Beranda Fokus Ikhfanul Alam, Bek yang Menjadi Anggota Brimob

Ikhfanul Alam, Bek yang Menjadi Anggota Brimob

0
Ikhfanul Alam Seorang Anggota Brimob
Ikhfanul Alam Seorang Anggota Brimob

Arema FC memiliki satu pemain yang juga polisi di musim ini. Pemain tersebut adalah Briptu Ikhfanul Alam, pemain berposisi center back di tim Singo Edan. Dalam keluarganya, bukan hanya Alam yang menjadi polisi, namun dua kakak serta almarhum ayahnya adalah anggota Polri.

Alam merupakan anak keenam dari 11 bersaudara. Sebelum dirinya menjadi anggota Batalyon D Resimen 3 Pasukan Pelopor Korps Brimob Polri Kelapa Dua Depok, dua saudaranya terlebih dahulu menjadi polisi. Kakaknya yang pertama, yakni IPDA Reni Agustiana, yang sekarang bertugas di Akpol Semarang, dan kakaknya yang nomor lima, kini bertugas di Polres Lamandau Kalteng.

“Jadi sejak 2013, di keluarga saya ada empat anggota polisi. Selain dua kakak dan saya, ada ayah juga, Ipda Mochammad Suud yang bertugas di Polres Malang (kini almarhum, Red),” ujar Ikhfanul Alam.

Sebenarnya, ada satu adiknya, yang merupakan putra nomor 7 di keluarganya, sempat mendaftarkan polisi. Akan tetapi, adiknya tersebut tidak lolos. “Mungkin rezeki dia di sektor lain. Kalau dua adik saya, sekarang masih kelas 1 dan 3 SMA, juga bercita-cita sebagai polisi,” ungkapnya.

Meski beberapa saudaranya menjadi polisi dan dua adiknya juga memiliki niat yang sama. Pria yang akrab disapa Sadam ini mengakui orang tuanya tidak memaksakan untuk anak-anaknya. Menurut dia, semua berjalan dengan sendirinya, ketika minat putra pasangan M. Suud dan Purwaningsih bercita-cita untuk menjadi polisi.

“Kecuali kakak saya yang nomor 1, tidak ada paksaan dari ayah. Kalau kakak memang diminta menjadi polisi karena dia sebagai figur tertua diantara kami semua nantinya,” papar dia kepada Malang Post.

Kakaknya yang nomor 5, menjadi polisi karena kebetulan. Kala itu, kakaknya bersekolah di Kalimantan Tengah. Namun, saat lulus coba-coba ikut tes polisi.

“Eh ternyata masuk. Ya dia menjadi polisi juga,” sebutnya.

Sedangkan dirinya, dari kecil sejatinya bercita-cita sebagai pesepak bola. Namun, tahun 2012 ketika dirinya dicoret dari PON Jatim, mencoba untuk daftar polisi. Dia masuk dan menjalani Pendidikan hampir setahun. Padahal, dia sebenarnya ingin menjadi anggota TNI, sesuai dengan saran Rahmad Darmawan.

“Saya dapat dorongan dari coach RD waktu itu. Ingin jadi marinir. Tetapi, sepertinya jalan saya di kepolisian,” terang pria asli Kepanjen tersebut.

Sadam mengakui, dirinya kala itu mendapatkan dukungan dari sang ayah, sekalipun dia tidak diwajibkan menjadi polisi. Hanya saja, untuk didikan, dia merasa almarhum ayahnya benar-benar menanamkan kedisiplinan seorang polisi sejak masa anak-anak.

“Ketika masuk tes, dia cuma mendukung dan memberi contoh. Selebihnya, adalah tugas saya agar bisa lolos. Saya benar-benar melewati proses seleksi dan pendidikan yang cukup berat. Intinya saya melanjutkan perjuangan setelah dididik disiplin sejak kecil,” tambah dia.

Akan tetapi, siapa yang sangka dirinya justru lulusan terbaik di angkatannya. Menjadi nomor 1 diantara 1157 peserta yang lulus pada Februari 2013. Dengan penilaian pada kemampuan akademik hingga fisik.

Setelah lulus, tugas berat menantinya. Dia yang masuk sebagai Brimob, mendapatkan tugas untuk menjaga keamanan di Puncak Jaya Papua. Dia merasakan bagaimana mempertaruhkan nyawa melawan OPM (Organisasi Papua Merdeka).

“Setelah itu, saya mendapatkan tugas ke Ambon untuk menjaga Pilkada. Pulang dari Ambon, tidak kalah berat. Saya bertugas sekitar 9 bulan di hutan di Poso. Kala itu marak teroris,” jelasnya.

Sadam mengakui jarang bisa berkumpul dengan kakak-kakaknya yang juga polisi. Bahkan, ketika lebaran pun jarang bisa berkumpul bareng. Sharring pengalaman terjadi dengan telepon atau pesan WhatsApp.

Ikhfanul Alam
Ikhfanul Alam

“Paling kakak saya mendorong saya bisa menjadi perwira, dengan prestasi dari sepak bola. Jarang sih kumpul, karena tugas semua,” sebut pria berusia 27 tahun itu.

Sedangkan sejak tahun lalu, Sadam telah kehilangan ayahnya yang meninggal. Itu pula yang membuat dirinya bertekad bisa bermain di Malang, tidak jauh dari sang ibu.

“Waktu ayah meninggal, saya masih bermain di Persiba Balikpapan. Seandainya ayah masih ada, pasti dia senang mengetahui saya bermain bagi Arema,” tuturnya.

Pemain yang juga jebolan Akademi Arema itu mengatakan, kini ingin berprestasi bersama Arema. Hal ini telah dia wujudkan, salah satunya ketika menjadi juara Piala Presiden 2019 lalu. Prestasi, demi membuat kesatuannya bangga dan tidak salah memberikan dispensasi bagi anggota yang memiliki prestasi dari jalur sepak bola.

“Saya mengurus dispensasi itu satu tahun sekali. Per Juli tahun ini sudah harus mengurus lagi. Tetapi saya mendapatkan dukungan,” imbuh Sadam.

Hanya saja, sekalipun memiliki surat dispensasi, dirinya juga harus siap bila negara memanggil dia untuk kembali bertugas sebagai polisi. Seperti ketika jelang Pemilu 2019 lalu. Dia bertugas menjaga TPS di sekitar Depok, tidak jauh dari markasnya.

“Kebetulan waktu itu habis juara Piala Presiden. Saya diperintahkan untuk siaga PAM Markas. Meski hanya mengawasi TPS terdekat, sampai H+1 pemilu. Saat itu Arema sudah mulai berlatih, saya kembali ke klub,” sebutnya.

Dia mengakui, selama ini dirinya jarang mendapatkan tugas ketika sedang berkompetisi. “Semoga Indonesia aman-aman saja, dan saya kembali bertugasnya saat libur tidak ada sepak bola,” tuturnya.

Sementara, sebagai pemain sepak bola yang juga polisi, dirinya tetap bertugas menjaga nama baik kepolisian, juga menjadi teladan di lapangan. “Main bola itu ada batasnya. Selama saya berkarier sebagai pemain bola dan polisi, saya harus menjadi atlet yang dipercaya, disegani tetapi juga humanis sebagai seorang prajurit Bhayangkara,” pungkas dia.

Dikutip Secara Lengkap Dari Malang-Post

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.