Beranda Fokus Saatnya Singkirkan Diskriminasi dan Rasisme

Saatnya Singkirkan Diskriminasi dan Rasisme

Ketok palu Komdis PSSI kembali memakan korban. Panpel Klub Arema dihukum denda sebesar Rp 250 juta imbas nyanyian rasis yang didengungkan suporter tuan rumah kala pertandingan Arema vs Persija (18/5).

2014_12_01_rasis_aremania
Aremania harus menerima sanksi atas tuduhan rasisme

Keputusan yang diambil oleh komisi yang dipimpin oleh Hinca Panjaitan tersebut menuai reaksi beragam. “Biarlah sanksi ini menjadi tumbal ke depan agar persoalan rasisme ini dibahas dan dirumuskan oleh semua stake holder“, kata Sudarmaji media officer Arema.

Sudarmaji juga memberikan saran kepada PSSI untuk melakukan road show yang mempertemukan PSSI, operator kompetisi maupun suporter masing-masing klub untuk memahami makna rasisme dalam sepakbola, serta melarang aksi serupa dalam setiap pertandingan dibawah lingkungan PSSI.

Di kalangan grassroot terkadang timbul multitafsir dalam memahami makna rasisme dalam sepakbola. Sebagian diantara para suporter menganggap pengertian rasisme berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang menafsirkan praktek segregasi berdasarkan ras manusia.

Selain Arema, ‘korban’ peraturan Komdis tak hanya menimpa klub yang didukung Aremania tersebut. Klub Persib Bandung menuai hukuman denda sebesar Rp. 250 juta akibat nyanyian rasis pendukungnya, dengan melontarkan makian kepada wasit yang bertugas dalam pertandingan melawan Semen Padang(16/2).

Regulasi ISL 2014 sendiri turut mengatur masalah rasis. Pasal 59 berisi Hal-hal yang mengganggu jalannya Pertandingan seperti flare, fireworks, smoke bomb, spanduk yang bernada rasis, yel-yel serta hal lain dapat dikategorikan sebagai sebuah pelanggaran disiplin dan akan dikenakan sanksi sesuai dengan Kode Disiplin PSSI.

Sementara dalam Kode Disiplin PSSI lebih memperinci hukuman yang ditujukan kepada pelaku rasisme.

Pasal 59 ayat pertama mengatur ancaman hukuman terhadap tingkah buruk melakukan tindakan rasis dengan bunyi “Siapapun yang melakukan tindakan rasis berupa tingkahlaku buruk, diskriminatif atau meremehkan seseorang atau melecehkan seseorang dengan cara apapun dengan tujuan menyerang atau menjatuhkan nama baik orang tersebut yang terkait dengan pertandingan, warna kulit, bahasa, agama atau suku bangsa atau melakukan tindakan rasisme lainnya dengan cara apapun, dijatuhi hukuman sebagai berikut :

  • Apabila pelaku tindakan rasis tersebut adalah pemain, maka hukumannya adalah sanksi larangan ikut serta dalam pertandingan paling tidak 5 (lima) kali di setiap jenjang pertandingan;
  • Apabila pelaku tindakan rasis tersebut adalah suporter atau pendukung klub, maka hukumannya adalah sanksi larangan memasuki stadion sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan bagi suporter atau pendukung klub tersebut dan sanksi denda sedikitnya Rp. 200.000.000 (dua ratus juta rupiah) yang ditanggung oleh klubnya
  • Apabila pelaku tindakan rasis tersebut adalah ofisial klub, maka hukumannya adalah sanksi denda paling sedikit Rp 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah).

Dalam ayat 2 pada pasal 59 Kode Disiplin PSSI juga memberikan hukuman kepada penonton apabila memasang bendera dengan tulisan slogan berbau rasis, melakukan tindakan rasisme dan atau bersikap melecehkan atau merendahkan orang lain dengan cara apapun pada saat pertandingan berlangsung. Hukuman yang diberikan berupa sanksi denda sedikitnya Rp. 300.000.0000 (tiga ratus juta rupiah) kepada organisasi sepakbola atau klub yang didukung si pelaku, serta sanksi bermain tanpa penonton oleh Komisi Disiplin PSSI dan atau Komisi Banding PSSI. Bahkan apabila penonton  tidak dapat diketahui asal klubnya, maka klub tuan rumahlah yang akan menanggung hukuman tersebut.

Pada ayat 3 dan 4 pasal yang sama, PSSI dapat menghukum penonton yang melakukan aksi rasis dengan larangan menonton pertandingan sepakbola selama 2 tahun. Selain itu klub yang terhukum dapat terkena sanksi pengurangan 3 dan 6 poin untuk 1-2 pelanggaran yang pertama. Namun untuk pelanggaran ketiga kalinya klub terancam sanksi degradasi ke divisi dibawahnya.

Selain mengatur tingkah laku buruk berupa tindakan rasis, dalam Kode Disiplin PSSI mengontrol Hak Kebebasan Individu. Segala tingkah laku buruk dalam pertandingan sepakbola berupa intimidasi, penghinaan atau fitnah dapat dijatuhi hukuman serius.

Kode Disiplin PSSI Pasal 60 ayat 1 berbunyi larangan bertingkah laku buruk dengan melakukan intimidasi, penghinaan, penistaan, tuduhan tanpa dasar, dan atau fitnah yang dilakukan dengan cara apapun tanpa menggunakan kekuatan fisik dengan tujuan menyerang nama baik dan atau kehormatan dan martabat sesorang, pemain, ofisial tim, klub, perangkat pertandingan, penonton, institusi PSSI dan atau pihak-pihak lain yang melakukan aktivitas yang berhubungan dengan sepakbola yang dilakukan oleh seseorang atau dilakukan sekelompok orang adalah perbuatan tidak sportif dan melanggar hak dasar kebebasan individu yang hakiki.

Denda akan dijatuhkan sebesar Rp 30juta akibat tingkah laku buruk diatas yang dilakukan oleh pemain (ayat 2) dan ofisial klub(ayat 3). Sementara bagi pelaku diskriminasi non pemain dan ofisial klub mendapat hukuman sanksi larangan beraktifitas dalam lingkungan sepakbola minimal 1 tahun(ayat 4).

2014_12_01_rasis
Spanduk Say No To Racism. Sumber : www.fifa.com

Diluar PSSI, kampanye menyingkirkan rasisme dan diskriminasi dalam setiap pertandingan sepakbola telah dilakukan FIFA sebagai induk organisasi sepakbola dunia. Berbagai materi kampanye disebarkan oleh organisasi pimpinan Sepp Blatter di berbagai media.

FIFA memimpin jalannya penghapusan segala bentuk diskriminasi didalam olahraga sepakbola. Artikel no. 3 dari Statuta FIFA menyatakan “Discrimination of any kind against a Country, private person or group of people on account of race, skin colour, ethnic, national or social origin, gender, language, religion, political opinion or any other opinion, wealth, birth or any other status, sexual orientation or any other reason is strictly prohibited and punishable by suspension or expulsion”.

“Diskriminasi dalam bentuk apapun terhadap negara, orang pribadi atau sekelompok orang karena ras, warna kulit, etnis, asal nasional atau sosial, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik atau pendapat lain, kekayaan, kelahiran atau status lainnya, orientasi seksual atau alasan lain sangat dilarang dan dikenai sanksi suspensi atau usiran”.

Dalam pasal tersebut FIFA memberikan pemahaman bahwa kampanye perlawanan terhadap diskriminasi bersifat meluas, tak memandang perbedaan ras dan etnis semata.

Selain Statuta FIFA, dalam Kode Disiplin FIFA mengatur restriksi aksi rasisme dan diskriminasi dalam sepakbola. Pasal 54 berisi sanksi suspensi pertandingan terhadap siapapun yang menghina seseorang dengan cara apapun, terutama yang menggunakan serangan gestur dan bahasa.

Pasal 55 memberikan hukuman terhadap siapapun yang melakukan diskriminasi atau merendahkan seseorang dengan cara fitnah akan dikenakan hukuman larangan memasuki stadion minimum lima pertandingan dan denda sebesar 10.000 Franc Swiss(sekitar 131 juta rupiah untuk kurs 15/6). Namun jika pelanggaran dilakukan oleh ofisial tim, maka akan dihukum denda sebesar 15.000 Franc Swiss(setara dengan 197 juta rupiah).

Sam Harie Pandiono Aremania yang rajin mengibarkan panji Singo Edan ke berbagai penjuru dunia ini merasakan efek dari kampanye anti rasis dan diskriminasi yang didengungkan FIFA.

“Di Turin ayas menyaksikan mereka(penonton tuan rumah) menyanyikan lagu rasis untuk Kevin Prince Boateng (pemain AC Milan asal Ghana) namun segera dihentikan oleh dirigen dibawah” ujar Sam Harie. Pria yang kerap menjadi ‘duta’ klubnya juga sempat mengajukan pertanyaan mengapa nyanyian tersebut harus dihentikan.

“Nyanyian tersebut bersifat rasis dengan melecehkan warna kulit Kevin, minggu lalu kami nyanyian rasis yang kami lantunkan menghasilkan denda 30.000EUR (sekitar Rp. 480 juta)” jawaban dari teman disebelah Sam Harie. “Minggu lalu, nyanyian terhadap orang-orang Napoli(para Juventini menyebut mereka sebagai orang gunung) menghasilkan hukuman denda sebesar 50.000EUR(sekitar Rp. 800 juta)” tambahnya.

Pendapat senada diungkapkan oleh Arief Satria, ia merasa eman dengan besarnya denda yang harus dibayarkan oleh klub akibat ulah penontonnya. Menurutnya denda sebesar Rp. 250 juta sangat bernilai untuk Arema.

“Nilai Rp. 250 juta setara dengan kontrak rumah untuk mess pemain selama 2 tahun atau 1-2 buah kendaraan operasional klub, maupun kontrak 10-11 pemain tim junior dengan asumsi salary sekitar Rp 2 juta rupiah sebulan” ujar Aremania yang sering aktif terlibat diskusi logis di media sosial ini.

Semoga hukuman yang diberikan oleh Komdis PSSI dapat dijadikan sebagai wake up call untuk menata diri.

Sematan ‘soko guru suporter sepakbola Indonesia’ yang diberikan kepada Aremania dapat dijadikan sebagai motivasi dan pengingat untuk kembali menyebarkan misi virus damai yang pernah diembannya. Alangkah indahnya jika api jargon friendship without frontier, football without violence yang pernah dikobarkan Sam Harie Pandiono, dkk masih tetap menyala abadi.

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.