Beranda Fokus Formasi 4-4-1-1 Arema yang Memenangkan Piala Presiden 2019

Formasi 4-4-1-1 Arema yang Memenangkan Piala Presiden 2019

0
Arema menang melawan Persebaya.
Arema menang melawan Persebaya.

Formasi 4-4-1-1 Arema yang diusung mampu membawa Singo Edan menjadi juara. Siapa sangka perubahan itu terjadi di tengah turnamen.

Arema FC menjadi juara Piala Presiden dengan sangat menyakinkan, mereka mencetak 23 gol dari delapan pertandingan. Artinya di setiap pertandingan minimal hampir menciptakan tiga gol.

Salah satu kunci Singo Edan menjadi juara adalah perubahan taktikal permainan di lapangan usai kalah melawan Persela Lamongan dengan skor 1-0. Memang kekalahan itu terjadi terjadi akibat blunder pemain belakang. Namun secara keseluruhan ada sesuatu yang tidak berjalan di lapangan.

Perubahan Formasi 4-4-1-1 Arema dilakukan usai kalah melawan Persela.
Perubahan Formasi 4-4-1-1 Arema dilakukan usai kalah melawan Persela.

Pakem 4-3-3 dipakai sejak Milo datang membesut Arema. Pakem tersebut terlihat luar biasa karena mampu menang besar ketika berhadapan dengan Persita Tangerang di babak 32 besar Piala Indonesia. Kemudian mengalami kesulitan saat melawan Persib di Piala Indonesia, Barito Putera dan Persela Lamongan di Piala Presiden.

Secara praktek teori dasar dari 4-3-3 adalah Arema menyerang melalui dua sisi sayap yang bermain melebar dan menusuk. Sementara pemain tengah bertugas menjaga wilayah di lini tengah atau bahkan bisa melebar jika ditinggal pemain sayap.

Sayang dengan cara ini, kreatifitas Makan Konate menjadi terbelenggu. Kreasi dia sulit keluar karena harus mundur untuk membantu pertahanan. Puncaknya, Konate sama sekali tidak diberikan ruang gerak oleh Persela yang ketika itu bermain dengan pola 4-3-2-1 melawan Arema.

“Semua tim pernah mengalaminya, kami tidak bermain buruk. Tetapi kami hanya mengalami hari yang kurang baik,” ujar Milo Seslija berkilah.

Perubahan Dengan Formasi 4-4-1-1 Arema Usai Kalah

Kekalahan melawan Persela membuat Arema melakukan perubahan, dua pemain asing yaitu Pavel Smolyachenko dan Robert Lima Guimaraes diparkir.

Di lini tengah, Arema memasang dua gelandang agresif yaitu Hendro Siswanto dan Hanif Sjahbandi yang bergantian dengan Jayus Hariono. Sementara makan Konate diberikan kebebaskan untuk menyerang dari segala sisi. Untuk membackupnya, dua pemain sayap Arema harus turun membantu pertahanan dari dua sisi sayap.

Detail permainan Arema (Video by: Pandit Football)

Percobaan pertama melawan Persita bisa dianggap sebagai lawan yang tidak sepadan, namun melawan Bhayangkara FC. Formasi itu benar-benar mengejutkan lawan.

Bhayangkara dikenal ganas di penyisihan grup karena mendapatkan sembilan poin dari tiga pertandingan. Keadaan itu membuat formasi 4-4-1-1 Arema yang mengandalkan transisi cepat bertahan dan menyerang menjadi sangat bertaji.

Dua gol Arema di laga itu yang dibuat oleh Makan Konate dan Ricky Kayame dibuat dengan serangan balik.

Saat tidak menguasai bola, pola 4-4-1-1 ini memiliki pertahanan gerendel. Hal ini imbas dari penyerang sayap yang dihuni Dendi Santoso dan Ricky Kayame bertahan dengan posisi sejajar dengan gelandang. Sementara Konate dan striker Dedik Setiawan atau Nur Hardianto ditinggal di depan untuk melakukan pressing kepada pemain belakang.

Arema cukup sabar menunggu lawan menekan, mereka melakukan pressing di daerah sehingga meskipun lawan menguasai bola lebih banyak. Namun mereka kesulitan masuk ke kotak penalti dan dipaksa melepaskan tembakan dari jarak jauh.

Saat mendapatkan bola, Konate menjadi hulu ledak untuk diberikan kepada dua pemain sayap yang langsung tiba-tiba naik atau bahkan bisa diberikan langsung kepada pemain depan. Umpan silang yang biasanya diperagakan pemain Arema sedikit demi sedikit digantikan umpan-umpan pendek merapat.

Strategi inilah yang dipandang mampu membuat Arema kemudian menjadi juara Arema Menangi Derby Jawa Timur Melawan Persebaya dan membuat Persebaya kesulitan di dua leg. Persebaya adalah tim dengan kontrol penguasaan bola yang sangat kuat. Mereka juga memiliki striker tinggi bernama Amido Balde.

Bajul Ijo memang tetap menekan dan menguasai pertandingan, saat menyerang mereka biasa melebarkan jarak antar pemain untuk lebih ke sisi sayap dengan tujuan memancing pemain Arema keluar. Namun, ternyata kondisi itu seperti menjadi bumerang dengan gol dari Hendro. Dan kemudian Hardianto di Malang.

Di sisi lain, skema umpan silang mereka yang mereka mainkan untuk Balde sama sekali tidak berfungsi karena tembok tinggi dari Hamka Hamzah dan Arthur Cunha.

“Arema bermain cukup pintar, kami memang menunggu salah satu stoper Persebaya untuk naik. Gol pertama hasil dari serangan balik yang berawal dari Hamka (Hamzah). Setelah gol pertama, pemain Arema memang diinstruksikan untuk bermain lebih kalem, tetapi bukan bertahan. Memang sengaja menunggu Persebaya membuat kesalahan (lagi) dan mencetak gol,” urai Milo.

Kesimpulan

Pola 4-4-1-1 ini menjadi pola baru yang ‘ditemukan’ Arema di Piala Presiden. Bisa jadi juga akan menjadi andalan Milo Seslija untuk mengarungi ketatnya kompetisi Liga 1 setelah selama dua musim terakhir hanya berada di papan tengah.

Hanya saja Milo juga perlu memikirkan jika lawan memiliki kontra strategi. Tetapi kedatangan Sylvano Comvalius bisa jadi juga akan membuat Milo memiliki banyak opsi strategi di Liga 1 nantinya.

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.