Beranda Artikel Buku Harian Gambarkan Kengerian Agresi Militer Belanda Di Malang

Buku Harian Gambarkan Kengerian Agresi Militer Belanda Di Malang

0

Zus Wiet, namanya kurang terkenal dalam buku ensiklopedia yang membahas perjuangan anak-anak Malang melawan penjajah saat agresi mliter atau aksi polisional Belanda 1947. Tetapi kiprahnya, sangat dibutuhkan oleh pejuang di masa itu yang meregang nyawa di tembus peluru serdadu Belanda. Di buku harian, dia bercerita.

2016_01_11_pengalamanku di daerah pertempuran malang selatan
Buku harian dari Zus Wiet

Roswita Tanis Djajadiningrat, begitu nama sosok priayi dari Jakarta yang menjadi memilih menjadi perawat untuk mengabdikan dirinya di Republik Indonesia. Dikutip dari National Geographic, Sweet atau Zus Wiet panggilan akrabnya, semasa kecil bersekolah di sekolah buatan Belanda. Karena berasal dari keluarga berada dirinya mudah bergaul dengan orang-orang Belanda meskipun di akhir cerita dia merasa sangat benci dengan Belanda.

Anak dari Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat dan Raden Ajeng Soewitaningrat ini adalah gadis pintar yang masih keponakan dari Hoessein Djajadiningrat, orang Indonesia pertama yang bergelar doktor, yang dikenal juga sebagai ‘bapak metodologi penelitian sejarah Indonesia’.

Saat ditugaskan ke Malang yang saat itu masih banyak berupa hutan di wilayah Kabupaten-nya, Zus Wiet berusia 28 tahun. Dia bertugas di beberapa daerah di Malang seperti Turen, Ngadirejo (Kromengan), Sumberpucung, Pujon hingga Tumpang.

Perempuan kuat, mengangkat pejuang atau sipil yang tertembak. Mereka berjalan hingga puluhan kilometer (Foto: National Geographic)
Perempuan kuat, mengangkat pejuang atau sipil yang tertembak. Mereka berjalan hingga puluhan kilometer (Foto: National Geographic)

Suatu ketika, Zus Wiet bercerita jika dirinya mendengar tembakan keras dari jarak tiga kilometer dari Turen. Tembakan itu berada dari operasi Koninklijke Landmacht menyergap sembilan orang Mobiele Brigade Kepolisian. Semuanya tewas dalam serangan Belanda yang berkode Operatie Product ini.

“Apa yang kusaksikan di dalamnya sungguh menegakkan bulu roma. Sembilan orang terkapar di tanah mati dengan tengkoraknya pecah. Wajahnya rusak tak dapat dikenali lagi. Pada yang seorang biji matanya dicongkel, pada yang lain sisa lidahnya yang dipotong terjulur keluar, yang lain lagi hidungnya dipotong,” tulis Zus Wiet di buku hariannya yang menggambarkan kejadian yang mencekam tersebut pada Kamis, 4 September 1947.

“Untuk pertama kalinya aku merasakan kebencian, kebencian yang dalam dan tidak terkekang.”

Dalam sejarah Indonesia, saat terjadi agresi militer Belanda mengerahkan 10.000 pasukan ke wilayah Jawa dan Sumatera dengan tujuan merebut daerah perkebunan. Aksi tersebut terjadi karena kesalahpahaman ketika menerjemahkan perjanjian Linggarjati. Maksud Belanda adalah untuk menertibkan wilayah sesuai perjanjian Linggarjati. Sementara bagi Indonesia hal itu adalah pengingkaran perjanjian.

Malang yang merupakan daerah perkebunan turut terkena serangan. Pasukan Belanda menuju Malang dengan cara berjalan dari Surabaya sembari mengamankan wilayah perkebunan di Pasuruan dan sekitarnya.

Sebenarnya aksi ini dilakukan pada Juli hingga Agustus yang kemudian diakhiri dengan gencatan senjata melalui PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa). Tetapi itu hanya terjadi di wilayah pusat, karena di bulan September masih saja terjadi serangan tipis-tipis yang melibatkan Belanda dengan pejuang di daerah lain seperti Malang.

Zus Wiet menceritakan jika aksi serdadu Belanda itu kemudian mendapatkan balasan dari pejuang Indonesia, karena pada 11 November ditemukan tiga tentara Balanda terbunuh dengan kondisi yang tidak berbentuk lagi.

“Haruskan aku menyaksikan ini untuk dapat melihat dengan mata-kepalaku sendiri mengenai kekejaman dalam peperangan. Kekejaman, yang dilakukan oleh kedua pihak? Sungguh mengerikan!” tulisnya.

Pada kurun waktu Agustus hingga Desember 1947,  Dia bersama kompatriotnya sibuk merawat pejuang dan warga sipil di Malang Selatan, dirinya melakukannya dengan total. Meskipun dalam buku hariannya tertulis jika dia sedang putus cinta dan mencari pelampiasan untuk melupakan, caranya dengan aksi sosial membantu orang lain.

“Bekerja, bekerja keras, hingga akhirnya lupa akan penderitaan sendiri. Kini aku memandang semua itu dengan pikiran tenang dan rasionil,” tulisnya.

Dalam buku hariannya, dia memberikan kritik tajam terhadap pemerintahan di daerah lain yang seperti tak acuh terhadap perjuangan saudaranya, di Malang para penduduknya selama kurang lebih selama tiga bulan bermain dalam desingan peluru.

Sementara di kota lain seperti Yogyakarta, Zus Wiet melihat banyak orang sudah santai jalan bersama mobilnya. Termasuk para dokter yang tinggal di kota lain dia anggap sibuk memperkaya diri dan tidak bersedia menggantikan rekannya di medan perang.

“Pejuang sudah lebih dari tiga bulan berada di medan pertempuran, namun juga belum ada yang diganti. Sementara di kota-kota besar masih banyak pemuda-pemuda yang menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan kian kemari dan bermalas-malasan.”

Kadang perawat juga memberikan hiburan kepada masyarakat di daerah pengungsian (Foto: National Geographic)
Kadang perawat juga memberikan hiburan kepada masyarakat di daerah pengungsian (Foto: National Geographic)

“Gencatan senjata telah diumumkan. Namun, aku tahu dengan pasti bahwa ini tidak akan berarti perdamaian bagi kita. Dalam waktu dekat kita akan dihadapkan kembali pada aksi polisionil yang lebih ganas,” tulis Zus Wiet di bulan September 1947.

Dan ternyata apa yang diprediksikan Zus Wiet benar terjadi setahun kemudian, tepatnya pada Desember 1948. Di saat itu, Belanda melancarkan agresi militer kedua dengan sebutanOperatie Kraai atau Operasi Gagak.

Buku harian ini diterbitkan kali pertama oleh Martinus Nijhoff di Den Haag, Belanda, dengan judul Herinneringen van een Vrijheidsstrijdster (Kenangan Pejuang Kemerdekaan) pada 1974. Kemudian, Balai Pustaka Indonesia menerbitkan dengan bahasa Indonesia dengan judul, Pengalamanku di Daerah Pertempuran Malang Selatan. (Artikel yang sama ditulis di Ngalam.co)

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.