Beranda Soal Ngalaman Cerita Tentang Kenangan Terminal Sawahan!

Cerita Tentang Kenangan Terminal Sawahan!

0
Terminal Sawahan kini menjadi SPBU Sawahan.
Terminal Sawahan kini menjadi SPBU Sawahan.

Terminal Sawahan adalah salah satu dari tiga terminal bersejarah di Kota Malang yang kini tinggal kenangan.

Terminal ini dulunya menjadi terminal penghubung Kota Malang dengan kawasan Malang selatan, dan daerah Malang timur dan juga kota-kota besar lainnya setelah Terminal Petjinanstraat di Selatan Pasar Besar sudah tidak layak dan menampung jumlah kendaraan dan penumpang sekitar tahun 1950.

Terminal ini selesai dibangun pada tahun 1951, terminal yang terletak di ujung pertigaan Jalan Yulius Usman (TonganStraat) dan Jalan Sulawesi (Celebes weg) ini melayani bermacam rute bus.

Mulai dari jurusan Malang ke arah Timur dan Barat seperti : Malang – Turen – Dampit, Malang – Tulungagung, Malang – Blitar – Trenggalek dan Malang – Lumajang. Juga Malang ke arah Utara seperti : Malang – Surabaya dll.

Pada masa kejayaannya, terminal ini menjadi salah satu denyut nadi perekonomian Kota Malang. Sebab, di sebelah Timur terdpat Pasar Besar dan di sebelah selatan terminal ini juga terdapat Stasiun Jagalan yang merupakan salah satu pusat bertemunya pedagang, pembeli dan pemasok barang hasil pertanian, seperti sayur dan buah-buahan dari wilayah Malang selatan. Tak heran jika Terminal Sawahan ikut ramai oleh para “saudagar” yang hendak berdagang di pasar tersebut.

Di seberang jalan, tepatnya di sebelah Tenggara Terminal Sawahan, juga terdapat sentra pedagang buah. Lapak pedagang buah tersebut tak hanya menumpang hidup dari aktivitas terminal, namun turut menghidupkan perekonomian di dalamnya. Banyak penumpang, terutama yang dari luar kota, menyempatkan waktu mampir ke lapak ini hanya demi membeli oleh-oleh buah apel khas Malang.

Agak ke barat lagi dari Stasiun Jagalan, terdapat Pasar Besar Malang. Pusat Perdagangan dan perekonomian terbesar Kota Malang hingga sekarang. Di sisi selatan Terminal Sawahan ini terdapat warung-warung kaki lima yang menjual makanan, seperti sate, gule, rawon, mie ayam, bakso, dan lain-lain. Di belakang lapak-lapak ini juga berjejer pula lapak-lapak yang menjual cemilan, permen, juga makanan pengganjal perut lainnya.

Terminal Sawahan!
Terminal Sawahan!

Di depan warung-warung makan, biasa mangkal menanti penumpang yang enggan masuk ke dalam Terminal Sawahan. Banyak makelar yang berkeliaran di sekitar sini merayu para penumpang yang hendak memakai jasanya. Tak jarang terjadi rebutan saling tarik tangan penumpang oleh mereka.

Pojokan terminal sebelah utara juga menjadi pemberhentian terakhir bagi para penumpang angkot dari arah kota yang ogah masuk ke dalam Terminal Sawahan. Mereka kebanyakan beralasan lebih praktis turun di luar karena sudah ada angkutan penghubung seperti becak, dokar dan bemo yang mangkal di luar terminal, sehingga lebih mudah dijangkau.

Keegoisan para penumpang dan kebiasaan para sopir angkutan umum seperti becak, dokar dan bemo inilah yang akhirnya menyebabkan carut-marut di sekitar pintu keluar dan pintu masuk terminal. Kemacetan luar biasa juga sering terjadi di pertigaan Sawahan, terlebih ketika ramainya aktifitas masyarakat berangkat bekerja dan berdagang di sekitar terminal Sawahan tersebut. Diperparah lagi dengan sempitnya lahan si Terminal Sawahan tersebut sehingga tidak dapat diperluas lagi untuk menampung bus–bus dan kendaraan umum lainnya.

Kondisi ini yang akhirnya membuat Pemerintah Kota Malang pada 1977 silam menon-aktifkan terminal ini dan mengalihkan tugasnya sebagai tempat pemberhentian kendaraan umum dari dan ke Malang ke terminal baru, yakni Terminal Pattimura. Terminal baru ini letaknya sekitar 2 kilometer di sebelah Utara terminal lama. Untuk mengaksesnya, harus membelah hiruk-pikuk jalanan Kota Malang. Dan sekarang Terminal Sawahan yang telah menjadi kenangan itu berubah fungsi menjadi Pom Bensin atau SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) Sawahan.

Tinggalkan Komentar