Beranda Profil Pemain Emile Mbamba, Karir Pendek Predator Arema

Emile Mbamba, Karir Pendek Predator Arema

0
Emile Mbamba | Foto: Ongisnade
Emile Mbamba | Foto: Ongisnade

Emile Mbamba datang pada musim 2007, pada saat itu Singo Edan membutuhkan striker saat Essa Mvondo dianggap mandul dan tidak bisa berkembang.

Emile Mbamba dilahirkan di Yaounde, Ibukota Kamerun. Kota yang akrab dengan pesepakbola Kamerun kelas dunia karena di sana terdapat sebuah akademi sepakbola yang sangat populer di Afrika Barat.

Emile Mbamba datang ke Arema dari Vitória Setúbal (Portugal) saat datang ke Malang saat usianya 26 tahun. Usia yang sangat matang sebagai pemain sepakbola.

Datang pada putaran kedua, diawal laga sejumlah Aremania sangat meragukan kemampuannya karena gol yang ditunggu belum datang hingga pertandingan keenam. Tetapi lambat laun dia bisa membuktikan dirinya sebagai striker kelas kakap setelah dia mencetak dua gol saat melawan Deltras Sidoarjo. Di laga selanjutnya bahkan dia mampu mencetak empat gol manakala Singo Edan menumbangkan Persijap Jepara dengan skor 5-3.

Arema pun akhirnya lolos ke babak delapan besar setelah menduduki peringkat keempat dengan poin 57, unggul selisih gol melawan PSM Makassar dan Persiter Ternate dengan nilai yang sama.

Di babak delapan besar, Mbamba yang menjadi tukang gedor Arema cukup meledak-ledak emosinya manakala dipertemukan dengan Persiwa Wamena. Gol yang dia lesakkan dianulir dan wasit membiarkan dirinya dihajar oleh lawan, keadaan yang memantik reaksi Aremania karena merasa dicurangi wasit. Laga kemudian dihentikan dan dilanjutkan ke Sidoarjo. Beruntung Arema tidak sampai kalah dan skor akhir adalah imbang 2-2.

Sayang peruntungan Arema di babak delapan besar tidak berlanjut karena Arema kalah melawan Sriwijaya FC dengan skor 2-0. Kemenangan 1-0 di pertandingan terakhir melawan PSMS Medan tidak berarti apa-apa, sebab Arema kalah selisih gol melawan anak-anak Medan.

“Wasit tidak melindungi pemain, banyak tekel keras berbahaya yang dibiarkan wasit. Itu memprihatinkan bagi pemain sepakbola profesional. Asisten wasit juga sering salah dalam keputusan offside, hal itu membingungkan pemain. Ini menjadi adaptasi saya di Indonesia,” tegas Mbamba yang masih kecewa karena perhelatan babak 8 besar tidak berpihak untuknya dan Arema.

Emile Mbamba saat membela Arema di Liga Jatim 2008 | Foto: Ongisnade
Emile Mbamba saat membela Arema di Liga Jatim 2008 | Foto: Ongisnade

Arema yang mengontrak Mbamba dua tahun tetap mempertahankan Mbamba untuk kompetisi 2008/2009 yang sudah bernama Indonesia Super League dengan sistem kompetisi penuh. Arema cukup mentereng di pramusim karena mampu lolos hingga babak final Liga Jatim 2008 sebelum akhirnya dikalahkan oleh Persik Kediri.

Hingga pekan kesembilan, Arema menjadi salah satu kandidat untuk menjadi juara ISL. Kombinasi tua muda di Singo Edan sangat efektif untuk menekuk lawan-lawannya. Apalagi pada saat itu duet Emile Mbamba dan Emeleu Serge sudah sangat klop dan saling mengerti satu sama lain.

Tetapi, di pekan ke-10 sebuah petaka terjadi saat Arema ‘dipaksa’ kalah melawan Pupuk Kaltim (PKT) di Stadion Kanjuruhan. Settingan yang menyebabkan sejumlah komponen tim mendapatkan hukuman, salah satunya adalah Mbamba.

“Saya dipukul pemain PKT, saat aku tanya wasit kenapa tidak dihukum. Wasit (Suprihatin) hanya diam saja dan hanya bilang kamu tidak pantas bicara seperti itu, padahal pemain lain boleh memukul tetapi tidak boleh bicara dengan wasit. Ini tidak adil, wasit pun tiba-tiba mengeluarkan kartu kuning untuk saya,” tegas pemain yang pernah membobol gawang Juventus di Liga Champions ini.

“Saya terus kejar wasit, dan bilang kenapa tidak sekalian saja memberikan kartu merah. Dan tiba-tiba dia mengeluarkan kartu merah sehingga saya seperti emosi.”

Di sisi lain, Komisi Disiplin dari BLI (Badan Liga Indonesia) melihat perilaku Mbamba ini layak diberi ganjaran karena sebelumnya dia dianggap melakukan provokasi dengan protes berlebihan kepada wasit. Protesnya dianggap memancing kerusuhan dari fans ataupun pemain lain. Tidak heran kemudian Komisi Disiplin yang diketuai oleh Hinca Pandjaitan memutuskan melarang Mbamba untuk bermain di Indonesia selama 5 tahun dan juga didenda Rp 50 juta. Mbamba dianggap melanggar empat pasal Kode Disiplin sekaligus. Yakni Pasal 49 ayat 1B, pasal 53 ayat 1, pasal 58 ayat 1 dan pasal 60 ayat 1.

Seketika itu karir cemerlang yang dibangun oleh Mbamba di Arema selama 11 bulamn tamat. Arema pun saat itu pontang panting kehilangan sang striker. Beberapa pemain sempat dicoba mulai dari Keita hingga Udo Fortune. Di musim itu akhirnya Arema selesai di peringkat ke-10.

Sementara Mbamba akhirnya memutuskan bermain ke Daegu Korea Selatan kemudian juga Bulgaria di klub Bolev Plodiv hingga Potros Neza. Belakangan hukuman Mbamba dikurangi menjadi tiga tahun saja. Kerinduannya kepada Indonesia membuat dia kembali memperkuat Bontang FC. Sempat pindah-pindah klub sebelum akhirnya mengakhiri karir di Persebaya DU (Sekarang Bhayangkara FC).

PROFIL EMILE MBAMBA

Nama Lengkap Emile Bertrand Mbamba
Nama Panggilan Mbamba
Kebangsaan Kamerun
Tanggal Lahir 27 Oktober 1981
Tempat Lahir Yaoundé, Kamerun
Tinggi Badan 1.80 m
Berat Badan –
Posisi Striker
Karier Klub
Klub Sebelum Arema Vitoria Setubal
2008 Arema Malang
Klub Setelah Arema Daegu

Tinggalkan Komentar