Beranda Artikel Cerita Kutukan Prasasti Sangguran Dari Kota Batu

Cerita Kutukan Prasasti Sangguran Dari Kota Batu

0
Prasasti Sangguran (Foto: Detik)
Prasasti Sangguran (Foto: Detik)

Salah satu prasasti yang berasal dari wilayah Malang namun berlokasi tidak di Malang selain Prasasti Dinoyo adalah Prasasti Sangguran. Prasasti ini berasal dari wilayah Batu yang berangka tahun 982 Masehi.

Prasasti Sangguran (Foto: Detik)
Prasasti Sangguran saat ditemukan (Foto: Detik)

Prasasti yang semestinya masih berada di Desa Sangguran yang kini berganti nama menjadi Dusun Kajang, Mojorejo, Junrejo, Batu itu sempat dibawa ke Skotlandia.

Ceritanya, saat Thomas Stamford Raffles diangkat menjadi Letnan Gubernur Hindia Belanda di Jawa pada tahun 1811. Sosok asal Inggris ini termasuk orang yang suka jalan-jalan dan sejarah Jawa. Kemudian dirinya , menerima hadiah dari Colin Mackenzie sebuah prasati. Selanjutnya prasasti itu diberikan sebagai hadiah kepada rekannya Gubernur sebelumnya yaitu Lord Minto.

Lord Minto pada 1813 menggunakan kapal Matilda untuk membawa Batu itu dari Surabaya ke India dan kemudian dibawa lagi ke Skotlandia. Selama kurang lebih 200 tahun, prasasti dengan tinggi 160 sentimeter, lebar 122 sentimeter, dan tebal 32,5 sentimeter itu berada di halaman belakang rumahnya dan anak keturunannya.

Pemerintah Indonesia pada tahun 2006 sempat berusaha mengembalikan prasasti itu ke Indonesia, namun keluarga Lord Minto meminta kompensasi yang begitu besar sehingga sulit untuk dituruti.

Isi Prasasti

Prasasti Sangguran ditulis dalam aksara dan bahasa Jawa kuno. Isi pokoknya adalah tentang peresmian Desa Sangguran menjadi sima (tanah yang dicagarkan) oleh Sri Maharaja Rakai Pangkaja dyah Wawa Sri Wijayaloka Namestungga pada 14 Suklapaksa bulan Srawana tahun 850 Saka (2 Agustus 928 Masehi).

Prasasti tersebut menyebutkan pula nama Rakryan Mapatih I hino mpu Sindok Sri Isanawikrama dan istilah sima kajurugusalyan di Mananjung. Yang menarik, sima tersebut ditujukan khusus bagi para juru gusali, yaitu para pande atau pandai (besi, perunggu, tembaga, dan emas). Isi prasasti seperti itu boleh dikatakan amat langka, jarang terdapat pada prasasti-prasasti lain yang pernah ditemukan di Indonesia.

Ahli epigrafi Boechari menafsirkan bahwa mungkin pada masa pemerintahan Raja Wawa ada sekelompok pandai atau seorang pemuka pandai, yang berjasa kepada raja. Pendapatnya didasarkan atas analogi dari kitab kuno Pararaton yang menyebutkan Mpu Gandring, tokoh yang dianggap pembuat keris legendaris, bersama keturunannya mendapat hak istimewa dari Sri Rajasa (Ken Arok) berupa anugerah sima kajurugusalyan.

Prasasti Sangguran juga dianggap unik karena menyebutkan istilah rakryan kanuruhan. Menurut JG de Casparis, kanuruhan berasal dari nama Kerajaan Kanjuruhan yang disebut dalam Prasasti Dinoyo (760 Masehi). Kerajaan itu pernah berpusat di sekitar Malang sekarang.

Rupa-rupanya Kerajaan Kanjuruhan itu pada suatu ketika ditaklukkan oleh Raja Mataram. Namun keturunan raja-rajanya tetap berkuasa sebagai penguasa daerah dengan gelar rakryan kanuruhan. Oleh karena gelar kanuruhan ditemukan di antara tulisan-tulisan singkat pada salah satu gugusan Candi Loro Jonggrang (Prambanan), diperkirakan sebagai penguasa daerah, dia menyumbangkan candi perwara pada candi kerajaan itu.

Kutukan Prasasti

Dikutip dari Tempo, Prasasti Sangguran mempunyai kutukan bagi sesorang yang telah memindahkannya. Kutukan itu tertulis jelas di baris ke-28 sampai ke-39 di bagian verso (belakang).

Kutukan yang pertama terjadi kepada Lord Minto, meskipun membawa pulang ke Skotlandia, dirinya belum pernah melihat prasasti itu. Enam bulan setelah menerima batu itu, Lord Minto dicopot dari jabatannya sebagai Gubernur Jenderal, tanpa diketahui sebab-musababnya. Dia pulang ke Inggris dalam keadaan tidak sehat sehingga wafat di Stevenage pada 21 Juni 1814 dalam perjalanannya menuju Skotlandia.

Prasasti Sangguran ada di belakang rumah Lord Minto (Foto: Detik)
Halaman rumah Lord Minto tempat untuk menyimpan prasasti (Foto: Detik)

Menurut Sejarawan asal Inggris Peter Carey, keluarga Lord Minto mempunyai masalah finansial. Itulah sebabnya, ketika Tim arkeolog dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata berupaya memulangkan batu Jawa itu ke Indonesia pada 2006, pihak keluarga Minto meminta kompensasi yang tinggi. Negosiasi menjadi kompleks dan rumit sehingga berakhir dengan kegagalan.

Nasib Raffles pun sama. Setelah pemberlakuan Konvensi London, pada Agustus 1814, Raffles ditarik pulang ke Inggris dan digantikan oleh John Fendall. Meski ia kembali lagi ke Hindia Timur pada 1818 sebagai Gubernur Bengkulu, pada 1823 ia kembali dipulangkan. Raffles meninggal dunia sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-45 pada 5 Juli 1826. Sampai sekarang, posisi pasti dari makamnya di Hendon, Inggris tidak pernah bisa ditentukan.

Hal serupa juga terjadi pada Bupati Malang yang bertanggung jawab atas pemindahan tugu tapal batas Desa Sangguran itu, Kiai Tumenggung Kartanegara alias Kiai Ranggalawe. Ia diyakini mulai memerintah sekitar 1770 dan wafat pada 1820. Namun, memori penduduk terhadap Kiai Ranggalawe seperti terhapus. Terbukti bahwa situs makam sang bupati tidak pernah diketahui keberadaannya.

Tinggalkan Komentar