Beranda Fokus Cerita Tuntas Tribun Berdiri Di Stadion Eropa

Cerita Tuntas Tribun Berdiri Di Stadion Eropa

0

A. Tradisi yang Sudah Berubah di Inggris

Sudah menjadi tradisi di Inggris pada masa lalu bahwa didalam stadion selalu terdapat area berdiri untuk penontonnya. Kebanyakan dari penonton yang datang ke stadion adalah yang menempati area/tribun berdiri. Pada akhir 1980an saja kapasitas tribun berdiri dapat mencapai dua pertiga dari seluruh kapasitas stadion.

Selama bertahun-tahun keberadaan tribun berdiri(standing area) telah memberikan warna bagi sebuah pertandingan sepakbola. Disinilah kemeriahan sebuah laga sepakbola diproduksi. Tempat dimana penonton yang didominasi kaum pekerja dan remaja laki-laki bergemuruh sepanjang laga, dan memenuhi tiap sudut area.

Inggris adalah salah satu negara yang pernah memberikan keleluasaan bagi klub dan pemilik stadion untuk menyediakan tribun berdiri bagi sebagian penontonnya. Area tribun berdiri memberikan keuntungan ekonomis bagi para suporter dimana mereka mendapat harga miring meski harus mengorbankan sedikit kenyamanannya.

Penghapusan keberadaan area berdiri mulai diwacanakan sejak dekade 1980an. Beberapa administrator sepakbola melihat penghapusan area berdiri sebagai solusi untuk menekan hooliganisme yang timbul dalam masyarakat Inggris pada tahun 1970an. Dibawah kepemimpinan Jimmy Hill, kandang Stadion Highfield Road(homebase Coventry City dari tahun 1899-2005) menjadi stadion yang menerapkan tribun berkursi sepenuhnya pada tahun 1981. Namun ujicoba untuk mencegah gangguan kekerasan pada pertandingan sepakbola dan meningkatkan jumlah kehadiran penonton ini dinilai gagal dan pada akhirnya kursi-kursi yang telah terpasang disingkirkan dari tribun dua tahun sesudahnya.

Pada tanggal 15 April 1989, terjadi tragedi fatal yang memakan korban 96 nyawa suporter kesebelasan Liverpool tatkala bertandang ke Hillsborough pada pertandingan semifinal Piala FA. Penyelidikan yang dipimpin Lord Justice Taylor, menyimpulkan pada saat insiden berlangsung kondisi tribun mengalami kelebihan kapasitas karena tidak ada batasan/standar kapasitas yang aman untuk digunakan oleh penonton yang masuk kedalam stadion.Selain itu pada saat insiden berlangsung kondisi akses keluar masuk penonton tidak memadai.

Liverpool Memorial diluar Stadion Anfield yang memuat 96 korban tragedi Hillsborough. Source : www.mirror.co.uk

Taylor Report memberikan 76 rekomendasi, termasuk beberapa poin yang mengacu pada aturan semua stadion yang didesain berdasarkan Safety of Sports Ground Act 1975, hanya memperbolehkan semua penonton yang masuk ke stadion hanyalah yang menempati bangku penonton saja(tribun berdiri tidak digunakan), demikian pula dengan cabang olahraga lain.

The 1989 Football Spectators Act berisi peraturan yang mengharuskan stadion sepakbola harus sepenuhnya mengadopsi tribun bertempat duduk. Aturan ini diawasi oleh Football Licensing Authority (sekarang Sport Grounds Safety Authority). Pada bulan Juli 1992 pemerintah Inggris mengumumkan keringanan pada stadion-stadion yang digunakan oleh klub League One dan League Two(kasta ketiga dan keempat kompetisi sepakbola Inggris dibawah FA).

The 1989 Football Spectators Act sebenarnya tidak mencakup wilayah negara Skotlandia(bagian dari Britania Raya). Namun Liga Premier Skotlandia memilih untuk menerapkan penggunaan tempat duduk pada semua stadion sebagai syarat keanggotaan mengikuti kompetisi(Liga Premier Inggris juga menerapkan kebijakan demikian).

Imbas dari penerapan aturan diatas menyebabkan banyak stadion di Inggris yang tereduksi kapasitasnya. Molineux Stadium yang menjadi kandang Wolverhampton Wanderers adalah salah satu diantaranya. Stadion yang dibangun pada tahun 1889 tersebut mengalami renovasi pada tahun 1991-93 sejalan dengan peremajaan yang melanda sebagian besar stadion ternama di seantero Inggris.

Sebelum regulasi tribun berkursi diberlakukan, stadion ini mampu menampung lebih dari 60.000 penonton. Rekor tertinggi dihasilkan ketika melawan Liverpool pada laga Divisi I 11 Februari 1939 yang dihadiri 61.315 penonton. Saat ini Stadion Molineux ‘hanya’ berkapasitas 30.852 orang penonton.

Tribun berdiri Stadion Molineux sebelum direnovasi. Copyright : Phil Harris via footballgroundguide

Regulasi peniadaan tribun berdiri membawa dampak ganda. Selama beberapa waktu, statistik kehadiran penonton mengalami penurunan karena terbatasnya jumlah tiket yang dapat dibeli oleh suporter untuk masuk ke stadion. Imbasnya pendapatan klub dari penjualan tiket dapat mengalami perubahan negatif. Namun secara ekonomis masalah ini akan tereduksi sejalan dengan kenaikan harga tiket secara berkala akibat nilai branding fasilitas kenyamanan yang ditawarkan kepada suporter, laju perekonomian global, maupun faktor pengaruh lainnya yang bersumber dari kebijakan klub.

Disisi lain regulasi kebijakan peniadaan tribun berdiri dapat meningkatkan nilai sebuah stadion dimata publik dan pebisnis investasi. Berdasarkan studi dari UK Home Office, tingkat kekerasan yang terjadi dalam pertandingan sepakbola mengalami penurunan dari 34 per 100.000 penonton di tahun 1988/89 menjadi 9 per 100.000 penonton pada musim kompetisi 2009/10.

Selain itu latar belakang sosial para penonton semakin beragam ketika stadion-stadion di Inggris mulai menghapus tribun berdiri sepenuhnya. Selain Premiership, kasta kedua kompetisi sepakbola di Inggris The Championship, hampir seluruh stadionnya merupakan stadion berkursi(all seater). Hanya Huish Park yang menjadi kandang Yeovil Town FC masih menyisakan ruang tribun(terrace) berdiri untuk sebagian penontonnya. Dari kapasitas stadion yang berjumlah 9.565 penonton, hanya 5.212 diantaranya yang dapat menikmati kursi tersendiri. 

B. Kecelakaan di Stadion ‘Terrace’

Tragedi dan kecelakaan seringkali tak mengenal waktu dan tempat. Beberapa stadion yang menjadi venue pertandingan sepakbola pernah menjadi saksi kelam akan insiden kecelakaan yang merenggut nyawa manusia.

Berikut adalah beberapa kejadian tragis yang terjadi dalam stadion, khususnya insiden yang terjadi dalam tribun berdiri :
– Stadion Ibrox 1902

Tragedi Ibrox 1902. Source photo http://iainduff.wordpress.com/2012/04/05/the-ibrox-disaster-1902-a-national-tragedy/

Sebuah tragedi terjadi pada menit ke 51 pertandingan sepakbola di Stadion Ibrox, Glasgow yang mempertemukan Timnas Inggris dan Skotlandia pada kejuaraan British Home Championship 1902.

Salah satu tribun berdiri yang sarat dengan penonton dan terbuat dari kayu runtuh setelah sebelumnya diguyur hujan deras malam sebelumnya. Dua puluh lima orang penonton tewas pada kejadian tersebut, sementara 517 orang lainnya menderita luka-luka.

Hasil investigasi menyatakan kualitas bangunan yang terbuat dari tribun kayu dengan penopang berupa rangka baja andil dalam insiden ini. Selepas kejadian tersebut tribun berdiri di stadion-stadion Britania Raya diganti struktur materialnya menggunakan beton bertulang.

– Stadion Burnden Park 1946

Puluhan orang tewas dalam sebuah tragedi di Stadion Burnden Park. Source photo : http://www.saladellamemoriaheysel.it

37 orang tewas dan sekitar 400 orang penonton terluka ketika terjadi kericuhan dalam pertandingan second leg perempat final Piala FA. Kerusuhan diakibatkan oleh penonton yang melebihi kapasitas, terutama para penonton yang menempati teras tribun berdiri yang terinjak oleh penonton lainnya ketika terjadi kericuhan.

Diperkirakan jumlah penonton mencapai 85.000 orang, dimana kapasitas maksimum Stadion Burnden Park hanya 70.000 orang(termasuk sebagian diantaranya dalam kondisi berdiri). Sebagian penonton masuk ke stadion dengan jalan ilegal seperti memanjat dinding stadion.

Moelwyn Hughes yang membuat laporan setelah terjadinya bencana tersebut memberikan beberapa rekomendasi, diantaranya usulan yang ketat tentang kontrol jumlah penonton yang diperbolehkan masuk ke stadion berdasarkan daya tampung stadion itu sendiri.

– Stadion Heysel 1985
Pertandingan final Piala Champions 1985 yang mempertemukan Juventus dan Liverpool menjadi partai paling berdarah sepanjang pergelaran Liga/Piala Champions Eropa. Pasalnya 39 orang penonton tewas(terdiri dari 32 orang Italia, 4 warga negara Belgia, 2 dari Perancis, dan 1 orang lainnya berasal dari Irlandia Utara) serta 600 lainnya terluka akibat kerusuhan yang terjadi sejam sebelum kick off. 

Pada pertandingan tersebut sekitar 58.000-60.000 penonton memasuki stadion dengan masing-masing tim yang berlaga di final didukung oleh 25.000 penonton. Kedua kelompok suporter ditempatkan di area tribun berdiri yang terbagi dalam 3 zona dan terletak dibelakang gawang. Khusus untuk pendukung Liverpool hanya menempati 2 zona tribun, dengan 1 zona lainnya ditempati oleh penonton ‘netral’ dan banyak diantaranya merupakan pendukung Juventus yang membeli tiket.

Kericuhan dimulai ketika sekelompok pendukung Liverpool yang melewati pagar pembatas yang memisahkan area pendukung Liverpool dengan penonton netral(dalam tribun tersebut terdapat sebagian suporter Juventus). Para pendukung Juventus berlarian menyelamatkan diri di area tribun berdiri dan terkonsentrasi ke sisi dinding beton. Akibat meluapnya penonton di area tersebut, dinding beton itupun hancur dan roboh. Banyak pendukung Juventus yang terluka atau bahkan meregang nyawa, sebagian yang selamat memilih menyelamatkan diri pula dengan memanjat dinding stadion.

Tragedi Heysel berujung pada kematian 39 fans Juventus. Source by Stuart Franklin via Magnum Photos

Sebelum partai final digelar kontroversi seputar venue pertandingan sempat mengemuka. Meski berstatus sebagai homebase tim nasional Belgia, namun stadion yang saat ini bernama resmi sebagai The King Baudouin Stadium tersebut dipandang rapuh. Salah satunya adalah material dinding luar stadion yang terbuat dari bahan semacam batako. 

Pemain dan fans Liverpool sendiri terkejut ketika Heysel dipilih sebagai tuan rumah laga final. Pasalnya masih terdapat kandidat lainnya yang siap dan lebih baik kondisi infrastrukturnya dibandingkan Heysel. CEO Liverpool ketika itu, Peter Robinson sempat mendesak UEFA untuk memindahkan venue ke tempat lain, namun UEFA tidak mengabulkannya.

Akibat tragedi Heysel, UEFA memberikan hukuman kepada seluruh klub Inggris untuk dilarang mengikuti kompetisi dibawah UEFA(Piala Champions Eropa, Piala Winners dan Piala UEFA). Khusus untuk Liverpool hukuman tersebut bertambah menjadi enam tahun. Selama periode hukuman tersebut sekitar 20 klub Inggris gagal menggunakan haknya untuk berpartisipasi dalam kejuaraan sepakbola Eropa.

Selain hukuman yang menimpa para klub Inggris, sebanyak 14 fans diadili dan dihukum dengan pasal pembunuhan yang disengaja. Setelah masa 5 bulan hukuman percobaan di Belgia ke empat belas fans tersebut mendapat hukuman tambahan selama 3 tahun.

– Stadion Hillsborough 1989
Belum hilang ingatan akan Tragedi Heysel di Belgia 1985 silam, kembali dunia sepakbola dibuat sedih akan tragedi yang menimpa pendukung Liverpool di Stadion Hillsborough empat tahun sesudahnya.

Stadion Hillsborough yang terletak di Sheffield dipilih oleh FA sebagai salah satu venue netral penyelenggaraan semifinal Piala FA. Kedua kelompok suporter diperbolehkan menonton pertandingan ini dimata fans Liverpool ditempatkan di tribun Utara dan Barat(Lepping Lane) yang mampu menampung 24.256 orang, sedangkan suporter Nottingham Forest mendapat akomodasi untuk menempati tribun Timur dan Selatan(Spion Kop) yang mampu menampung 29.800 penonton. Meskipun suporter Liverpool pada dasarnya lebih banyak, namun mereka mendapat jatah kapasitas tribun yang lebih kecil.

Lepping Lane, tribun yang ditempati suporter Liverpool ketika terjadi Tragedi Hillsborough. Source by mirror.co.uk

Suporter kedua tim sudah banyak berdatangan ke Stadion Hillsborough sejak pagi harinya. Animo suporter semakin meningkat tatkala waktu kickoff semakin dekat. Sekitar 30 menit menjelang peluit tanda dimulainya pertandingan berbunyi, kerumunan suporter semakin banyak dan antrian penonton menjadi tidak teratur. Keadaan diperparah karena para suporter berebut masuk kedalam stadion hingga membuat petugas keamanan kewalahan menghadapinya. Diluar stadion masih terdapat ribuan suporter lainnya terjebak belum dapat masuk karena hanya ada dua pintu gerbang stadion yang dibuka.


Setiap waktu yang bergulir, para fans yang diluar stadion berebut masuk kedalam sehingga menyebabkan penonton yang didalam semakin terjepit dan kesulitan bernapas. Upaya memecah konsentrasi massa dilakukan pihak kepolisian dengan membuka satu gerbang masuk tambahan. Namun kebijakan ini tak membuat keadaan semakin kondusif. 

Kondisi area tribun berdiri sudah mengalami overload. Para suporter semakin berjejalan memasuki stadion dan terlibat aksi saling dorong hanya untuk mendapatkan sejengkal ruang gerak. Kondisi semakin parah ketika ratusan penonton mulai berebut melompati pagar pembatas lapangan untuk menyelamatkan diri tak lama setelah peluit kick off ditiup oleh wasit. Banyak suporter yang kesulitan bernafas akibat membludaknya penonton didalam tribun. 

Para suporter Liverpool menyelamatkan koleganya yang menyelamatkan diri dari tribun yang sudah penuh dengan memanjat ke tribun diatasnya. Source : mirror.co.uk

Akibat dari kejadian tersebut, 96 orang meninggal (94 suporter mati pada hari kejadian), serta 766 penonton terluka dengan sekitar 300 diantaranya membutuhkan perawatan di rumah sakit. Akibat lain dari tragedi ini lahirlah Taylor Report yang memberikan perubahan besar terhadap struktur stadion di Inggris dan penerapan tribun yang sepenuhnya menggunakan kursi untuk setiap penonton yang datang ke stadion.

C. Safe Standing, Pilihan Moderat Untuk Suporter dan Klub

Taylor Report memberikan perubahan besar dalam hal konstruksi stadion. Laporan tersebut mengklaim fungsi tribun berdiri yang berbentuk semacam ‘teras’ secara instrinsik tidaklah aman bagi penonton. Hingga saat ini tidak ada satupun klub Premiership(kompetisi sepakbola teratas di Inggris) yang pesertanya memiliki homebase dengan sebagian tempat penontonnya merupakan tribun berdiri.

Kompetisi sepakbola tersohor didunia tersebut menerapkan rekomendasi/regulasi yang tertuang dalam Safety of Sports Ground Act 1975 dan The Football Spectators Act (1989), salah satunya berisi maklumat stadion-stadion tersebut harus memiliki tempat duduk(single seat) untuk masing-masing penonton yang bertiket. Penerapan aturan ini diarahkan oleh Sekretaris Negara dan diawasi Football Licensing Authority(sekarang namanya berubah menjadi the Sport Grounds Safety Authority).

Sejak awal tahun 1990an puluhan stadion di Inggris melakukan perbaikan masif demi mematuhi regulasi yang telah ditetapkan. Area tribun berdiri dihapus dan diganti dengan pemasangan bangku-bangku penonton. Meski demikian aturan ini tidak lantas disepakati oleh berbagai pihak.

Beberapa kelompok suporter melakukan kampanye untuk menolak penghapusan area berdiri didalam stadion. Mereka memiliki alasan berupa konsep desain pada area tribun berdiri yang memiliki jaminan akan keselamatan sesuai dengan peraturan dan pedoman keselamatan yang telah ditetapkan. Konsep ini pada akhirnya dilarang di Inggris dan Wales, namun diperbolehkan untuk digunakan di sebagian negara Eropa daratan seperti Jerman.

Hal ini terjadi karena UEFA dan FIFA hanya mewajibkan penggunaan tribun berkursi sepenuhnya untuk pertandingan internasional (UEFA Champions League, Euro Cup, dll) namun tidak untuk pertandingan di kompetisi domestik.

Diluar Inggris beberapa stadion dirancang dengan baik dan aman untuk mengakomodasi permintaan suporter akan tribun berdiri (standing areas). Salah satu negara yang mengembangkan bentuk alternatif penggunaan standing area adalah Jerman. Negara federasi yang beribukota di Berlin tersebut memiliki banyak stadion besar yang dapat menampung sejumlah area untuk penonton yang berdiri tatkala klubnya bertanding di liga domestik.

Stadion tersebut juga dirancang untuk dapat bertransformasi ketika klub bertanding di kompetisi domestik dan internasional. Maka ketika klubnya kebagian jatah kandang pertandingan Liga Champions tribun berdiri tersebut akan dikonversi dengan memasang kursi penonton satu persatu. Sebaliknya selepas pertandingan tersebut, bangku stadion akan dilepas dan tribun akan kembali berbentuk ‘terrace’ untuk digunakan sebagai area penonton berdiri.

Sebagai contoh, Stadion Signal Iduna Park yang menjadi markas Borussia Dortmund hanya berkapasitas 65.590 tempat duduk sebagai homebase pertandingan Liga Champions Eropa. Namun ketika klub berjuluk Die Borussen bertanding di kompetisi domestik, kapasitas tribun keseluruhan akan bertambah menjadi 80.645 penonton, dengan 25.000 penontonnya diantaranya berdiri sepanjang pertandingan.

Area penonton di tribun berdiri Stadion Signal Iduna Park. Source : stadionwelt.de via skyscrapercity.com

Berbagai inovasi dilakukan oleh klub-klub di Jerman untuk mengadaptasi aturan UEFA mengenai pemasangan bangku stadion untuk pertandingan Liga Champions, sekaligus menampung aspirasi suporter untuk penyediaan area berdiri bagi penonton.

Beberapa klub Bundesliga seperti Schalke 04, Borussia Dortmund, dan Borussia Monchengladbach menggunakan kursi temporer yang dapat dibongkar pasang secara mudah. Bangku nonpermanen tersebut akan dilepas ketika klub-klub tersebut bermain di liga domestik dan tribun yang kosong dan berbentuk terasiring akan digunakan sebagai area berdiri bagi penonton, dengan antar lapisan teras dipasang semacam pagar pembatas, khusus hanya untuk digunakan pada pertandingan diluar kejuaraan yang diadakan oleh UEFA/FIFA.

Selain model diatas, beberapa klub Bundesliga lain menggunakan kursi lipat yang dipasang pada rangka aluminium. Beberapa klub yang menggunakan motede ini adalah Hamburg SV, VfB Stuttgart, dan Fortuna Dusseldorf.

Sementara itu hampir separuh klub anggota Bundesliga lainnya mengkonversi tribun berdiri kedalam tribun bertempat duduk(all seater) dengan menggunakan rail seats. Bangku-bangku yang terbuat dari logam tersebut akan dirangkai kedalam sebuah rangka logam setinggi pinggang penonton yang duduk dibarisan belakangnya. Rangka bangku ini dipasang permanen dengan jarak bangku sama dengan standar kursi penonton pada umumnya.

Ketinggian rangka bervariasi antara 90-115cm. Ketika pertandingan domestik kondisi kursi terlipat dan dikunci pada rangka sehingga akan menyisakan ruang yang cukup bagi penonton untuk berdiri. Sebaliknya ketika stadion digunakan sebagai tempat penyelenggaraan pertandingan UEFA, kursi yang dilipat akan kembali dibuka, dan seluruh tribun sekarang memiliki kursi untuk tiap penonton. Setelah pertandingan kursi akan kembali dilipat dan digunakan untuk pertandingan domestik.

Homebase klub Jerman yang menggunakan konfigurasi rail seats adalah Werder Bremen , Hamburg SV , VfL Wolfsburg , Hannover 96 , TSG 1899 Hoffenheim , VfB Stuttgart , Bayer Leverkusen dan Borussia Dortmund.

Konfigurasi Rail Seats di kandang Hannover 96, HDI Arena yang memungkinkan penonton berdiri atau duduk. Source : argylefanstrust.com

Salah satu venue Piala Dunia 2006, Olympic Stadium Berlin merupakan stadion dengan seluruh tribun yang berkursi. Namun bilamana diperlukan(dan diharapkan) stadion ini dapat memenuhi permintaan untuk menyediakan area berdiri bagi penontonnya. Terdapat 2 blok tribun di sisi kurva stadion yang dapat digunakan untuk standing area yang dapat menampung hingga 30% lebih banyak penonton dari kapasitas yang sebenarnya. 

Salah satu argumen yang mendukung penggunaan safe standing di Bundesliga adalah kemungkinan adanya harga tiket yang murah dan terjangkau bagi penggemarnya. Harga tiket pertandingan Bundesliga Jerman terkenal lebih murah dibandingkan Liga Premier Inggris. Klub Bundesliga juga memiliki empati yang tinggi terhadap penggemarnya.

Mereka menjual tiket di area tribun berdiri dengan harga sekitar 60% lebih murah dibandingkan tiket di tribun berkursi. Harga tiket yang murah tersebut membuat semakin banyak penonton yang hadir di stadion. Musim lalu rata-rata dalam setiap pertandingan Bundesliga ditonton sebanyak 42.609 orang, terbanyak diantara liga sepakbola di seluruh dunia.

Sejak belasan stadionnya digunakan sebagai venue Piala Dunia 2006, hingga saat ini belum terjadi insiden fatal berskala masif yang terjadi pada stadion-stadion Bundesliga. Akses migrasi penonton yang terstruktur, serta kualitas fisik sarana dan prasarana yang modern turut andil dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman didalam stadion.

Penolakan Safe Standing 
Sampai dengan saat ini penggunaan safe standing masih belum diberlakukan di Inggris. Berbagai argumen dikemukakan untuk menolak pemanfaatan safe standing di Inggris dan Wales. Beberapa alasan utama yang mengemuka adalah terkait faktor keselamatan, gangguan keamanan, permintaan(perubahan peraturan/undang-undang) dan keragaman.

Faktor keselamatan menjadi alasan penting pemasangan bangku di setiap sudut tribun penonton. Hal ini sesuai dengan acuan yang digunakan pada Taylor Report bahwa tribun yang berkursi sepenuhnya memberikan kemudahan dalam pengawasan jumlah penonton dan kapasitas stadion yang sebenarnya. 

Potensi insiden yang diakibatkan oleh gerakan tak terkontrol pada kerumunan massa, dapat dihindari dengan pembuatan akses masuk/keluar tempat penonton yang memadai berupa rail seats yang dilengkapi adanya palang pemisah antara baris kursi. 

Kampanye Dukungan Penggunaan Safe Standing
Aksi serius untuk mendukung penggunaan Safe Stading di Inggris terjadi pertama kali pada tahun 1999. SAFE(Standing Area For Eastlands) Awalnya bertujuan untuk mengamankan area tribun berdiri di stadion baru yang akan dibangun di Kota Manchester(stadion tersebut selesai dibangun pada tahun 2002 dan diberi nama sebagai City of Manchester Stadium). Dengan dukungan dari Football Supporters Association, dikemudian hari SAFE merubah kepanjangannya menjadi Standing Area For England.

Pada tahun 2001 Football Supporters Association dan National Federation of Football Supporters Clubs bergabung menjadi Football Supporters Federation (FSF). Setahun berikutnya materi Safe Standing menjadi bahan kampanye. 

The Safe Standing Roadshow bekerjasama dengan FSF untuk mengkampanyekan penggunaan rail seats pada stadion-stadion di Inggris. FSF memandang rail seats sebagai solusi aman untuk untuk digunakan stadion-stadion yang menjadi homebase klub-klub Championship dan Premier League. Meski demikian untuk pertandingan di Liga Champions Eropa, klub-klub dapat memasang kursi secara temporer pada area yang sebelumnya digunakan sebagai tribun berdiri. Roadshow juga memberikan rekomendasi kepada beberapa klub untuk menggunakan tribun berdiri yang aman(safe standing).

Kampanye penggunaan Rail Seats oleh Safe Standing Roadshow di Stadion Molineux. Source : http://www.safestandingroadshow.co.uk

Kampanye didunia maya lewat website http://www.safestandingroadshow.co.uk sampai dengan saat ini masih terus berlangsung. Aksi yang mereka lakukan sangat inovatif, tidak hanya memberikan proposal penggunaan safe standing yang aman dengan penerapan rail seats di stadion, tetapi juga mempraktekannya langsung dengan membawa contohnya ke stadion dalam bentuk nyata.

Salah satunya adalah kunjungan Safe Standing Roadshow dan FSF ke Stadion Molineux pada 19 Mei 2011 dan dihadiri oleh Wolverhampton Wanderers ‘Fans’ Parliament. Fans Parliament merupakan representasi dari kelompok suporter klub berjuluk Wolves tersebut.

Selain bertemu dengan kelompok suporter, kunjungan tersebut dihadiri oleh perwakilan manajemen klub seperti Marketing Director Matt Grayson, anggota eksekutif klub seperti CEO Jez Moxey, Stadium Manager Steve Sutton dan Head of Ticketing and Membership Lynne O’Reardon. Sebagai hasil dari pertemuan tersebut, pihak klub tertarik untuk mengadakan pembicaraan lanjutan dengan FSF mengenai opsi penggunaan safe standing di stadion.

Pada bulan Mei 2013, sekitar 25 klub di Inggris dan Wales menyatakan dukungan untuk penggunaan tribun berdiri yang aman. Beberapa klub Premier League yang menyatakan dukungannya antara lain, Manchester City, Swansea City, dan Aston Villa. Pada bulan Desember 2013, otoritas liga mengirimkan dokumen ke setiap klub untuk meminta pendapat mereka seputar penggunaan area safe standing di stadion.

Untuk saat ini izin penggunaan tribun berdiri di Inggris masih belum dikabulkan. Hal ini terkait dengan masih adanya rasa sensitif terhadap tragedi Hillsborough yang belum hilang. Namun penggunaan tribun berdiri di masa yang akan datang memiliki kemungkinan untuk diterima oleh para fans sebagai bagian dari nostalgia.

D. Penggunaan Tribun Berdiri untuk Stadion Sepakbola Indonesia

Stadion sepakbola di Indonesia telah lama mengaplikasikan penggunaan area berdiri bagi penontonnya. Sejak selesai dibangun sekitar tahun 1926 tersebut, hampir seluruh area penonton merupakan tribun berdiri yang tersusun oleh lapisan tanah dan rumput. Kondisi ini terjadi selama puluhan tahun lamanya hingga akhirnya pada awal tahun 90an, markas klub Persema Malang tersebut mendapat sentuhan renovasi dimana area tribun berdiri yang terbuat dari rumput ‘diplester’ menjadi tribun terasiring(non seater).

Landscape Stadion Gajayana Malang pada tahun 1950. Source : malang.endonesa.net

Selain Stadion Gajayana, hampir seluruh stadion di Indonesia memiliki area tribun berdiri bagi penontonnya. Hal ini terjadi karena stadion-stadion tersebut hampir seluruh area penontonnya bukanlah tribun yang memiliki kursi untuk setiap penontonnya.

Hingga saat ini baru ada sedikitnya lima stadion dengan masing-masing penontonnya mendapatkan fasilitas untuk menempati kursi ‘pribadi’ seperti Gelora Bung Karno, Stadion Palaran Samarinda, Stadion Utama Riau, Stadion Si Jalak Harupat dan Gelora Bandung Lautan Api.

Pada dasarnya model tribun berdiri yang lazim dipakai pada banyak stadion di Indonesia dapat digunakan penonton untuk duduk. Namun faktor kenyamanan barangkali perlu diperhatikan. Pada musim hujan tribun yang beratap langit itu akan basah dan tak dapat dipakai penonton untuk duduk secara nyaman. Bahkan lantai tribun yang basah oleh hujan terkadang dapat membahayakan suporter, terutama bagi penonton yang menggunakan alas kaki yang licin.

Salah satu alasan penting yang mendasari stadion sepakbola di Indonesia memiliki banyak tribun berdiri adalah faktor efisiensi. Pembangunan stadion dimasa sebelum tahun 2000, bertumpu pada anggaran dana yang tersedia. Alhasil stadion dibangun dengan desain, kapasitas beserta fasilitas ‘seadanya’. Perkecualian untuk Gelora Bung Karno, stadion-stadion tersebut memiliki desain ‘minimalis’ dengan menyediakan satu tribun beratap(biasanya dipakai untuk kelas VIP/VVIP), sementara sisanya hanya bertudung langin dan awan.

Hingga saat ini terdapat beberapa model tribun berdiri yang telah digunakan pada stadion sepakbola di Indonesia berdasarkan bentuk dan materialnya, diantaranya :
– Tribun terasiring(berundak-undak) yang terbuat dari beton, cor-coran semen, dan lainnya.
– Tribun rumput(khusus di Stadion Mandala Jayapura di sebut sebagai ‘tribun gunung’)
– Tribun ‘datar’ dan terletak di sisi sentelban

Salah satu venue sepakbola di Indonesia yang menggunakan area penonton berdiri berbentuk terasiring adalah Stadion Lebak Bulus Jakarta. Stadion yang rencananya akan dirobohkan imbas dari proyek MRT(Mass Rapid Transit) memiliki dua area berdiri yang masing-masing terdapat pada belakang gawang.

Tribun berdiri di Stadion Lebak Bulus Jakarta. Source : goal.com

Kesan saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di tribun ini sejujurnya tidak merasa nyaman 100%. Pasalnya kondisi tribun hanya beralas cor-coran semen atau beton yang disusun terasiring dengan selisih ketinggian antar teras hanya sekitar 5 cm. Pada tribun yang tak beratap tersebut biasanya digunakan untuk area berdiri bagi penontonnya. Tak ada space yang cukup untuk duduk, kecuali kondisi tribun lowong dan tak banyak penonton didalamnya.

Meski berdiri tak banyak view yang ditawarkan ke arah lapangan. Alternatif terbaik pilihlah berdiri pada teras terbawah yang berada paling depan dan dekat dengan pagar pembatas lapangan. Bagi penonton yang tidak memiliki tinggi badan (maaf) diatas standar, rasanya lokasi inilah tempat terbaik untuk menyaksikan jalannya pertandingan.

Selain model tribun berdiri berbentuk terasiring diatas, terdapat pula area tribun berdiri yang ‘natural’. Beberapa stadion di Indonesia masih terdapat zona tribun alami yang menggunakan rumput seperti Stadion Mandala Jayapura, Stadion Benteng Tangerang, dan lainnya.

Sebenarnya model tribun seperti ini sudah jarang digunakan untuk laga sekelas Liga Super Indonesia(ISL). Rata-rata stadion yang dijadikan sebagai homebase klub setidaknya memiliki tempat duduk yang terbuat dari cor-coran beton atau semen. Terkecuali untuk Stadion Mandala Jayapura, markas klub Persipura tersebut masih memiliki tribun ‘gunung'(tribun yang terletak di ketinggian/perbukitan dan beralas rumput). Namun stadion yang menjadi venue AFC Cup 2011 tersebut masih memiliki beberapa tribun lain yang memenuhi syarat untuk pertandingan sekelas AFC Cup.

Model tribun berdiri yang berbentuk sebidang lahan yang dicor beton, dengan ketinggian yang nyaris rata juga digunakan dibeberapa stadion sepakbola Indonesia. Beberapa stadion yang menggunakan model ini diantaranya Stadion Parikesit Balikpapan dan Stadion Kanjuruhan yang baru saja merampungkan pembangunan tribun berdiri dibawah tribun ekonomi.

Menurut Hidayat, Aremania yang bermukim di Kalimantan menyatakan bahwa model tribun berdiri dengan ketinggian nyaris rata tersebut tidak nyaman untuk digunakan suporter berdiri. Tatkala menyaksikan tim pujaannya tandang ke Stadion Parikesit di Balikpapan, ia menempati area berdiri yang terletak di belakang gawangnya. Bayangan menonton pertandingan sepakbola dengan nyaman akhirnya sirna.

Di tribun yang ketinggiannya flat tersebut, hanya penonton yang berada didepan yang dapat menikmati jalannya pertandingan, sedangkan suporter dibelakangnya terpaksa berjinjit untuk sekedar melihat bola bergulir kesana kemari. Tribun model seperti ini nyaris tidak memihak suporter yang memiliki tinggi badan ‘dibawah rata-rata’.

Tribun Berdiri di Stadion Kanjuruhan. Source : Mbak Tiatara Aremanita

Bahkan untuk tribun berdiri di Stadion Kanjuruhan masih ditambah pula keberadaan pagar pembatas yang terlalu tinggi(mencapai 4 meter) dan mengganggu pandangan penonton secara langsung ke arah lapangan. Selain dialami oleh penonton yang berada pada areal tribun berdiri, hal ini akan dialami pula oleh suporter yang duduk pada teras terbawah tribun ekonomi.

Selain masalah kenyamanan, faktor keamanan perlu diperhatikan pada penggunaan model tribun seperti ini. Dengan ketinggian tribun yang sama, maka akan membuat penonton lebih mendekat kearah pagar pembatas. Yang patut diwaspadai adalah potensi tindak kriminal seperti pencopetan dan pelecehan seksual dengan memanfaatkan kondisi tribun yang sedang ramai. Apalagi hampir seluruh tribun stadion di Indonesia tidak dilengkapi kamera pengawas cctv yang dapat memantau dan mendeteksi kondisi area penonton.

Untuk mengatasi potensi gangguan keamanan dan kenyamanan diatas diperlukan beberapa perbaikan seperti mengkonversi area tribun berdiri menjadi tribun dengan tempat duduk untuk masing-masing penonton(jangka panjang). Opsi ini akan membutuhkan biaya yang mahal dan proses yang panjang. Namun opsi menggunakan model ‘safe standing’ yang terdapat pada stadion-stadion di Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya dapat menjadi alternatif penyelesaian yang lebih murah dan efisien.

Sedangkan untuk jangka pendek klub dapat menerapkan standar/regulasi rasio dan pembatasan penonton yang dapat menempati tribun berdiri. Tribun berdiri hanyalah khusus ditempati oleh penonton yang memiliki tiket untuk menempati area tersebut, bukan ‘limpahan’ penonton dari tribun kelas diatasnya yang telah membludak kapasitasnya. Petugas panpel(panitia pelaksana pertandingan) dapat pula memasang kamera cctv dan petugas keamanan didalam area tribun berdiri untuk memantau situasi yang terdapat didalam tribun.

Barangkali kita cukup ‘beruntung’, tragedi di Stadion Hillsborough, Heysel, dan lainnya tidak terjadi di Indonesia. Kita tentunya tak ingin tragedi berskala besar demikian terulang di Indonesia. Cukup kepedihan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, 13 Juni 2005 silam adalah yang terakhir kali di Indonesia. Kita masih memiliki cukup waktu untuk mencegah hal ini terjadi di Indonesia. 

E. List Stadion dengan Tribun Berdiri

Statistik stadion-stadion di Eropa yang menggunakan area tribun berdiri :

Statistik penggunaan area tribun berdiri di Stadion sepakbola Eropa. Source : stadiumguide

Berikut adalah stadion-stadion yang mengakomodasi penggunaan area tribun berdiri yang aman di Jerman :

 Stadion yang menggunakan tribun berdiri di Jerman. Source : stadiumguide

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.