Beranda Fokus Dari Stadion Kapten I Wayan Dipta, Karena Lapangan Baik Adalah yang Terpenting

Dari Stadion Kapten I Wayan Dipta, Karena Lapangan Baik Adalah yang Terpenting

0
Kursi bench di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Kursi bench di Stadion Kapten I Wayan Dipta

Setelah menunggu kurang lebih satu tahun (terakhir saat kompetisi Torabika Soccer Championship 2016), saya akhirnya berkesempatan kembali mengunjungi Stadion Kapten I Wayan Dipta. Sebuah stadion yang terletak di Kabupaten Gianyar yang merupakan markas dari Bali United.

Kunjungan saya kali ini merupakan bagian dari tugas memotret pertandingan Bali United melawan Tampines Rovers dari Singapura di ajang kualifikasi Liga Champions Asia 2017, Selasa 16 Januari 2018.

Saya sendiri juga sangat tertarik mengunjungi Stadion Kapten I Wayan Dipta kembali mengingat stadion ini melakukan renovasi di segala aspek fasilitas. Konon, pihak manajemen menghabiskan dana hingga Rp8 Milyar demi memuluskan keinginan agar stadion itu layak untuk menjadi arena pertarungan kelas Asia/Internasional.

Id pers untuk meliput Liga Champions Asia.
Id pers untuk meliput Liga Champions Asia.

Saya datang saat laga masih tiga jam lagi. Keadaan itu saya gunakan untuk melakukan eksplorasi di setiap sudut stadion yang sudah mendapatkan sentuhan renovasi.

Dari halaman luar, tidak ada perbedaan yang signifikan dibandingkan kedatangan saya sebelumnya. Namun, ada perbedaan pintu masuk bagi awak media. Sebelumnya media masuk dari sebelah kanan gerbang pintu masuknya pemain. Tetapi kini media masuk melalui pintu sebelah kiri. Dari pintu itu langsung masuk ke ruangan pers yang kini sudah memiliki dua ruangan.

Ruangan pertama berasal dari perluasan lobi yang biasa digunakan untuk pemain jalan. Lobi yang diperluas itu dijadikan tempat bagi jurnalis untuk berkirim berita karena di sana disediakan meja dan colokan listrik lengkap dengan wifi-nya. Sementara ruangan kedua adalah ruangan sebelumnya yang fungsinya untuk melakukan jumpa pers.

Satu hal yang tidak berubah dari ruangan media stadion ini adalah kulkas yang penuh dengan minuman-minuman ringan. Segar!

Dari kondisi tribun stadion, di sisi tribun ekonomi masih sama dengan sebelumnya, bahkan kini nampak ada beberapa lumut dan belum tersentuh pengecatan. Wajar mengingat tribun itu sudah standar dan mungkin ditunda dulu pengecatannya.

Sementara di sayap selatan, ada sebuah tribun baru yang dibuat tetapi masih dalam tahap penyelesaian. Kabarnya tribun itu nanti digunakan untuk kafe Bali United di bagian bawah sedang di bagian atas digunakan untuk tribun berdiri bagi suporter tamu.

Perbaikan tribun secara total ada pada tribun VIP atau yang beratap. Karena di sana sudah nampak kursi merah berjejer rapi yang artinya tribun itu sudah single seat.

“Ada 2000 kursi untuk single seat, dan sekitar 100 diantaranya adalah kursi khusus untuk tamu undangan dan sponsor,” ungkap Yabes Tanuri, CEO Bali United.

Tampilan papan skor kini sudah memakai digital walaupun masih sederhana. Namun sudah ada nama kesebelasan, nama stadion, angka babak, angka skor, hingga menit pertandingan yang memenuhi kriteria AFC.

Papan skor baru
Papan skor baru

Hal yang cukup baru adalah kursi untuk bench pemain. Ada total 20-an kursi yang mirip dengan kursi mobil seperti halnya beberapa Stadion yang sudah standar internasional. Kursi yang berwarna merah itu selain tertempel logo Bali United juga ada sponsor Corsa dan Achilles yang merupakan produk ban yang seakan klop dengan kursi jok mobil.

Di sisi tengah tempat masuk dan keluarnya pemain ke lapangan, terdapat sebuah retractable tunnel atau lorong yang bisa ditarik. Lorong ini akan ditarik apabila pemain masuk lapangan dan kemudian bisa dilipat sedemikian rupa apabila pertandingan selesai.

Saya pikir ini adalah fasilitas yang bagus untuk dipraktekkan di stadion lain. Sebab, apabila nanti pertandingan rusuh, maka polisi tidak perlu sibuk membuat tameng kepada pemain karena pemain tinggal masuk ke lorong yang bisa ditarik hingga lapangan. Namun khusus di stadion Kapten I Wayan Dipta, lorong hanya mencapai pinggir lintasan atletik saja.

Tunnel tarik yang membuat polisi tidak perlu repot memberikan tameng.
Tunnel tarik yang membuat polisi tidak perlu repot memberikan tameng.

Penggunaan lorong seperti ini bukan pertama kali karena Stadion Kanjuruhan pada tahun 2008 pernah membuat hal serupa walaupun kemudian hanya dipakai setahun saja karena musim ISL 2009/2010 sudah dilepas.

Sementara di ruang ganti pemain Bali United, perubahan terjadi dengan pembangunan kolam renang untuk pemain. Namun, saat saya kemarin datang. Kolam itu masih belum selesai dibangun.

Ruang ganti pemain
Ruang ganti pemain

Lapangan Dengan Drainase Tetap Yang Paling Penting

Usaha manajemen Bali United untuk memperbaiki Stadion Kapten I Wayan Dipta yang notabene bukan miliknya sendiri layak diacungi jempol. Namun, skenario untuk membuat AFC tersenyum tetap saja ada yang membuatnya rusak. Salah satunya adalah buruknya drainase stadion yang terus dicatat oleh AFC.

Sebelumnya dikutip dari laman Bali United, dana Rp8 Milyar tidak ada alokasi untuk memperbaiki lapangan. Alasannya menurut manajer Stadion yaitu Petrus Budi Lesmana. Dikatakan jika khusus rumput, manajemen Bali United memang ingin merawat rumput yang ada saat ini dibandingkan mengganti dengan rumput baru karena akan memakan waktu yang cukup lama.

Tetapi ujian itu akhirnya datang karena dua jam sebelum pertandingan, hujan deras mengguyur wilayah Blah Batuh (lokasi Stadion). Guyuran itu membuat lapangan tergenang dengan air yang susah untuk hilang.

Untuk membuatnya surut, terlihat beberapa petugas membawa besi yang ditusuk ke lapangan untuk membuat aliran air masuk ke tanah. Namun, hal itu terasa percuma karena lapangan stadion adalah tipikal lama alias tidak ada drainase yang biasanya ditandai dengan lapisan pasir dibawah lapisan rumput. Jika ada drainase, lapangan yang ditusuk membuat airnya langsung mengalir ke pasir dan ditampung untuk kemudian dialirkan ke luar melalui pipa.

Petugas menguras air di Stadion menggunakan papan.
Petugas menguras air di Stadion menggunakan papan.

Air yang sulit hilang saat ditusuk membuat petugas stadion menggunakan triplek dan material lain untuk menggeser dan mendorong air keluar lapangan. Untuk membuatnya mengalir, di tepi lapangan digali aliran baru agar air bisa keluar dengan lancar. Satu jam lamanya upaya itu dilakukan.

20 menit menjelang kick-off, wasit mencoba mengetes lapangan. Namun saat bola dipantulkan ke lapangan, bola tetap diam. Sebuah pertanda yang memutuskan wasit menunda pertandingan hingga 2×30 menit atau satu jam.

Satu jam kesempatan yang ada digunakan petugas untuk terus mengeluarkan air dari lapangan. Usaha yang tidak sia-sia karena laga itu akhirnya tetap dilaksanakan dengan genangan air yang masih terasa.

Ketiadaan drainase membuat air yang tersisa di lapangan tetap ada walaupun sudah 90 menit laga berjalan. Tetapi kemenangan Bali United dengan skor 3-1 seolah menjadi pengobat malu manajemen yang terus mendapatkan sindiran dari ranah sosial media baik dari suporter Indonesia ataupun suporter Asia tentang kondisi lapangan hari itu.

Pada akhirnya, ada sebuah permakluman atas ketidakmampuan lapangan Stadion Kapten I Wayan Dipta untuk menyerap air seperti halnya Stadion Maguwoharjo, Manahan, ataupun Kanjuruhan karena memang tidak ada drainase yang dibuat. Saat Bali United datang dan memakai 2015 silam. Mereka fokus kepada perbaikan kualitas rumput stadion tanpa membuat drainase.

Pembuatan drainase di Stadion Gedebage seiring dengan pembangunan Stadion. Air yang menggenang akan cepat surut dan tidak akan bertahan lebih dari 20 menit.
Contoh pembuatan drainase di Stadion Gedebage seiring dengan pembangunan Stadion. Air yang menggenang akan cepat surut dan tidak akan bertahan lebih dari 20 menit.

Membuat drainase artinya adalah membongkar lapangan stadion, mengganti lapisan tanah di bawah dengan pasir yang diberi pipa untuk kemudian baru diberi tanah dan rumput. Namun, saya pikir membuat drainase untuk tahun ini memang tidak akan bisa dilakukan karena kompetisi selesai pada bulan November dan waktu yang ada ada tidak akan cukup.

Tetapi, apapun itu semoga pembuatan drainase ini segera dilakukan oleh manajemen Bali United, kapanpun itu!

Tinggalkan Komentar