Beranda Fokus Drama Sepakbola Gajah Divisi Utama, PSS Sleman Melawan PSIS Semarang

Drama Sepakbola Gajah Divisi Utama, PSS Sleman Melawan PSIS Semarang

Pertandingan terakhir Babak 8 Besar Divisi Utama Liga Indonesia yang mempertemukan dua klub terbaik di Grup 1, PSS Sleman dan PSIS Semarang mengguncang jagat sepakbola nasional. Peristiwa sepakbola gajah kembali terulang dan melibatkan kedua klub tersebut. Keduanya saling mengalah, tak berusaha untuk memenangkan pertandingan.

Sepatutnya laga yang dipertandingkan di di Sasana Krida Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta, Minggu (26/10) tersebut bersifat prestius. Tiga poin yang didapat oleh tim pemenang dalam laga ini akan mengantarkannya sebagai pemuncak klasemen akhir grup N dan lolos ke babak semifinal dengan status juara grup.

Indikasi laga berjalan tak serius dapat diprediksi sejak awal. Kedua tim menyimpan beberapa pemain andalannya. PSIS menyimpan beberapa pemain kunci seperti Hary Nur Yulianto(14 gol) dan Julio Cesar Alcorse(13 gol), Ronald Fagundez(6 gol), Muhammad Yunus(6 gol), Ahmad Noviandani(5 gol) hingga Fauzan Fajri Nasrullah(5 gol). Keenam pemain tersebut andil dalam 49 dari 54 gol (90,7%) yang dicetak tim berjuluk Mahesa Jenar tersebut.

PSSI-Curiga-Ada-Pengaturan-Skor-di-Laga-PSS-Sleman-vs-PSIS-Semarang

Dikutip dari laman resmi PT Liga Indonesia, Pelatih PSIS Semarang, Eko Riyadi sebelumnya telah merencanakan melakukan rotasi pemain saat menghadapi laga ini.

Setali tiga uang, tim PSS Sleman pun demikian. Tim yang berdiri pada tahun 1976 tersebut tak diperkuat oleh sederet pemain pentingnya dalam pertandingan itu. Sebut saja Guy Junior Nke Ondoua(11 gol), Saktiawan Sinaga(5 gol), Dicky Prayoga(3 gol), dan Waluyo.

Meski demikian pelatih PSS, Herry Kiswanto masih menyisakan beberapa pemain andalannya untuk menggapai kemenangan. Agus Setyawan(2 gol), Anang Hadi Saputra(5 gol), Moniega Bagus(8 gol), Mudah Yulianto(4 gol), Ridwan Awaludin(2 gol), dan Wahyu Gunawan(4 gol). Keenam pemain tersebut telah menyumbang 25 dari total 48 gol(52,1%) yang dibukukan tim Elang Jawa(julukan PSS-red) ke gawang lawan.

Awal terjadinya parade gol bunuh diri dalam pertandingan itu di mulai pada menit 86. Pemain PSS, Hermawan Putra Jati, melakukan gol bunuh diri. Dua menit setelahnya, Agus Setyawan, juga membobol sendiri gawangnya, PSIS pun unggul 2-0 atas tuan rumah.

Drama semakin berlanjut ketika PSIS lantas merespons kejadian tersebut. Fadli Manan melakukan gol bunuh diri di menit 89. Gol itu lantas disusul dengan sepasang gol bunuh diri lainnya yang dibuat Komaedi pada menit 90 dan masa injury time. Akibatnya tercipta lima gol bunuh diri dalam selang waktu sekitar enam menit. Saat gol bunuh diri kedua, Komaedi juga melakukan sedikit melakukan perayaan.

PSS akhirnya menang dengan skor 3-2, dan menjadi juara grup dengan koleksi 14 poin, unggul tiga poin dari PSIS. Dengan demikian, dibabak semifinal PSS bakal menghadapi Borneo FC di semifinal. Sebaliknya PSIS sebagai runner up grup akan menghadapi Martapura FC.

Atas kejadian ini wasit yang memimpin dalam pertandingan tersebut, Hulman Simangunsong angkat bicara. “Babak pertama itu tidak ada masalah. Permainan masih normal sampai di menit ke-78,” ujar Hulman dikutip dari Detiksport.

Ia juga mengaku tak dapat menghentikan pertandingan tersebut. “Kami tidak bisa memberhentikan pertandingan. Karena kami hanya menjalankan sesuai peraturan. Pertandingan cuma bisa dihentikan jika ada force majeur dan pemain sebuah tim hanya tujuh pemain”, tambahnya.

Tuai Reaksi Berbagai Pihak
Sementara itu drama sepakbola gajah yang melibatkan PSS dan PSIS memantik reaksi pecinta sepakbola nasional. Para pendukung kesebelasan PSS dan PSIS menyesali kejadian memalukan dalam dunia sepakbola tersebut.

Salah satu kelompok suporter PSS Sleman, Brigata Curva Sud (BCS) menyuarakan kekecewaannya.

“Kami juga minta maaf yg sebesar-besarnya kpd seluruh pecinta sepakbola Indonesia sudah memberikan sejarah yg kelam utk sepakbola negeri ini. Kami mengaku salah dan siap menerima segala sanksi yang akan dijatuhkan untuk tim kebanggaan kami. Terdegradasi ke liga nusantara pun siap.”, tulis official store of Brigata Curva Sud lewat akun twitter @cs_shop1976.

Salah satu kelompok suporter PSIS Semarang, Panser Biru Djabotabek, yang menaungi suporter PSIS di wilayah Depok, Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi, mengeluarkan pernyataan sikapnya terkait pertandingan PSS Sleman vs PSIS, Minggu (26/10/2014) lalu. Mereka merasa terpukul melihat pertandingan berjalan tidak normal dan ada lima gol bunuh diri yang tercipta pada menit-menit akhir.

“Menuntut permohonan maaf dari management PSIS secara terbuka pada masyarakat Semarang pada umumnya dan pecinta PSIS pada khususnya karena tindakan pada pertandingan melawan PSS Sleman adalah pelecehan bagi nilai nilai sportivitas dalam olahraga,” demikian pernyataan Panser Biru Djabotabek dalam rilisnya, Selasa (28/10/2014).

Hinca bahkan seolah memiliki bayangan hukuman apa yang akan diberikan berkaitan dengan peristiwa memalukan tersebut.

“Silakan nanti mereka membela diri. Hukuman sudah ada di kepala saya. Karena ini semua berkaitan dengan hal luar biasa. Para pemain yang melakukan gol bunuh diri tidak ada ampun. Semua harus minggir dari sepak bola Indonesia,” kata Hinca kepada wartawan di Kantor PSSI, Jakarta, Senin (27/10/2014) seperti yang dikutip dari situs Kompas.

Seyogyanya Komisi Disiplin PSSI melakukan penyelidikan menyeluruh sebelum mengambil hukuman yang akan ditimpakan kepada pihak-pihak terkait. Termasuk isu/alasan dibalik drama sepakbola gajah tersebut.

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.