Beranda Fokus Gaye Alassane, Pemain Asing Pertama yang Seleksi di Arema

Gaye Alassane, Pemain Asing Pertama yang Seleksi di Arema

Gaye Alassane di kliping Tabloid KOMPETISI
Gaye Alassane di kliping Tabloid KOMPETISI

Siapa pemilik rekor pemain asing pertama yang menjalani latihan di Arema? Tidak sulit sebenarnya menjari jawabannya karena kebetulan ada sebuah kliping yang memuat profil yang pemain itu. Dia adalah Gaye Alassane.

Sayang kehadiran Gaye selama kurang lebih satu bulan tidak membuat dirinya mendapatkan kontrak, sebab dia terdepak saat kompetisi kurang dua pekan lagi.

Cerita Tentang Gaye Alassane

Gaye adalah pemain asing yang berasal dari Mali. Dia datang di Arema bulan November 1994 yang pada saat itu tengah menjalani persiapan menyambut kompetisi perdana Liga Indonesia I.

Gaye didatangkan ke Arema setelah sang pemain memiliki reputasi bagus setelah membawa klub Tiong Bharu menjadi juara Liga Singapura.

Hanya saja penampilan dirinya tidak kunjung memuaskan manakala dimainkan di laga ujicoba ataupun di sesi latihan. Tidak heran sang pemain kemudian didepak meskipun sudah lama menjalani seleksi.

“Saya tidak bisa menahan-nahan lagi. Apalagi Liga Dunhill tinggal dua pekan lagi. Saya sudah putuskan untuk memulangkan Gaye, semakin cepat semakin baik,” ungkap HM Mislan, Bos Arema pada waktu itu kepada Tabloid Kompetisi yang terbit 11 November 1994.

Menurut Mislan, Gaye telah diberi banyak kesempatan untuk memperbaiki penampilannya. Namun, dirinya tidak mampu memenuhi harapan pelatihnya. Termasuk saat ujicoba melawan PSIM di Yogyakarta (0-0) dan melawan Pelita Jaya di Semarang (0-1).

“Gaye hanya tampil selama 20 menit di Yogyakarta. Itu pun sangat buruk, sehingga segera saya ganti. Sedangkan di Semarang dia tidak diturunkan sama sekali. Kemampuannya masih jauh di bawah pemain Arema lainnya,” sambung Gusnul Yakin, sang pelatih Arema.

Didepaknya Gaye juga dikatakan untuk menghapus kecemburuan sosial, beberapa pemain Arema pada waktu itu memang tidak menginginkan Gaye karena nilai kontraknya yang teramat tinggi.

Pada saat itu dia bakal mendapatkan kontrak dengan gaji Rp3 juta perbulan, sementara gaji pemain Arema pada saat itu berkisar di angka Rp1 juta kebawah.

“Pak Tabrin (agen Gaye sekaligus mantan pengurus Liga) akhirnya dapat memahami sepenuhnya permasalahan ini, yang penting tidak ada satupun pihak yang merasa tersinggung. Toh, dipulangkannya Gaye ini juga untuk kebaikan bersama. Lebih-lebih untuk menghapus kecemburuan sosial,” ungkap Mislan.

Di sisi lain, Gaye mengaku jika dia sudah berusaha maksimal. Dia juga tidak mengalami masalah adaptasi, dia sadar diri jika kemampunnya tidak sesuai dengan keinginan dan jauh di bawak standar pemainan Arema.

Sementara itu, usai mencoret Gaye Arema sempat berkeinginan mendatangkan pemain asal Jepang ataupun Brasil. Namun pada akhirnya Arema memulai kompetisi dengan ketiadaan pemain asing.

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.