Beranda News Kemenangan Dengan Hati & Keunggulan Taktikal Joko Susilo

Kemenangan Dengan Hati & Keunggulan Taktikal Joko Susilo

Hanif menjadi salah satu kunci keunggulan taktikal Joko Susilo atas Angel Vera | Foto: Arema FC Official.
Hanif menjadi salah satu kunci keunggulan taktikal Joko Susilo atas Angel Vera | Foto: Arema FC Official.

Arema FC mempu menyingkirkan rival dari Jawa Timur pada babak semi-final Piala Gubernur Kaltim 2018. Kemenangan buah dari keunggulan taktikal Joko Susilo melawan Angel Alfredo Vera.

Joko Susilo harus bergelut dengan situasi. Di tengah belum stabilnya performa Arema. Dia harus meramu formasi tanpa kehadiran empat bek andalan. Syaiful Indra Cahya sakit dan dipulang, Agil Munawwar dan Purwaka Yudi mengalami cedera sementara Johan Ahmat Farizi terkena hukuman larangan bermain karena kartu merah ketika melawan Mitra Kukar.

Joko pun melakukan mofikasi, gelandang bertahan Hendro Siswanto yang menunaikan tugasnya dengan baik di sisi kanan kembali ditempatkan. Sementara Ricky Ohorella yang biasa menjadi penyerang sayap ditarik lebih mundur menjadi full-back.

“Kami tidak memiliki pemain belakang pengganti,” ujarnya sebelum pertandingan.

Wajar jika kemudian Junda Irawan tidak dimainkan sejak awal babak karena dia memang dipersiapkan sebagai pengganti unruk jaga-jaga kalau Arema unggul dan membutuhkan tipikal bek asli.

Di lini tengah, tidak ada masalah saat Joko menempatkan tiga pemain yaitu Ahmet Atayew, Hanif Sjahbandi, dan Balsa Bozovic. Ketiganya juga sangat maksimal saat menghempaskan Mitra Kukar di akhir penyisihan grup. Dalam permainan ketiganya sukses memenangkan lini tengah untuk melawan Misbahus Solihin dan Nelson Alom.

Permasalahan ada pada pemilihan tiga pemain di depan. Dedik Setiawan dan Thiago tidak ada masalah jika dimainkan. Namun, Dendi Santoso harus menahan nyeri karena dia mengalami cedera di bagian paha. Namun, Joko memiliki rencana lain, sehingga saat Dendi ternyata siap dimainkan dia langsung memainkannya. Rencana yang menjadi keunggulan taktikal Joko Susilo.

Di lapangan, Hendro dan Ricky nampak tidak terlalu banyak naik membantu serangan. Mereka fokus membendung kecepatan dua sayap asal Papua, Osvaldo Haay dan Feri Pahabol. Hendro terutama beberapa kali mematahkan serangan lawan.

Sementara Ricky memang tidak sekuat Hendro, namun dia punya kecepatan untuk melakukan intersep. Pendek kata, Persebaya hanya bisa melepaskan tembakan jarak jauh saja yang semuanya bisa diselamatkan dengan baik oleh Kurniawan Kartika Aji.

Dari kubu lawan, tidak ada perubahan gaya main yang sudah diperagakan di awal musim. Persebaya yang mengandalkan Rishadi Fauzi mudah dipatahkan karena sang pemain hanya tangguh untuk beradu duel udara.

Kemenangan atas Persebaya layak diselebrasikan! | Foto: AremaFC Official.
Keunggulan Taktikal Joko Susilo yang membuat Arema menang atas Persebaya layak diselebrasikan! | Foto: AremaFC Official.

Tetapi Rishadi tidak mendapatkan suplai bola sebagaimana mestinya karena di sisi kiri dan kanan lini depan Persebaya sudah dimatikan Hendro dan Ricky, sehingga lebih banyak dihabiskan untuk membawa bola ketimbang memberikan umpan silang.

Di babak kedua Rishadi diganti di menit ke-71 oleh Oktavianus Fernando setelah Persebaya ketinggalan, pergantian itu sukses membuat Persebaya lebih menekan. Tetapi ketidakhadiran striker murni membuat tekanan hanya berada di luar kotak penalti tanpa bisa penetrasi ke kotak.

Kekeliruan strategi Vera pun diselesaikan oleh Hanif Sjahbandi di menit ke-86 sekaligus memungkasi pertandingan ini dengan kemenangan 2-0.

Kemenangan Dengan Hati

Usai pertandingan, Joko tidak melebihkan taktikal yang dia usung. Dirinya justru memuji anak asuhnya yang bermain dengan hati. Menurutnya taktik ataupun skill nomer dua karena yang terpenting ada hati untuk Arema.

“Kunci kemenangan ada pada hati pemain. Taktik ataupun teknik itu nomor dua, hati pemain nomor satu. Pemain kami bermain maksimal, mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Jadi Alhamdulillah, kita bisa memenangkan pertandingan,” terang pelatih asal Cepu ini.

Pemain Arema terlihat bermain sepenuh hati, mereka tidak terpengaruh atas intimidasi lawan dan suporternya. Di sisi lain dukungan suporter juga begitu membahana untuk memberikan semangat.

“Banyak evaluasi, kami memahami keadaan tim kami. Perlu diketahui empat bek kami tidak bisa bermain, bagi kami itu sulit sebetulnya. Tetapi dengan hati semua bisa teratasi,” tegas sosok berusia 47 ini.

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.