Beranda Fokus Nostalgia : Lapangan Luar Stadion Gajayana

Nostalgia : Lapangan Luar Stadion Gajayana

0
Stadion Gajayana kini

Sebelum Mall Olympic Garden(MOG) berdiri, kawasan Stadion Gajayana merupakan salah satu kawasan terbuka hijau yang ramai dikunjungi masyarakat. Kala sore hari tiba, ratusan remaja dan pemuda dari beberapa penjuru kelurahan disekitarnya berdatangan serta memanfaatkan fasilitas yang ada.

Paling banyak mereka menggunakan kedua lapangan luar stadion untuk bermain sepakbola. Dua lapangan tersebut sebenarnya tak layak pakai. Sebelum direnovasi permukaan lapangannya pada pertengahan 2000an lalu, kondisi lapangan cukup menyedihkan.

Permukaan lapangan tak rata, rumput yang gundul di berbagai sisi lapangan(terutama area kotak 16 dan lapangan tengah. Di beberapa sisi lapangan yang ditumbuhi rumput pun juga tak kalah mirisnya. Banyak rumput yang tumbuh liar, tinggi dan tak pernah dipotong bercampur dengan beberapa jenis tumbuhan semak lainnya.

Sesekali jika kita injakkan kaki ke lapangan tersebut banyak sekali kerikil dan batu bertebaran. Batu-batu tersebut berada di lapangan bukanlah tanpa alasan. Beberapa batu yang terkumpul digunakan sebagai patok penanda gawang bagi dua tim yang bertanding. Maklum saking banyaknya pemakai, kadang dalam satu lapangan digunakan untuk bertanding lebih dari 4,6 tim dalam waktu bersamaan.

Biasanya pertandingan antara dua tim yang dengan jumlah pemain banyak, serta berusia dewasa mengambil area permainan sebesar lapangan bola standar. Sementara untuk tim lain yang bertanding dengan jumlah pemain lebih sedikit akan ‘mengalah’ dengan bermain di sudut dan pinggir lapangan. Meski demikian jarang sekali terjadi perselisihan akibat antar pemain yang bersenggolan secara tak sengaja. Mereka sama-sama mahfum karena menggunakan fasilitas umum nan gratis.

Hebatnya lagi, meski tahu lapangan sepakbola yang dipakai banyak terdapat kerikil, banyak masyarakat yang nyeker ketika bermain bola. Sesekali ketika dribbling dan berlari menggiring bola mereka berhati-hati memperhatikan benda-benda yang bertebaran didepannya.

Musuh utama pemain bola di lapangan itu bukan hanya benda asing yang banyak tersebar. Ketika hujan tiba beberapa sudut lapangan banyak tergenang air. Pada beberapa permukaan yang cekung, genangan air dapat setinggi 10-20cm. Sungguh tak layak untuk digunakan bermain bola. Apalagi benda asing yang tak tergenang didalam cekungan air dapat membahayakan pemain jika menginjaknya.

Selain digunakan masyarakat bermain sepakbola, kedua lapangan luar stadion kadang digunakan diluar event olahraga. Baik untuk kegiatan sosial maupun komersial.

Di tahun 90an hingga awal 2000an lalu, kedua lapangan sepakbola tersebut sering digunakan sebagai venue pameran pembangunan(Expo) oleh Pemkot Malang. Pergelaran acara berupa pesta rakyat tersebut lazim digelar pada bulan Agustus, menyambut kemerdekaan Republik Indonesia(RI). Selama beberapa minggu ribuan masyarakat tumplek blek disana.

Lapangan luar sebelah utara biasanya digunakan sebagai stand pameran utama. Beberapa instansi pemerintah dan swasta membuka ‘lapak’ untuk berdagang atau sekedar menginformasikan instansi tersebut kepada khalayak.

Sementara lapangan sisi selatan dipakai sebagai pasar malam. Disini berbagai jenis wahana permainan seperti dremolen/bianglala, komedi putar, kereta api, digelar. Untuk dapat memakainya masyarakat dapat membeli tiket yang tersedia di loket.

Selain digunakan sebagai acara expo, kedua lapangan tersebut beberapa kali dipakai menggelar pertunjukan komersial seperti sirkus (Juni/Juli 1993 dan 1999), dan lumba-lumba (pertengahan tahun 1992).

Tiap event memakan waktu beberapa minggu, jadi dapat dibayangkan selama beban yang harus ditanggung oleh permukaan lapangan yang semakin tak terawat.

Selama bertahun-tahun kondisi mengenaskan terjadi. Jarang sekali diadakan perbaikan dari pengelola dan otoritas yang berwenang. Terakhir sebelum dirombak total untuk menjadi lahan MOG, lapangan ini sempat direnovasi pada tahun 2004 lalu.

Renovasi lapangan meliputi perombakan struktur tanah dan drainase, perataan lapangan serta penanaman rumput kembali. Disekeliling lapangan dibangun pagar setinggi sekitar satu meter. Rencananya sebelum ketinggian rumput normal dan kondisi lapangan layak pakai, masyarakat diminta untuk tidak memakainya selama proses pemeliharaan. Apa daya sebelum waktu itu terjadi, terkadang lapangan sudah dipakai oleh oknum masyarakat.

Tak sampai 3 tahun setelah renovasi, lapangan sebelah kanan tersebut akhirnya menjadi lahan bangunan MOG yang hasilnya kita saksikan sekarang ini. Dari dua lapangan tersebut kini hanya tinggal satu saja disebelah utara.

Kondisi lapangan yang dulu mengenaskan berhasil direnovasi beberapa tahun lalu. Terkadang lapangan tersebut digunakan beberapa klub profesional di Malang Raya berlatih. Kondisi lapangan tersebut tampak lebih rapi dan rata dibandingkan yang dulu.

Disekeliling lapangan dibuat pagar kawat dengan ketinggian mencapai 3 meter lebih. Meski demikian lapangan itu tak lagi bersifat ‘sosial’, dimana banyak masyarakat pernah berkumpul dan menggunakannya.

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.