Cerita Tentang Gedung PLN Di Kayutangan

    Gedung PLN di Kayutangan ini sudah ada sejak zaman Belanda. Konon, gedung ini dibuat dengan menghadap langsung Sungai Brantas dengan tujuan untuk mendapatkan sumber listrik dari derasnya air sungai.

    0
    Gedung PLN di Kayutangan pada periode 30-an.
    Gedung PLN di Kayutangan pada periode 30-an.

    Salah satu bangunan peninggalan Belanda yang ada di kota Malang adalah gedung PLN di Kayutangan. Saat ini gedung tersebut beralamat di Jalan Basuki Rahmat 100, Klojen. Tepat di seberang Mc Donald’s.

    Dikutip dari kekunaan, awalnya gedung PLN di Kayutangan ini merupakan gedung milik kantor perusahaan listrik swasta yang disebut N.V. Algemeene Nederlandsch-Indische Electricities Maatschappij (ANIEM) yang dibangun pada tahun 1930. ANIEM sendiri berada dibawah perusahaan listrik milik Belanda yang bernama N.V. Handlesvennootschap yang berpusat di Amsterdam.

    Di wilayah Hindia Belanda, pada tahun 1909 ANIEM diberi hak untuk melakukan pengelolaan kelistrikan. Sehingga mereka diberi keleluasaan untuk membangun pembangkit listrik yang ada di Pulau Jawa, salah satunya di Malang.

    Awalnya gedung PLN di Kayutangan ini hanyalah kantor biasa, kemudian dilakukan renovasi karena pada saat itu banyak warga Belanda yang tinggal di Malang memerlukan listrik.

    Gaya arsitekturnya yang digunakan untuk gedung ini berlanggam Nieuwe Bouwen dengan ciri khas beratap datar, gevel horisontal, dan berbentuk kubus.

    Bangunan ini juga memiliki beberapa ruang bawah tanah yang tertutup. Fungsi dari ruang-ruang tersebut adalah tempat untuk berlindung saat bahaya atau tempat untuk menyelamatkan alat-alat vital listrik saat perang terjadi.

    Daya listrik pada masa Kolonial Belanda untuk wilayah Malang sangat kecil. Listrik pada saat itu hanya digunakan oleh warga Belanda dan Tiongkok. Sementara orang pribumi masih menggunakan lampu api.

    Sementara itu tentang sumber daya listrik yang didapatkan, hingga saat ini belum ada data yang valid darimana sumber listrik untuk wilayah Malang.

    Konon, sumber listrik PLN di zaman Belanda berasal dari aliran Sungai Brantas yang dimanfaatkan. Tetapi saat ini tidak ada bukti satupun yang tersisa meskipun bagian belakang gedung PLN yang ada di Kayutangan ini menghadap langsung ke Sungai Brantas.

    Di tahun 1942, saat Belanda menyerah kepada Jepang, ANIEM harus merelakan lahan bisnisnya diambil alih oleh lawan mereka. Jepang sendiri kemudian menamai perusahaan listriknya menjadi Shobu Denki Sha untuk mengelola listrik di Jawa Timur.

    Saat Indonesia merdeka pada tahun 1945, gedung ini dinasionalisasi menjadi milik pemerintah. Kemudian, melalui Penetapan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1945 tertanggal 27 Oktober dibentuk Jawatan Listrik dan Gas Sumatera, Jawa, dan Madura di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Kerja.

    Gedung PLN di Kayutangan sekarang.
    Gedung PLN di Kayutangan sekarang.

    Ketika Malang terjadi pembumihangusan agar bangunan tersebut tidak dimanfaatkan kembali oleh Belanda yang akan kembali ke Indonesia, gedung tersebut turut dibakar. Baru pada tahun 1950-1955, gedung tersebut direnovasi dengan mengembalikan ke bentuk semula.

    Kemudian dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1959 tentang Penentuan Perusahaan Listrik dan/atau Gas milik Belanda yang dikenakan nasionalisasi, N.V. ANIEM pun diambil alih oleh Pemerintah RI. Setelah sempat mengalami pergantian sejumlah nama, akhirnya menjadi Perusahaan Listrik Negara (Persero) seperti sekarang ini.

    Tinggalkan Komentar

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.