Beranda Soal Ngalaman Asal Mula Sebutan Malang Kota Bunga

Asal Mula Sebutan Malang Kota Bunga

0
Pasar Bunga di Alun-Alun, Perkiraan Sebutan Malang Kota Bunga Berasal.
Pasar Bunga di Alun-Alun, Perkiraan Sebutan Malang Kota Bunga Berasal.

Kota Malang bukan sebuah kota yang menghasilkan bunga, namun ada sebutan Malang Kota Bunga atau Makobu. Bagaimana asalnya?

Bicara Malang kota Bunga, salah satu catatan sejarah pertama yang menyatakan jika keindahan bunga di Malang diaplikasikan pada saat Rakai Knuruhan memberikan penghargaan kepada Bulul. Pada prasasti yang bertarikh Saka 856, sekitar tanggal 4 Januari 935 M, dikatakan jika Bulul diberi Sima (tanah bebas pajak) karena mampu membuat sebuat taman dengan bunga yang warna-warni.

Menurut pakar sejarah dari Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono, taman yang dibuat Bulul ini berisi bunga warna-warni. Mulai dari melati, mawar, cempaka, sedap malam, serta bunga-bunga hias lainnya. Taman tersebut dahulunya diperkirakan Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing karena pernah ditemukan di sekitar petirtaan Bunulrejo, namun aat ini petirtaan itu sudah lenyap karena sudah diurug tanahnya untuk dibangun perumahan..

“Sejarah taman di Kota Malang ini sebenarnya sudah cukup tua. Karenanya, tidak salah jika Malang disebut sebagai kota bunga. Karena memang ada akar sejarahnya,” kata Dwi.

Sejarah taman di Malang tak hanya berhenti pada era Kanuruhan (Kanjuruhan). Saat ini masih banyak bertebaran taman-taman peninggalan Tumapel maupun Kerajaan Singhasari, baik yang berada di Kota Malang, Batu, ataupun di Kabupaten Malang.

Salah satu contoh taman yang tercatat dalam sejarah adalah taman yang dibangun pada era Tumapel, yakni Taman Baboji atau Pertirtaan Watugede. Taman yang berada di Kecamatan Singosari ini tercatat dalam Pararaton. Di taman inilah untuk pertama kalinya Ken Arok dan Ken Dedes bertemu.

Beralih ke masa modern, pada 1922 Pemerintah Kolonial memberikan sebutan de Bloemenstad (Kota Bunga). Sebutan ini diberikan karena pada waktu itu ada kebijakan Pemerintah Kotapraja Malang yang sedang berkonsentrasi membangun semua taman-taman kota dengan bermacam-macam tanaman. Pembangunan ini ditugaskan kepada Cultuurschool (Sekolah Pertanian/SPMA) yang mempunyai tugas menanamkan cinta tumbuhan pada masyarakat Malang.

Taman-taman pun mulai marak di Malang, dan kemudian sesuai keputusan Pemerintah pada tahun 1937 no. 24 Gemeente Malang juga membangun Pasar Bunga di Alun-alun Kota Malang, yang bertujuan untuk menambah keindahan kota.

Di awal pendirian, Pasar Bunga sangat ramai karena pada saat itu bunga banyak dibutuhkan untuk kegiatan upacara tradisional juga upacara pemakaman bagi masyarakat Bumiputera atau penduduk asli Indonesia, sedangkan penduduk Eropa lebih mengenal bunga sebagai hiasan rumah.

Kebutuhan akan bunga, kemudian didukung dengan lokasi yang strategis yaitu berada di pusat kota, membuat Pasar Bunga ini bisa bertahan hingga paska kemerdekaan bahkan disaat beberapa pasar di Kota Malang hancur dan beberapa pasar ditutup karena sepi.

Menurut Dwi, sebutan kota Bunga semakin terlihat saat ada KNIP di Gedung Societet Concordia pada 1947 (sekarang Sarinah Malang). Pada saat itu banyak warga Belanda yang senang dengan adanya bunga di Pasar Bunga Alun-alun.

“Kemudian mereka menulis dalam sebuah majalah bahwa kalau ingin melihat bunga yang bagus, datanglah ke Malang,” terang Dwi.

Pasar Burung dan Bunga di Splendit
Malang Kota Bunga dengan Pasar Burung dan Bunga di Splendit

Hingga tahun 1960-an, Pasar Bunga masih hadir di Alun-alun. Bahkan jumlah pedagang sudah meningkat seperti penjual gula kapuk, penjual balon yang diisi karbit, dan lain sebagainya.

Kemudian, di periode tahun yang sama. Pemerintah Kodya Malang kemudian membangun Pasar Bunga dan burung di wilayah Splendid dan pasar itu berkembang mulai sekarang.

Saat ini, Walikota Malang HM Anton menggalakan revitalisasi taman dengan penanaman bunga-bunga untuk memperindahnya. Dia pun tidak risih manakala mendapatkan sebutan Wagiman atau Walikota Gila Taman.

“Perwujudan Malang sebagai Kota Bunga memang harus dihadirkan dari keberadaan taman-taman kota yang ada,” terangnya suatu ketika.

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.