Beranda Fokus Belum Saatnya Menghakimi Juan Pablo Pino

Belum Saatnya Menghakimi Juan Pablo Pino

Juan Pablo Pino memang tidak sempurna, namun bisa jadi itu karena memang tipikalnya karena banyak bintang dunia yang bermain sepertinya.

0
Juan Pablo Pino belum sempurna tetapi bisa jadi karena tipikalnya.
Juan Pablo Pino belum sempurna tetapi bisa jadi karena tipikalnya.

Empat pertandingan awal Gojek Traveloka Liga 1 telah dijalani Arema dengan cukup baik.

Raihan 3 kemenangan dan 1 hasil imbang berhasil membawa tim asuhan Aji Santoso ini bertengger di posisi 2 klasemen sementara. Bukan hanya itu, catatan clean sheet di empat laga awal juga menjadi warning bagi seluruh pesaing mereka di Liga 1.

Namun sejujurnya, secara permainan, Arema belum begitu memuaskan. Hanya laga terakhir melawan Barito yang bisa dibilang sedikit ada peningkatan. Lini belakang memang menjadi kekuatan utama sejauh ini, namun tidak ditopang dengan kreatifitas lini tengah mereka. Arema seperti takut menguasai bola, terlebih saat lawan melakukan tekanan. Umpan-umpan direct ke depan sering jadi opsi, meskipun itu terlihat tidak efektif.

Satu permasalahan yang timbul adalah belum adanya sosok creator di lini tengah Arema. Hanif Sjahbandi, Hendro Siswanto, ataupun Feri Aman lebih bertipikal sebagai gelandang petarung. Adam Alis sebenarnya cukup menjanjikan, namun di usianya yang masih muda dan mengingat ini musim pertamanya membela Singo Edan, rasanya belum saatnya ia mengemban peran sebesar itu.

Lalu muncullah nama seorang bintang asal Kolombia, bernama Juan Pablo Pino. Berstatus marquee player, mantan pemain Galatasaray dan AS Monaco ini langsung menjadi harapan baru Aremania. Ya, selepas kepergian Gustavo Lopez, Aremania benar-benar merindukan sosok gelandang stylish. Dari mulai Mossi, Teruel, hingga Bertoldo belum ada yang membuat manajemen terpikat.

Turun di pertandingan kedua melawan Bhayangkara, Pino tidak tampil mengecewakan. Bahkan dia turut andil dalam gol kedua Arema yang dicetak Vizcarra. Tendangan pojoknya menghasilkan kemelut yang akhirnya berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh Vizcarra. Secara keseluruhan, Pino bermain cukup baik dan tidak underrated.

Absen di pertandingan ketiga, Pino hadir kembali di pertandingan keempat saat menghadapi tim asuhan JFT (Jacksen F. Tiago), Barito Putra. Sama seperti debutnya, Pino dimasukkan Aji Santoso di babak kedua.

Nah, di pertandingan inilah Pino banyak menjadi sorotan. Gelandang berusia 30 tahun ini memang terlihat ‘malas’ sekali untuk berlari. Saat tak menguasai bola, ia hanya berjalan dan tak ada usaha untuk merebut bola. Entah karena apa, apa mungkin kondisi fisiknya yang belum prima atau apa juga tidak ada yang tahu. Bahkan Aji pun juga heran dengan penampilan Pino di laga itu.

Tapi jangan hanya melihat dari satu sisi saja. Coba kita lihat bagaimana aksinya saat bola ada di kakinya. Sejauh mata ini memandang layar kaca TV One, Pino berhasil mencetak dua umpan kunci dan satu akselerasi yang membahayakan pertahanan Barito.

Usaha pertamanya saat umpan lobnya kurang cepat digapai Vizcarra dan berhasil dengan sigap dihalau oleh Shahar. Kedua, saat umpan terobosannya di akhir laga gagal dimanfaatkan Gonzales yang sudah berada di posisi yang ideal untuk cetak gol. Tendangan pemain 40 tahun yang baru pulang umrah itu hanya menyamping di sisi kanan gawang Shahar. Dan terakhir, akselerasinya yang mengelabui tiga pemain bertahan Barito harus dihentikan secara ilegal oleh pemain bertahan Barito.

Dari catatan yang tak sampai 45 menit itu, tak patut rasanya jika kita menilai Pino terlalu jauh. Dia masih punya waktu untuk membuktikan diri. Terlebih ini pertama kalinya ia merasakan kompetisi tanah air, yang jelas amat jauh berbeda dengan Ligue 1 Prancis ataupun Süper Lig Turki. Beri dia waktu untuk beradaptasi dengan kultur sepak bola Indonesia.

Gaya permainannya sederhana dan taktis, mencerminkan jika dia memang lulusan kompetisi tinggi Eropa. Mungkin tipikalnya sama seperti Miralem Pjanic di Juventus, yang lebih stylish dan tidak bermental petarung. Bahkan Allegri, pelatih Juventus, menyadari kelemahan gelandang asal Bosnia tersebut.

Allegri mengatakan bahwa Pjanic bisa menjadi salah satu gelandang terbaik di dunia, tapi kelemahannya adalah saat bola lepas dari kakinya, seakan dunia telah berakhir.

Andai saja Aji bisa seperi Allegri, yang mengetahui kelemahan pemainnya dan tahu bagaimana cara menutupinya. Di Juventus, Pjanic nyaman memainkan perannya karena ada Khedira yang lebih bertipikal petarung. Selain itu juga ada Mandzukic yang musim ini bermain lebih ke belakang dan bertipikal layaknya pejuang 45 yang tak kenal menyerah merebut bola. Dengan begitu, Pjanic bisa mengeluarkan potensi terbaiknya.

Sekarang dengan menantikan performa terbaik Pino, ada baiknya Arema mencarikan duet yang pas untuknya di lini tengah. Banyak nama yang layak untuk menjadi partnernya. Ada Hendro, Hanif, ataupun Jad Noureddine yang bisa membuatnya nyaman memainkan perannya. Beri dia waktu hingga dia menjadi idola baru. Tak mustahil jika pada suatu saat nanti pemain ini bisa membuat ribuan Aremania bisa move-on dari seorang Gustavo Lopez.

Ditulis oleh @cahyo2002

Tinggalkan Komentar