mobil plat L yang dikendarainya ditendang, dipukuli dan mengalami pembaretan paku ketika dalam perjalanan menuju ke Kota Batu.

Konvoi rusuh
Screenshot dari korban aksi jahil yang dilakukan oknum suporter. Tribute photo : JeffGigih

Tak ketinggalan pula, salah satu pemain Arema, Dendi Santoso pernah menjadi korban ‘salah sasaran’ dari oknum suporter bernama Adi, pasca perayaan juara Piala Gubernur 2013 lalu. Dendi Santoso yang kala itu semobil dengan istrinya, Vivi dilempari batu besar hingga kaca belakang pecah ketika melintas di jembatan Jalan Sukarno-Hatta.

Menanggapi kejadian tersebut, beberapa warga Malang turut memberikan komentar yang beragam.

“Yok sing rumongso Kera ngalam, masio duduk Aremania sharing ide ae atau konkrit ngelakoni noto maneh keluargane dhewe keluarga Arema. Salut gae nawak2 hebak sing sekarang lagi bangun jaringan positif keakraban antar komunitas semalang raya mugo2 isok nulari sing liané.” kata Hamzah lewat Group Komunitas Peduli Malang (ASLI Malang).

“Bersuka cita jangan berlebihan. Jika berlebihan yang ada cuma celaka.” ujar Samudra Manik menceritakan pengalamannya ketika mendapat perlakuan tak menyenangkan dari oknum suporter yang menendang kaca spion mobilnya. Tak dinyana, sang pelaku tak dapat mengontrol kendarannya setelah melampiaskan aksinya dan ndlosor jatuh ke selokan.

“Konvoi yang tertib dan indah bisa menjadi tontonan yang apik dan asyik. Sambil nyanyi sambil goyang lebih asyik asal nggak ada yang anarkis. Saya setuju kalo ada yang anarkis itu hanya kasuistis, dan bisa diberi sanksi, supaya Aremania makin menjadi teladan bagi suporter lainnya.” urai Yumasumi Namakecil Umi Salamah.

Sejatinya upaya untuk meminimalisir aksi anarkis konvoi di jalanan telah dilakukan secara persuasif. Beberapa tahun lalu pernah dilakukan kampanye safety riding yang melibatkan swasta dengan Aremania.

Institusi kepolisian Malang juga sering menindak tegas pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oknum suporter. Pada perayaan HUT Arema 11 Agustus 2011 lalu, Aparat Kepolisian Resor Kota Malang berhasil mengamankan puluhan motor dari berbagai titik konvoi dan sanksi tilang kepada 141 pengendara karena tidak melengkapi atribut dalam berkendara, seperti tanpa adanya pelindung kepala (helm).

Hanya saja sepanjang masih terjadinya tindak anarkis di jalanan, tak ada salahnya kita (Aremania) saling mengingatkan untuk terus menjaga perilaku dan nama baik Aremania dalam setiap kesempatan. Sayang sekali jika momen indah ini tereduksi oleh aksi tak simpatik secuil oknum suporter.

Sesekali teringat akan tulisan dari sebuah poster besar di dinding kamar Yuli Sumpil, “Aremania, pride of the city, friendship without frontier, football without violence, the incorporable supporter, the incredible Malangese“.

Sepakbola tanpa kekerasan. Semoga tak hanya berlaku didalam stadion semata. (Oke Sr)

3 KOMENTAR

    • Bukan d pukul sam kena pukul.. Org klo ngbarin bndera kan biasa ne di goyang to nek gak yo d puter.. Pas keno angin yo wajar ae.. Wong bndera ambek arek e gde bndra ne sam….

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.