Beranda Profil Pemain Gusnul Yakin, Pelatih Yang Menerima Apa Adanya

Gusnul Yakin, Pelatih Yang Menerima Apa Adanya

0
Gusnul Yakin, sering keluar masuk Arema | Foto: Ongisnade
Gusnul Yakin, sering keluar masuk Arema | Foto: Ongisnade

Hari ini tepat tulisan ini dibuat, mantan pelatih Arema Gusnul Yakin berulang tahun, sosok yang keluar masuk tim Arema tersebut lahir 17 Maret 1954 silam. Gusnul Yakin adalah pelatih yang menerima apa adanya.

Gusnul Yakin adalah pria asli Malang, dia mengawali karirnya di klub amatir Gajayana di tahun 1977. Gusnul yang saat itu menetapkan pilihan sebagai pemain sepakbola karena nasibnya di Pemda tempat dia bekerja tidak kunjung diangkat sebagai PNS. Tawaran pemain pro akhirnya datang dari Warna Agung Jakarta.

Di Jakarta, Gusnul bermain pada tahun 1979 hingga 1987. Di Jakarta dia juga bekerja di perusahaan cat yang menjadi sponsor klub yaitu Decolit. Gusnul merasa masa akhirnya sebagai pemain sepakbola bisa terjamin sebagai pegawai. Namun, nampaknya hati nurani tidak bisa dibohongi dan dia akhirnya kembali memilih sepakbola.

“Saya terus didesak Endang Witarsa (pelatih Warna Agung saat itu) untuk membantunya. Dia terus meyakinkan saya mampu menjalani karir baru sebagai pelatih,” ungkapnya.

Terus mendapat suntikan, Gusnul akhirnya memutuskan untuk bersedia mengawali karir kepelatihan di Warna Agung dengan menjadi asisten Endang Witarsa pada 1988. “Jadi, mungkin jalan hidup saya memang di sepak bola,” tuturnya.

Di Arema, Pelatih yang pernah membawa Persibo Bojonegoro juara Divisi I Ligina 2007 itu merupakan pelatih segala zaman. Sebab, mulai era Galatama, Ligina, hingga Indonesia Super League dia pernah hadir di Arema.

Gusnul tercatat sebagai pelatih tersering yang keluar masuk tim kepelatihan Arema. Sejak klub itu berdiri pada 1987 lalu, Gusnul terhitung sudah lima kali menjabat sebagai pelatih kepala Arema.

Pertama melatih Arema pada 1993-1994, saat itu Arema yang menjadi juara bertahan limbung karena masalah keuangan. Pelatih M Basri hijrah ke Niac Mitra. Gusnul yang baru berguru dari Belanda didapuk menjadi pelatih Arema. Yang menarik, tidak ada bayaran yang mahal kepada dia yang notabenenya adalah alumni luar negeri.

“Saya dulu diminta menangani Arema, saya tidak memikirkan bayaran yang didapatkan berapa. Saya hanya bangga bisa menangani tim tempat lahir saya, pernah saya ketika itu hanya dibayar sekarung beras, dan Micky Tata mengangkutnya ke rumah,” kata Gusnul mengenang.

Dengan kondisi yang pas-pasan Arema bisa menyelesaikan kompetisi di peringkat keenam Grup Timur

Di Liga Dunhill II (1995-1996), Gusnul datang lagi ke Arema sebagai pelatih. Namun lagi-lagi Arema gagal dibawanya lolos ke babak selanjutnya karena hanya menempati posisi 12 dari 16 tim di Wilayah Timur.

Sempat digantikan Suharno selama semusim, Gusnul kembali ke Arema di Liga Indonesia 1997-1998. Alih-alih membawa Arema berprestasi, Ligina malah dihentikan karena kerusuhan politik.

Ligina 2003, Gusnul menggantikan Terry Wetton (Australia) di tengah jalan. Apes baginya, setelah Arema di-take-over PT Bentoel dari Alm Lucky Acub Zainal posisinya tergusur lantaran Arema terpuruk di jurang degradasi.

Era Indonesia Super League edisi perdana, Gusnul datang menggantikan Bambang Nurdiansyah yang gagal menaikkan performa tim. Kali ini Gusnul sukses menyelamatkan Arema dari degradasi kedua kalinya dan duduk di posisi 10.

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.