Beranda Fokus Sisi Lain Dibalik Kontroversi Pembubaran Persema

Sisi Lain Dibalik Kontroversi Pembubaran Persema

0
Persema akan menjalani Liga 3 setelah terbebas dari hukuman sanksi.
Persema akan menjalani Liga 3 setelah terbebas dari hukuman sanksi.

Persema dimusim ini ibarat biduk yang terus ditimpa badai berulang kali. Belum habis kenangan akan kesulitan finansial musim lalu, problematika serupa masih menghantui dan tak kunjung menjadi masalah yang terselesaikan.

Akibat yang ditimbulkan tentu tidaklah kecil. Dalam dua musim terakhir, prestasi tim yang bermarkas di Stadion Gajayana tersebut terjun drastis. Setelah meraih runner up pada Liga Primer Indonesia (LPI) yang berlangsung setengah musim, Bledhek Biru tak menghasilkan prestasi serupa di ajang Liga Prima Indonesia (IPL) meski jumlah pesaing berkurang.

Masalah menjadi pelik ketika manajemen Persema harus ‘legawa’ menerima hasil Kongres Luar Biasa (PSSI) bulan Maret 2013 lalu. Lewat Surat Keputusan (SK) bernomor 02/KLB/PSSI/III/2013 Persema bersama keempat klub IPL lainnya tidak diikutkan sebagai bagian dari klub yang berhak ‘promosi’ ke jenjang ISL 2014 musim depan.

Imbasnya, apapun hasil yang diraih oleh Persema musim mereka tetap akan turun kasta (imbas hukuman yang diberikan pada tahun 2011 lalu, buah ‘pembangkangan’ Persema kepada penguasa). Sudah jatuh tertimpa tangga, pada awal September lalu, PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) selaku operator kompetisi mendiskualifikasi Persema dari setiap kegiatan penyelenggaraan sepakbola di putaran II IPL 2013. Alasannya adalah Persema beberapa kali tidak datang pada hari pertandingan dan dinyatakan Walk Over (WO).

Meski manajemen Persema mengajukan banding, namun pada akhirnya manajemen Bledhek Biru memilih membubarkan tim. Mereka seakan sudah mengetahui apa yang terjadi pada Persema nantinya. Meski masih memiliki setumpuk hutang finansial, pembubaran Persema menjadi alasan logis manajemen untuk tidak menambah kerugian (cut loses) selama sisa kompetisi.

Selama ini manajemen Persema kerap kesulitan dalam menganggung ongkos untuk mengarungi kompetisi. Ketika Persema tak lagi dibiayai oleh dana APBD sejak tahun 2011 lalu, dana dari ‘konsorsium pusat’ dan sharing dari LPIS maupun sponsor diharapkan menjadi angin sejuk bagi tim Bledhek Biru.

Apa daya harapan tak seindah kenyataan. Sejak musim lalu, dana dari para ‘investor’ yang sempat membiayai kompetisi LPI 2011 lalu kerapkali tersendat. Begitu halnya dengan dana dari LPIS yang semakin tak menentu dimusim ini akibat nilai jual kompetisi yang kecil dan kesulitan mencari sponsor beserta hak siar.

Persema juga kesulitan untuk hidup secara berdikari. Jalinan sponsorship dengan produk minuman berenergi mengalami kegagalan karena masalah profesionalisme yang berkaitan dengan penyelenggaraan kompetisi IPL. Peran dari suporter juga tak dapat diharapkan setinggi angan-angan.

Sempat mengalami kenaikan okupansi hingga 35% dari kapasitas stadion sepanjang euforia LPI 2011, penonton Persema mengalami kemerosotan pada musim ini. Rata-rata jumlah penonton yang datang tak sampai 15% dari kapasitas Stadion Gajayana yang dapat menampung 30.000 orang. Popularitas Persema di Malang Raya kalah dari saudara sekotanya, Arema yang dalam waktu lima belas tahun terakhir mampu menjual tiket pertandingan hingga 5-10 lipat lebih banyak dibanding saudara tuanya yang berselisih umur 44 tahun tersebut.

Barangkali mafhum jika penonton Persema musim ini mengalami penurunan. Kesulitan finansial, prestasi yang menurun dan materi pemain yang tak mengkilap akibat ditinggal bintangnya seperti Irfan Bachdim, Kim Jeffrey, Reza Mustofa hingga Sukasto Effendi membuat publik enggan untuk datang ke Stadion Gajayana.

Manajemen Persema juga tak dapat berbuat banyak. Minimnya dana membuat rekrutmen pemain pada pramusim menjadi terganggu. Pengetatan keuangan terjadi disana-sini termasuk dalam urusan kontrak pemain. Anggaran untuk mengontrak pemain bintang amatlah mahal. Pemain sekelas Irfan Bachdim dapat dihargai lebih dari 750juta semusim. Padahal dana sebesar itu dapat digunakan Persema untuk membiayai operasional dan kontrak pemain lebih dari sebulan.

Pasca pembubaran tim, sebenarnya Persema juga meninggalkan urusan yang tak kalah pelik. Selama ini Bledhek Biru kerap dijadikan sebagai kawah candradimuka bagi pemain asli Malang. Buktinya meski tak pernah menjuarai kompetisi Perserikatan, maupun Liga Super Indonesia, Persema kerap melahirkan talenta hebat dan eksis kasta elit sepakbola Indonesia.

Ahmad Bustomi dan Aris Suyono adalah sedikit dari talenta yang lahir buah dari pembinaan yang berjalan di tim ini. Dengan berhentinya kiprah Persema pada kompetisi tahun ini menghambat alur pembinaan pemain muda. Kesempatan mereka untuk mematangkan diri dengan terjun di level profesional akan berkurang seiring dengan terbatasnya jumlah klub sepakbola di Malang Raya yang berkiprah di level tinggi.

Selain Persema terdapat Persekam Metro FC dan Arema yang berkompetisi di level profesional. Persekam bermain di Divisi Utama PT Liga Indonesia dengan skuad yang berisikan banyak pemain lokal (banyak diantaranya merupakan lulusan akademi Arema dan tim Arema U-21). Sedangkan Arema yang akan mengakhiri dualismenya musim depan memiliki skuad bintang dan nyaris hanya menyisakan sedikit pemain lokal untuk menjadi bagian didalamnya.

Jauh sebelum Akademi Arema naik pamornya, Persema kerapkali melahirkan bintang lewat kompetisi internalnya. Klub amatir lokal seperti Unibraw 82, Armada 86, Gajayana, Djagung, RSSA dan lainnya telah mengisi slot tiga level kompetisi internal selama puluhan tahun. Selama bertahun-tahun pula Persema berhasil mendapatkan bibit pemain bagus hasil scouting dan seleksi pemain yang tersebar di kompetisi internal.

Seleksi pemain tak hanya dilakukan untuk pembentukan tim senior. Selama bertahun-tahun Persema juga melakukannya untuk membentuk tim junior (U-18) yang akan diturunkan pada kompetisi Piala Soeratin. Di kancah Malang, Persema U-18 menjadi yang terbaik setelah merajai Piala Soeratin pada tahun 1965 (edisi pertama) dan 1997. Tim Persema junior (nama lain dari tim Persema U-18 pada dekade 90an) juga pernah menjadi runner up pada pergelaran Piala Soeratin 2009 dan 2012.

Salah satu alumnus Persema U-18 adalah Bertha Yuwana Putra. Pemain yang membela Bledhek Biru hingga tahun 2002 lalu adalah salah satu pilar Persema Junior pada saat menjuarai Piala Soeratin 1997. Bersama Benny Hertanto, dkk ia bahu membahu pada babak final yang berlangsung dramatis melawan Medan Jaya di Stadion Gajayana Malang.

Prestasi gemilang yang ditorehkan Bertha membuatnya direkrut oleh manajemen Persema selepas kejuaraan tersebut. Ia memperkuat Persema selama beberapa musim sebelum hijrah ke Persik Kediri bersama Bamidelle Frank Bobmanuel. Bersama Bobby (panggilan akrab Bamidelle) tim Macam Putih (julukan Persik) dibawanya ke tangga juara Divisi Utama 2003.

Selain Bertha sebenarnya masih banyak pemain lainnya yang sukses dibelantika sepakbola nasional setelah sebelumnya berkiprah bersama Bledhek Biru. Sebut saja Aris Suyono dan Ahmad Bustomi yang beberapa tahun terakhir menjadi pilar inti Timnas Indonesia. Selain kedua pemain tersebut terdapat pula Aji Santoso (Persema jr), Agus Yuwono, Dian Fachrudin hingga Munhar (nama terakhir masih aktif bermain sebagai bek andalan Arema ISL).

Hikmah Level Terbawah
Membentuk talenta brilian tentu tak hanya sekedar berhenti pada proses pencarian bakat. Mereka membutuhkan batu asah berupa atmosfer kompetisi yang bagus. Selama ini Persema mendapatkannya karena berkecimpung pada level elit. Bermain bersama klub dan sederetan pemain terbaik di Indonesia membuat talenta lokal itu kian terasah. Namun mulai musim depan mereka urung merasakan nikmat serupa, karena Persema akan berstatus sebagai klub amatir dan berkompetisi dari kasta terbawah (Divisi III).

Konsekuensi logis tentunya harus diterima oleh penggemar tim Bledhek Biru yang tergabung dalam wadah suporter Ngalamania. Sejak musim depan mereka akan melihat Persema yang bermaterikan pemain lokal. Takkan ada pemain asing yang selama belasan tahun terakhir kerap memperkuat tim yang sempat berjuluk sebagai ‘Laskar Ken Arok’ pada masa kepemimpinan Ketua Umum Peni Suparto.

Jika tak ada aral, Persema akan dikembalikan pengelolaannya kepada Pengcab PSSI Kota Malang. Artinya tim ini tak lagi berstatus sebagai klub profesional namun akan kembali sebagai klub amatir yang berhak atas penggunaan dana APBD. Meski demikian anggaran dana yang dialokasikan haruslah efisien, tak lagi jor-joran seperti halnya pada masa 2006-2010 dimana penggunaan APBD Kota Malang untuk Bledhek Biru mencapai belasan miliar rupiah setiap musimnya.

Selama ini Persema tak dapat melepaskan diri dari stigma klub yang belum dapat sepenuhnya mandiri. Bertahun-tahun tim Bledhek Biru bernafas lewat kucuran dana APBD yang dialokasikan setiap tahun. Pun demikian halnya ketika pindah kompetisi ke LPI. Persema masih belum dapat berdikari sepenuhnya sehingga harus mengandalkan pemasukan dari ‘konsorsium pusat’.

Sejalan dengan kehidupan baru yang harus diterima Persema nantinya, manajemen Persema dan Pengcab PSSI Kota Malang harus melakukan koordinasi segera bilamana pelimpahan klub jadi dilakukan. Keterlambatan yang terjadi akibat proses ini akan mengganggu pembentukan tim dan ketercapaian target yang dicanangkan manajemen baru Persema.

Persema masih memiliki waktu untuk berbenah. Kompetisi Divisi III tidaklah sepadat ISL yang hanya memiliki waktu libur tak lebih dari 1,5 bulan sebelum memulai sesi pramusim. Meski demikian manajemen Persema yang baru wajib bekerja keras menata klub ini agar secepatnya mentas ke level profesional.

Tugas berat menanti mereka untuk membangun klub ini dari level terbawah hingga siap berkompetisi di jenjang profesional, ketika tiba saatnya Persema promosi. Tak hanya mempersiapkan pondasi klub berupa pembentukan organisasi internal namun juga memperluas atensi publik, dan mendapatkan loyalitas suporter dalam jumlah masif. Sesuatu hal yang hingga detik ini menjadi PR tim ini.

Nothing but Everything

Sebenarnya jika dilihat dari fakta sejarah, tak hanya pemain lokal dan sepakbola Malang yang dirugikan oleh pembubaran Persema. Rival sekota, Arema sejatinya ikut menanggung ‘sedikit’ kerugian dari keputusan ini.

Mengapa demikian, meski disebut sebagai rival sekota (derby) kedua klub tersebut kerap menghasilkan simbiosis mutualisme didalam dan luar lapangan. Arema kerap menambang keuntungan dengan eksistensi Persema di kancah sepakbola profesional selama ini. Berbagai keuntungan diraih tim Singo Edan atas saudara tuanya tersebut.

Seperti apa keuntungan yang berhasil ‘ditambang’ oleh Arema dari saudara sekotanya tersebut, berikut ini diantaranya :

a. Tambang Uang
Tak hanya di Eropa, pertandingan derby yang menyajikan pertarungan antara dua tim sekota menarik kerap menghadirkan atensi publik dalam jumlah tinggi. Demikian halnya di Malang. Ketika Arema dan Persema bertanding dalam satu lapangan yang sama, penjualan tiket pertandingan tersebut seringkali ludes.

Partai Arema melawan Persema yang berlangsung di Stadion Kanjuruhan, 10 Januari 2010 adalah salah satu contohnya. Pertandingan tersebut disaksikan lebih dari 35.000 orang yang memadati stadion. Beberapa ribu diantaranya tak kebagian tempat duduk, dan sebagian meluber hingga sentelban. Dengan harga tiket terendah dijual sebesar 25ribu rupiah, panpel Arema mendapatkan pemasukan dari tiket sebesar lebih dari 900juta rupiah.

Selain dari tiket pertandingan, Arema juga mendapatkan pemasukan yang bersumber dari penjualan spot iklan, hak siar dan lain sebagainya.

b. Tambang Pemain
Persema banyak sekali menelurkan pemain berbakat. Salah satu klub yang banyak mengendus bakat-bakat pemain yang dimiliki tim Bledhek Biru tersebut adalah Arema.

Musim ini di skuad Singo Edan terdapat dua pemain yang sebelumnya pernah pemain bersama Persema, yaitu Munhar (bermain bersama Persema dari tahun 2008-2011) dan Reza Mustofa (2010-2012).

Selain kedua pemain tersebut, masih terdapat sederetan pemain lainnya seperti Arif Suyono, Ahmad Bustomi, Khusnul Yuli, Rasmoyo, M. Ikhsan dan Andi Sutrisno yang bermain bersama Persema di era 2000an. Pada dekade-dekade sebelumnya kita dapat jumpai M. Rochim, Agus Yuwono, Doni Suherman, dan Maryanto.

Diluar nama-nama diatas masih terdapat beberapa pemain hasil dari binaan tim Persema Junior dan kompetisi internal yang langsung hijrah ke Arema. Pun demikian pula dengan beberapa pemain Persema yang berminat hijrah ke rival sekota meskipun pada akhirnya tak mendapat restu dari manajemen Bledhek Biru.

c. Tambang Poin
Seorang kawan pernah memberi anekdot jika Arema dan Persema berada satu grup dan level kompetisi yang sama. Anekdot tersebut berbunyi ‘Arema mendapat jaminan/garansi 6 poin dari tim sekota tersebut’, seakan mengindikasikan optimisme tinggi jika berhadapan dengan tim Bledhek Biru.

Maklum sejak Liga Indonesia dan Perserikatan dilebur pada tahun 1994 lalu, Arema memiliki tradisi ‘menangan’ ketika menjalankan derby Malang. Dari 11 pertemuan di kompetisi Liga Indonesia dan ISL(1994-2010), Singo Edan berhasil meraih poin penuh sebanyak 10 kali, dan 1 laga lainnya berakhir seri.

Faktor dukungan suporter dapat dijadikan sebagai salah satu penyebab tradisi Arema terus berlanjut. Sejak nama Aremania berkibar dari tahun 1997 lalu, tiap laga derby stadion mengalami overload. Hampir seluruh penghuni tribun diisi oleh Aremania yang mendukung kesebelasan Singo Edan. Meski Persema menjadi tuan rumah, kondisi tersebut masih tetap terjadi.

Yang paling akbar terjadi pada laga derby di Stadion Gajayana Malang, 9 Maret 2010. Meski berstatus sebagai tuan rumah, Persema tak kuasa menghadapi hampir 30.000 Aremania yang datang ke stadion. Sepanajng pertandingan para pemain Bledhek Biru tak kuasa menghadapi perlawanan ganda, baik dari Noh Alam Shah, dkk maupun pendukung tim lawan yang mendominasi tribun.

Sejak ada Aremania pula, tiap laga derby yang berlangsung sejak dari tahun 1999 hingga 2010, Persema tak sekalipun merengkuh poin.

Melihat fakta diatas memang terlihat Arema kerap diuntungkan dari saudara tuanya tersebut. Namun yang terjadi sesungguhnya kedua klub sekota tersebut menjalin simbiosis yang saling menguntungkan.

Demikian halnya yang terjadi pada Persema, ketika bertemu Arema di kandangnya, penghasilan dari tiket melimpah ruah meski sebagian besar dibeli oleh pendukung tim lawannya tersebut. Hingga saat ini rekor penghasilan tiket terbesar yang dialami oleh Persema hanyalah ketika menghadapi Singo Edan.

Selain itu, Persema juga mendapatkan beberapa pemain yang sebelumnya bermain cemerlang bersama Arema. Sebut saja Suroso, Sutaji, Aris Budi Prasetyo, Bamidelle Frank Bob Manuel, Rodrigo Araya, Christian Cespedes, dan lain sebagainya pernah membela Tim Bledhek Biru dalam waktu yang berbeda.

Meski berstatus tim sekota, hingga kini hubungan kedua klub tersebut masih terjaga baik sesuai dengan koridor respek yang dikampanyekan FIFA.

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.