Beranda Fokus Melihat Dari Dekat Adam Alis, Pemain Terbaik Di Piala Presiden 2017

Melihat Dari Dekat Adam Alis, Pemain Terbaik Di Piala Presiden 2017

DARI DEKAT ADAM ALIS - Jalan terjal dicapai oleh Adam Alis demi karirnya. | Foto: Cak Taufik Instagram
DARI DEKAT ADAM ALIS - Jalan terjal dicapai oleh Adam Alis demi karirnya. | Foto: Cak Taufik Instagram

Adam Alis menjalani perjalanan yang lumayan unik saat menapaki karir profesionalnya. Dia memberanikan diri menjadi pemain sepakbola atas rekomendasi ketua RT di wilayahnya. Bagaimana selengkapnya? Inilah cerita dari dekat Adam Alis.

Adam kebetulan diundang pada bincang juara yang diselenggarakan oleh Ruang Ganti Arema, sebuah kafe yang terletak di Oro-oro Dowo Malang. Di sana Adam banyak bercerita tentang perjalanan hidup dan kisah serunya.

Bagaimana ceritanya Adam Alis bisa terkenal?

Awalnya ada sepakbola antar RW, pada saat itu RT kami berhasil menjadi juara. Entah bagaimana ceritanya tiba-tiba Pak RT angkat-angkat saya. Di rumah juga lagi pada bingung karena ada laporan dari tetangga jika Adam diangkat Pak RT. Dikira mungkin lagi kecelakaan. Eh tahunya menjadi juara antar RT.

Setelah itu kemudian Pak RT bilang kepada orang tua jika Adam ini harus masuk SSB agar bakatnya semakin terasah. Akhirnya saya bergabung dengan SSB ASIOP. Saya sempat bermain di klub internal Persija kemudian bergabung dengan Persitangsel Tangerang Selatan.

Kemudian diajak bermain di Martapura dan membawa lolos ke ISL pada tahun 2014. Saya kemudian bergabung dengan Persija dan sempat bermain di sini (Kanjuruhan) dengan skor 3-3, tetapi sedih juga setelah itu karena liga dihentikan dan PSSI dibekukan. Tetapi kemudian saya disarankan oleh agen untuk menerima tawaran East Riffa di Liga Bahrain. Hanya setengah musim di sana kemudian kembali ke Indonesia memperkuat Barito di ISC.

Kemudian ada tawaran dari Arema dan saya tidak berpikir panjang untuk menerima tawaran itu karena Arema adalah tim besar dan semua orang pasti ingin bermain di sini.

DARI DEKAT DAM ALIS - Adam sempat mendaftar menjadi TNI sesaat setelah Indonesia mendapatkan medali perunggu di SEA Games.
DARI DEKAT ADAM ALIS – Adam sempat mendaftar menjadi TNI sesaat setelah Indonesia mendapatkan medali perunggu di SEA Games.

Kabarnya orang tua melarang Anda bermain sepakbola, tetapi kenapa tetap bermain?

Motivasi datang dari kakak saya, memang benar orang tua saya melarang anaknya bermain sepakbola karena takut cedera. Tetapi kakak saya bilang jika harus ada keluarga ini yang menjadi pemain dan katanya dia melihat ada bakat di saya.

Kakak yang melatih saya sepakbola, awalnya memang sembunyi-sembunyi tetapi setelah saya serius menekuni ini akhirnya orang tua mengalah dan membiarkan saya bermain sepakbola.

Tetapi setelah menjadi juara antar RT saya kemana-mana selalu sama Ibu, dia menjadi orang yang total dalam memberikan dukungan kepada saya.

Saat baru memulai karir, Indonesia mendapatkan sanksi. Bagaimana rasanya?

Ya sedih juga, saat kami baru saja menjajaki karir pemain profesional sudah ada sanksi. Tetapi kemudian ada pertandingan di Sea Games dan berhasil mendapatkan medali perunggu.

Setelah itu saya menjalani hari dengan kebosanan karena liga berhenti. Kemudian ada tawaran menjadi TNI untuk pemain SEA Games. Saya sebenarnya agak ragu untuk ikut, tetapi memang daripada tidak ada kegiatan.

Tiba-tiba setelah selesai mendaftar ada saran agar fokus untuk bermain sepakbola saja, tetapi saya sudah terlanjur mendaftar. Dan saya merasa bersyukur ternyata saya tidak diterima saat tes TNI. Tetapi beberapa teman saya diterima menjadi tentara seperti Abduh (Lestaluhu) dan Manahati (Lestusen)

Kenapa memilih kembali ke Indonesia setelah nyaman di East Riffa? 

Awal-awal di sana saya justru merasakan ketidaknyamanan, lingkungan sangat asing karena sedikit sekali orang di Indonesia yang ada. Sebenarnya saya berangkat dengan Ryuji Utomo tetapi beda klub sehingga tidak sempat bertemu lama.

Lingkungan cukup asing, apalagi bicaranya tidak saya pahami (bahasa Arab). Tetapi agen menyarankan saya harus betah karena jika kembali di Indonesia. Akhirnya saya berusaha menikmati tiap pertandingan sehingga bisa mendapatkan tempat di tim reguler.

Tetapi kemudian di putaran kedua ada kebijakan dari pemilik karena di lini tengah sudah banyak orang. Sementara mereka membutuhkan striker. Karena saya termasuk pemain asing, sehingga saya tidak diperpanjang bersama satu kawan dari Afrika.

Pemain idola di luar negeri?

Saya suka sama Luka Modric pemain Real Madrid, sebagai pemain tengah dia punya gaya main yang unik dan berbeda dengan lainnya.

Alhamdulillah kemarin saya mendapatkan hadiah jersey yang mendapatkan tanda tangan darinya.

Pemain idola di Indonesia?

Ahmad Bustomi, dia menjadi idola saya sejak kecil. Senang bisa bermain dengan pemain idolanya di Arema ini. Hanya saja saya tidak bisa memakai nomor andalan saya yaitu 19 (sama dengan Modric dan Bustomi) yang juga angka kelahiran saya.

Tetapi itu tidak masalah karena saya bisa memakai nomor 18.

Arti Nama Adam Alis Setyanto?

Saya tidak tahu, berkali-kali saya tanya orang tua tetapi mereka juga bingung. Tetapi kan Adam itu nama nabi, biasanya Adam AS, tetapi kepanjangan AS bukan Alaihissalam melainkan Alis Setyanto. Artinya? saya tidak tahu hahahaha.

Yang jelas saya ini sebenarnya anak yang tidak diinginkan, karena sebenarnya saat mengandung dulu Ibu ingin anak perempuan. Tetapi kemudian anaknya laki-laki. Hahahaha.

Klub impian sejak kecil?

Sebagai anak Jakarta semua pasti ingin bermain di Persija Jakarta. Tetapi saat ini saya bermain di Arema, malah saya ingin bermain lama di sini karena ada anggapan karir saya hanya satu tahun saja di klub sebelumnya.

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.