Beranda Fokus Persela vs Borneo, Kasus Dwi Kuswanto dan Wahyudi Hamisi Ditinjau Laws Of...

Persela vs Borneo, Kasus Dwi Kuswanto dan Wahyudi Hamisi Ditinjau Laws Of The Game

Persela melawan Borneo FC
Persela melawan Borneo FC

Sepakbola Indonesia kembali menjadi sebuah lelucon, hal ini tercermin dari apa yang dilakukan Dwi Kuswanto dan Wahyudi Hamisi pada pertandingan Persela melawan Borneo FC semalam.

Kami tidak akan membahas tentang apa yang terjadi sesudah pertandingan, fokus kami ada pada penalti dan kartu merah yang diberikan oleh wasit Wawan Rapiko dari Batam.

Awal Kejadian

Awal kejadian dari insiden adalah saat di menit ke-89, Wahyudi Hamisi terlihat melakukan provokasi kepada kiper Persela Dwi Kuswanto. Sang kiper yang justru terpengaruh oleh provokasi lawan sehingga langsung menanduknya.

Memprovokasi dan diprovokasi adalah sebuah trik dalam pertandingan sepakbola, banyak pemain yang kuat mental namun tidak sedikit yang akhirnya terpancing. Insiden Zinedine Zidane dengan Marco Materazzi di Piala Dunia 2006 adalah contoh nyata betapa pemain dunia pun tidak luput dari aksi brutal.

Apa yang diberbuat oleh Dwi ternyata sudah tercantum dalam aturan FIFA bab violent conduct atau perilaku kekerasan.

In addition, a player who, when not challenging for the ball, deliberately strikes an ooponent or any other person on the head or face with hand or arm, is guilty of violent conduct unless the force used was negligible.

(Selain itu setiap pemain yang tidak sedang memperebutkan bola, dengan sengaja memukul kepala atau bagian tubuh lain lawannya dengan lengan atau tangan, dinyatakan bersalah sebagai perilaku kekerasan kecuali dengan kekuatan yang diabaikan)

Sementara hukumannya juga tertuang jelas

an opponent – indirect or direct free kick or penalty kick

(untuk lawan – tendangan bebas tidak langsung atau langsung atau tendangan penalti)

Aksi yang mungkin hampir mendekati adalah saat laga Indonesia melawa Myanmar pada Piala AFF U-15 di Sidoarjo 2018. Saat itu Ernando Ari terlihat menendang pemain Myanmar saat pemain lawan mencoba menghalanginya.

Wasit tanpa ampun langsung menunjuk titik putih dan memberikan kartu kuning kepada sang kiper. Seluruh pemain Indonesia nampak memprotes, termasuk juga Fakhri Husaini yang geleng-geleng.

Alasan-alasan Protes Persela

Persela tidak serta merta disalahkan kalau melakukan protes, karena di lapangan pemain Borneo FC juga mendapatkan kartu merah.

Nil Maizar menyatakan jika timnya harusnya mendapatkan tendangan bebas dari gawang karena ada kartu merah yang juga diberikan kepada lawan.

Jelas dalam pertandingan di lapangan dan tayangan ulang pemain yang mendapatkan kartu merah pertama adalah Wahyudi Hamisi.

Nil pun mempertanyakan dengan keras keputusan wasit ini berdasarkan pasal berapa di aturan FIFA, karena memang jika penalti harusnya pemainnya saja yang mendapatkan kartu merah.

“Wasit membuat keputusan yang dipenuhi keragu-raguan,” tegas Nil.

Nil merujuk pada headbutts yang didahului pelanggaran. Apa yang diutarakan Nil ini sesuai dengan pertandingan Liverpool melawan Newcastle 2012 lalu. Pada saat itu Pepe Reina mendapatkan kartu merah setelah menanduk pemain Newcastle sementara sang lawan mendapatkan kartu kuning.

Respon Borneo

Sementara itu, Borneo enggan mengomentari penalti yang diberikan karena menurut mereka sudah sesuai dengan aturan permainan.

Mereka memberikan sorotan atas keamanan dan kenyamanan stadion hasil inspeksi dari PT Liga yang sepertinya tidak dilaksanakan dengan baik di Lamongan.

“Regulasi yang baru membuat kita harus belajar. Tentunya saya tidak mencampuri pasal per pasal untuk regulasi yang baru, tapi hari ini kita juga melihat sistem keamanan yang harus diperbaiki dan stadion juga perlu (diperbaiki),” ujar manajer Borneo FC, Andri Dauri Husain.

Kesimpulan

Benar dikatakan jika ada aturan kekerasan di dalam pertandingan akan berimbas kepada hukuman tendangan bebas langsung/tidak langsung atau penalti.

Namun kalau dicermati pertandingan semalam, pemain Borneo FC-lah yang mendapatkan kartu merah lebih dahulu (silahkan dilihat video di atas detik 0:18). Artinya case-nya sama dengan pertandingan Liverpool melawan Newscastle.

Banyak yang menyatakan jika hukuman penalti sudah benar dilakukan. Namun bagi saya, jika mengacu siapa yang lebih dahulu dikartu merah, maka keputusannya adalah pemain Borneo lebih dahulu melanggar dan harusnya adalah tendangan bebas untuk Persela.

Semua boleh berbeda pendapat. Salam!

Abi Yazid – Jurnalis dan Fotografer Goal.com

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.