Beranda Fokus Arema dan Konflik 4 Tahun yang Percuma

Arema dan Konflik 4 Tahun yang Percuma

Tidak ada Aremania yang menginginkan kemelut berkepanjangan dalam tubuh Arema. Disaat klub lain seperti Persib aktif bertransformasi menuju klub sepakbola profesional sepenuhnya, nasib tim Singo Edan masih terombang-ambing dalam arus pusaran konflik.

Arema IPL

Krisis multidimensi yang terjadi dalam tubuh Arema telah mencapai titik kronis. Sengketa legalitas di tubuh Arema masih belum selesai. Tiga tahun lebih dihabiskan dalam prahara untuk mencari pengelola sejati klub berjuluk Singo Edan tersebut.

Dampak yang ditimbulkan cukup fatal. Konflik yang berkepanjangan mengganggu stabilitas klub. Roda perekonomian klub terhambat dan kerugian finansial harus ditanggung Arema. Tak sedikit uang yang terbuang percuma sebagai ekses periode negatif yang dialami klub yang berusia 27 tahun tersebut.

Dalam konflik yang masih terus berjalan, kita harus waras bahwa roda nasib akan terus berputar. Denyut nadi kehidupan Arema tentulah tak boleh berhenti sampai disini. Sekalipun upaya hukum dari kedua kubu masih berjalan di pengadilan, agenda untuk membesarkan klub ini harus tetap aktif.

Arema yang kita cintai ini butuh energi positif sebagai salah satu prasyarat untuk membangun klub kesayangan kita yang ‘sedang berjalan di tempat’.

Arema sejak lama dikenal sebagai barometer klub profesional di Indonesia. Predikat tak resmi tersebut disandang sebagai penghargaan diantara sedikit klub yang mampu mengikuti kompetisi tanpa dukungan pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah(APBD).

Kini predikat tersebut mulai tergerus perlahan. Beberapa klub lain ‘mengekor’ Singo Edan dan menunjukkan kemampuan bertahan tanpa dibekali ‘subsidi’ dari anggaran daerah setempat.

Saat ini kompetisi telah memasuki masa rehat. Tapi itu tak berlangsung lama, beberapa bulan kemudian gong kompetisi musim baru ditabuh. Pada saat itu seluruh peserta akan kembali bertarung memperebutkan supremasi sepakbola tertinggi tanah air.

Untuk meraih prestasi di musim depan tentu tak semudah membalik telapak tangan. Tim Singo Edan memiliki segudang pekerjaan rumah yang menumpuk dan harus diselesaikan.

Persoalan nonteknis berupa kendala finansial wajib diantisipasi sejak dini bilamana pengalaman buruk musim-musim sebelumnya tak ingin terulang kembali. Lagipula tantangan dan kebutuhan di musim depan akan terasa lebih berat dibandingkan musim sebelumnya.

Selain persoalan teknis mengikuti kompetisi, pretensi untuk membangun stadion internasional, hingga isu kemandirian klub masih membekas dalam memori. Untuk mewujudkan impian yang telah tersiar para stakeholder sepatutnya fokus bekerja mewujudkan cita-citanya.

Arema semestinya kita jaga agar tidak terpelosok kedalam jurang kehancuran dengan hanya bersikap pasif dan terjebak pola pikir yang negatif.

Aegroto dum anima est, spes est. Selama ada kehidupan, masih ada harapan.

1 KOMENTAR

  1. Sudah seharusnya Aremania yg pro aktif atas nama Arema dan hanya demi Arema. Mempelajari dan melihat dari sisi legalitas atas sengketa yang terjadi, ada peluang untuk menyelesaikannya. Aremania sebagai pihak yang memang berjuang untuk Arema punya kans untuk menyelesaikan. Dari cara terbaik dengan menengahi atau sampai dengan cara terkeras dengan mengakuisisi. Seperti Anda bilang, masih ada jalan, dan jalan itu terbuka.

    Pertanyaannya: Kapan Aremanisa bisa bergerak sinergis dan nyata untuk itu!?

    Pasti ada nama besar di Aremania yang mampu dan berada di posisi dimana dia dapat memobilisasi Aremania utk menekan manajemen agar sengketa ini berakhir.

    Lelah …

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.