Anjing Kepolisian Itu dari Malang Loh! Tapi Malang Juga Pernah Ada Serangan Anjing Gila

    0
    German Shepherd! Salah satu jenis anjing kepolisian
    German Shepherd! Salah satu jenis anjing kepolisian

    Kota Malang juga punya andil besar untuk Kepolisian Negara Republik Indonesia. Hal itu tidak lepas dari sejarah keberadaan Anjing Kepolisian atau yang biasa disebut K9.

    Pertama kali, anjing Kepolisian dipakai pada tahun 1952 di Malang, pada saat itu Polisi Keresidenan Malang mendapatkan bantuan gratis dua ekor anjing impor bernama German Shepherd dari pengusaha Belanda yang kembali ke Negaranya. Pada masa itu, Malang adalah satu kawasan favorit tempat tinggal warga Belanda terutama pengusaha. Dan di tahun 1952 atau tujuh tahun setelah Kemerdekaan, banyak pengusaha Belanda yang pulang kampung.

    Pihak kepolisian kemudian meminta bantuan Ny Roll Moll, seorang warga negara Jerman. Hewan itu kemudian dilatih untuk melacak pelaku kejahatan yang cukup marak di tahun 50-an. Hasil didikan itu cukup bagus karena mampu melacak, menjaga, hingga menyerang. Sehingga akhirnya direkrut oleh Polisi.

    Secara nasional baru pada tahun 1959 terbentuk bagian khusus untuk menangani Anjing Kepolisian yang bernama Sub Seksi Brigade Anjing pada Seksi Kejahatan Dinas Reserse Kriminal yang bertempat di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

    Kemudian tahun 1970 berubah nama jadi Brigade Satwa. Brigade Satwa kembali diubah menjadi Satuan Utama Satwa Polri, lalu berubah lagi menjadi Sub Direktorat Satwa Polri. Kini nama organidasi dipatenkan menjadi Direktorat Polisi Satwa Badan Pemelihara Keamanan Mabes Polri. Pimpinannya polisi berpangkat Brigadir Jenderal.

    Darurat Anjing Gila Tahun 1952

    Selain punya prestasi tentang sejarah anjing kepolisian, Malang juga pernah menyimpan cerita seram tentang serangan Anjing gila atau rabies. Meskipun konon tingkatannya tidak seperti penyakit PES yang melanda Malang pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

    Rabies adalah penyakit serius yang menyerang otak dan sistem saraf. Penyakit ini digolongkan sebagai penyakit mematikan yang harus ditangani dengan cepat.

    Penyakit ini bisa menular kepada manusia jika tergigit atau tercakar. Karena pada tahun 50-an vaksinasi rabies belum marak, maka pemerintahan Kota Malang pada waktu itu memberikan surat edaran khusus pada 31 Maret 1952 tentang sikapnya.

    Pengumuman tentang penyakit rabies dari Pemerintah Kolonial Belanda
    Pengumuman tentang penyakit rabies dari Pemerintah Kolonial Belanda

    Pengumuman itu menyatakan jika hewan yang ada di luar rumah atau pekarangan yang tertutup harus diberangus atau dimusnahkan. Sementara bagi warga yang memelihara anjing diwajibkan mengandangkan piaraannya. Karena jika berkeliaran akan dianggap sebagai hewan yang liar dan jika dimusnahkan oleh pemerintah kota maka pemilik tidak bisa menuntut, bahkan sang pemilik akan dituntut karena melanggara peraturan daerah.

    Selain itu, pada pengumuman itu juga diungkapkan jika selama masa tersebut, semua hewan yang dipelilihara (anjing beserta kucing, dan kera) dilarang diajak jalan-jalan di wilayah Malang. Sementara bagi orang luar Malang tidak boleh membawa masuk atau keluar.

    Tidak ada informasi selanjutnya yang menyatakan kapan wabah rabies itu berakhir di Malang.

    Tinggalkan Komentar

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.