Beranda Memorabilia Kliping Media KLIPING OBITUARI! Andi M Teguh, Impian yang Belum Tercapai

KLIPING OBITUARI! Andi M Teguh, Impian yang Belum Tercapai

0
Obituari Andi M Teguh
Obituari Andi M Teguh

Andi M Teguh adalah pelatih Arema di era Galatama 1989/90 hingga 1990/92. Sebagai pelatih dia dikenal dengan taktikalnya yang cukup bagus.

Pelatih yang memiliki selera humor tinggi ini meninggal dunia saat memantau pertandingan Manstrans Bandung Raya melawan PSDS di Liga 1995/96. Pada saat itu posisinya adalah pelatih timnas Indonesia di Pra Piala Asia 1996.

Selama tiga tahun membesut Arema, Andi dikenal berani memainkan pemain yang namanya belum berkibar di pentas sepakbola Nasional.

Nama-nama seperti Singgih Pitono, Maryanto, Mecky Tata, Mahmudiana, Nanang Hidayat, Aji Santoso, ditambah pemain senior Joko Slamet, Panus Korwa adalah didikannya.

Kami mendapatkan sebuah Obituari Andi M Teguh dari sebuah kliping Tabloid Bola, dari sana didapatkan informasi ternyata dia berniat mendirikan SSB berkualitas di Lawang. Simak saja selengkapnya di bawah ini!

OBITUARI! Andi M Teguh, Banyak Rencana Yang Belum Tercapai

Andi mengalami sakit jantung, lima menit sebelum partai MBR vs PSDS digelar. “Ambil ambulan, buat pernafasan buatan,” teriak dokter Rudy Kardarsah.

Namun tidak ada pilihan lain, Andi harus dibawa ke rumah sakit. Di bawah empat payung yang melindungi dari guyuran hujan, ia dibawa ke Rumah Sakit Santo Borromeus. Sayang nyawanya tidak tertolong. Andi M Teguh pergi meninggalkan kita semua.

“Saya hanya menyesal tidak bisa mendampinginya saat terakhir,” kata Deliana, sang istri. Dellana dn tiga anaknya ikut pergi ke Bandung, tetapi tinggal di Hotel Mitra, sementara Andi ke Stadion.

Almarhum memang mengidap sakit jantung sejak melatih di Barito Putera, tiga tahun silam. “Dua kali dia masuk rumah sakit karena sakitnya kumat,” kata sang istri.

Andi Teguh mengemudikan sendiri mobilanya dari Jakarta. Mereka hanya dua kali beristirahat. “Sesampai di Bandung, kami putar-putar urus tiket ke Australia, setelah itu baru kami berangkat ke Bandung,” ungkap Deliana.

Pelatih yang enaak diajak diskusi ini pergi meninggalkan angan dan cita-cita. “Mas Teguh punya banyak rencana,” tutur Deliana.

Bulan Juni ini, dia berencana memboyong keluarganya menetap di Malang, menempati rumah mereka di kawasan Tidar. “Tapi tanpa mas Teguh tidak tahu lagi bagaimana jadinya,” lanjut Deliana yang tampak tegar menghadapi musibah.

Rencananya kepindahan itu tanggal 18 Juli, sekaligus ulang tahun keempatbelas putra pertama mereka, Ary Pratama.

Keinginan lain adalah melaksanakan umroh seusai mengantar tim PSSI Piala Asia di Abu Dhabi. Desember mendatang.

“Dia sudah memenuhi keinginan memberangkatkan haji Ibunya, kini dia berkeinginan sama, dan ingin memanfaatkan kesempatan umroh. Tapi, Tuhan memanggilnya lebih dahulu,” kata Deliana yang ditinggalkan Andi bersama empat anaknya.

Sekolah Sepakbola

Rencana kepindahan mereka ke Malang, tampaknya berkaitan erat dengan cita-cita Teguh mendirikan sekolah sepakbola yang unggul di Lawang, Kabupaten Malang. Dia sempat bercerita kepada BOLA soal keinginan tersebut.

Sayang sekali, segala cita-cita tak sempat terlaksana. Sayang pula, sampai akhir hayatnya, kontraknya dengan PSSI sebaagi pelatih tim nasional belum juga tuntas.

“Terus terang saya tidak tahu pasti soal ini, Mas Teguh hampir tidak pernah bercerita soal pekerjaan di rumah. Bahkan, gajinya di PSSI pun saya tidak tahu,” tutur sang istri. Andi hanya menyebut dia akan memperoleh Kijang, tapi entah kapan terealisir.

“Mas Teguh banyak humor, ia sering meramaikan suasana rumah. Sekarang kami merasa kesepian,” kata Deliana lagi.

Mas Andi sudah pergi. Selamat Jalan!

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.