Beranda Memorabilia Kliping Media KLIPING: Arema 86, Sponsor Djarum Di Kandang Bentoel

KLIPING: Arema 86, Sponsor Djarum Di Kandang Bentoel

0
Salah satu penampilan Arema 86 dalam uji coba melawan PSSI B akhir bulan lalu di Malang. Effendi (7) bekas pemain Arseto yang hijrah ke Arema.
Salah satu penampilan Arema 86 dalam uji coba melawan PSSI B akhir bulan lalu di Malang. Effendi (7) bekas pemain Arseto yang hijrah ke Arema.

Malang akhirnya punya klub Galatama. Tapi bukan “milik” Bentoel perusahaan rokok terkenal asal kota itu. Malahan, Djarum Kudus, perusahaan rivalnya Bentoel, yang bisa bebas melakukan promosi di Arema 86, klub Galatama yang baru lahir di kota sejuk itu.

Rupanya Bentoel kurang berminat menjadi penyandang dana buat klub Galatama, tanpa menyadari bahwa “ekspansi” dari Kudus. Sehingga tak perlu heran kalau nantinya, Djarum Kudus yang menghiasi kostum pemain-pemain Arema 86.

Apakah betul Bentoel tidak berminat menjadi sponsor? Yang jelas, penentuan sponsor buat 5 klub baru anggota Galatama memang diatur dari kantor Liga di Senayan. Pengurus Liga yang mempertemukan antara pengurus klub dan perusahaan sponsor.

“Liga wajib ikut menentukan sponsor, supaya kelangsungan hidup klub-klub baru itu terjamin. Semua klub nantinya akan mendapat bantuan semacam itu, kecuali klub yang memang sudah punya sponsor kuat atau merupakan bagian promosi dari suatu perusahaan,” ujar Sekretaris Liga Andi Darussalam.

Meniru Barbatana

Manajer tim, Dirk Sutrisno, menjelaskan tentang program pembinaan klubnya yang akan dimulai dengan latihan fisik sebanyak 60 persen dari jadwal latihan. Sistem pembinaan lebih banyak meniru PSSI Garuda ketika dilatih pelatih Brasil, Barbatana. Semakin mendekati waktu kompetisi, porsi latihan fisik makin dikurangi.

Sekarang ini Arema memiliki 30 pemain, mereka ditampung dalam sebuah asrama di Lanud Abdurachman Saleh, pangkalan TNI-AU di Malang.

Menurut Dirk, yang pernah menjadi pemain PSIS Semarang 1959, latihan yang diterapkan Arema 86 bukan hanya membina fisik dan teknis para pemain, tetapi juga mental, dedikasi, dan disiplin, sehingga mereka benar-benar menjadi pemain yang profesional.

Selain pemain-pemain asal Malang, klub itu juga menggunakan pemain pindahan dari Arseto (Mahdi Haris, Effendi Azis), Makassar Utama (Kusnadi Ramaluddin), Galasiswa (Erwin Yoyo, Markus), dan PSM Ujungpandang (Nadim dan Mukrim Akbar).

Dirk tidak mau menyebutkan secara pasti berapa besar transfer pemain-pemain asal Galatama. Ia hanya menyebutkan bahwa untuk Kusnadi Kamaluddin sekitar Rp 1,1 juta.

“Kalau dari Arseto, itu berkat kerjasama yang baik dengan klub Galatama yang berdomisili di Solo. Kami sudah cukup kenal dengan pengurus Arseto, sehingga bisa dapat 2 pemain mereka,” ujar ayah dari 5 orang anak ini.

Debut Yang Mengecewakan

Setelah 16 hari para pemain berkumpul di Malang, Arema 86 tampil dalam uji coba melawan klub Korea Selatan Halleluyah dan klub Galatama dari Surabaya, Niac Mitra, 20 dan 21 Juli di Stadion Malang. Sayang, debut buat pendatang baru dalam Liga PSSI itu mengecewakan.

Mereka kalah 1-5 dari klub Korsel, setelah itu dipecundang 0-2 oleh bakal saingannya dalam kompetisi Galatama nanti, Niac Mitra.

Penampilan perdana itu membuat hati penggemar sepakbola di kota yang berhawa sejuk tersebut yang tadinya berbunga-bunga, menjadi kuncup kembali. Apalagi ketika harus kalah 1-3 melawan PSSI B, 26 Juli 1987.

“Tujuan kami bukan untuk pertandingan ini, tapi menghadapi kompetisi Galatama tiga bulan mendatang,” ujar asisten pelatih Slamet Pramono selesai pertandingan menghadapi Halleluyah.

Bekas gelandang PSSI 1969-1970 itu mengatakan, pemain yang turun bukan pemain inti karena klub tersebut memang belum menentukan siapa yang bakal tampil dalam kompetisi mendatang.

“Kami masih dalam tahap seleksi pemain. Penampilan Arema 86 pun baru sekitar 25 persen,” ujar Slamet yang menjadi pembantu dari pelatih Sungkowo Sudhiarto. Diakuinya bahwa kelemahan masih terlihat pada semua sektor dan untuk itu masih perlu ditambah sekitar 12 pemain lagi.

Sementara itu, bekas pelatih Persema Malang, Nino Sutrisno, menilai bahwa Arema sebenarnya belum siap untuk menjadi sebuah klub Galatama. Meskipun ketua umum Arema, Ir Lucky Acub Zainal mengatakan bahwa klub itu tetap berdiri dan jalan terus.

(Penulis: Herman Yos Kiwanuka, Sam Lantang – Tabloid BOLA, edisi no. 180, 7 Agustus 1987)

Penulis: Caesar Sardi
Editor: Suryo Wahono
Sumber: Tabloid BOLA, edisi no. 180, 7 Agustus 1987

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.