Home Artikel Istri Melahirkan, Saya Malah Dekati Jurnalisme dan Sepakbola

Istri Melahirkan, Saya Malah Dekati Jurnalisme dan Sepakbola

822
0
SHARE
Jurnalisme dan Sepakbola! Menurut Shankly (foto insert), sepakbola lebih penting dari pembahasan hidup dan mati.
Jurnalisme dan Sepakbola! Menurut Shankly (foto insert), sepakbola lebih penting dari pembahasan hidup dan mati.

Jurnalisme dan sepakbola! Sepakbola seperti telah menjadi agama kedua setelah jurnalisme di dalam hidup saya. Saya tidak berusaha kafir karena memuja jurnalisme dan sepakbola. Kalau ditanya agama saya apa, saya Islam. Ah, mari jangan membahas Islam, karena kepercayaan itu urusan pribadi masing-masing. Berhubung kakek-nenek, ayah-ibu saya muslim, sehingga saya ikut mereka. Sudah cukup itu saja.

Terlebih dahulu, mari berkenalan dengan William “Bill’ Shankly, pemain sepakbola Skotlandia dan manager Liverpool tahun 1954 hingga 1974. Dia pernah mengatakan mengatakan beberapa orang berpikir sepakbola adalah masalah hidup dan mati, Bill Shankly berani menyakinkan yakni sepakbola jauh lebih serius dari itu.

Selanjutnya, saya berpikir sejenak, adakah sesuatu yang lebih serius dari hidup dan mati. Dalam agama saya, Islam, berbicara mati tidak baik atau pamali, akan tetapi bagi saya, pembicaraan tentang kematian adalah sah-sah saja, karena itu bakal terjadi kepada saya. Yang lebih serius dari hidup dan mati itu agama. Saya merasakan sepakbola sudah seperti agama. Saya sebagai pemeluk agama sepakbola.

Pemeluk agama sepakbola lainnya bisa saya temukan saat datang ke Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang. Mereka adalah Aremania yang mejadi nama suporter klub Arema. Seperti agama, sepakbola di stadion itu menyatukan banyak orang dari berbagai latar belakang. Ovan Tobing, salah satu pendiri Arema biasanya melaporkan jumlah Aremania yang hadir di tribun stadion. Kalau stadion penuh, Ovan mengatakan penonton yang hadir 40 ribu. Kalau pertandingan itu disiarkan langsung oleh televisi, jumlahnya bisa mencapai itu.

Saya membayangkan, hal duniawi dapat membuat 40 ribu orang melakukan hal yang sama pada waktu yang bersamaan pula. Ini seolah-olah ritual sepakbola yang saya jumpai saat menjalankan ibadah agama. Sepakbola seperti halnya agama, ternyata juga bisa memecah belah. Seperti perseteruan antara Aremania dan Bonek (suporter Persebaya Surabaya). Aremania masih sering melatunkan chant jancok yang ditujukan kepada suporter bajul ijo – julukan Persebaya Surabaya.

Sementara itu, saya berhutang budi kepada sepakbola seperti halnya Albert Camus. Filsuf asal Prancis yang juga bekas wartawan ini berhutang budi kepada sepakbola, karena telah mengajarkan keutamaan dan tanggung jawab akan tugas.

Saya menyebut Albert Camus tidak keliru, karena pemain sepakbola harus menjalankan tugasnya di lapangan dengan baik dan benar, yaitu tanggung jawab untuk memenangkan pertandingan dengan menceploskan bola ke dalam gawang lawan. Di luar pemain, seperti pelatih, dia harus meramu tim dengan komposisi pemain apapun agar bisa menang di setiap pertandingan. Suporter, dia memberikan dukungan berupa chant, uang untuk tiket, waktu dan bahkan nyawa. Suporter belajar banyak untuk mendukung tim sebaik-baiknya.

Saya pun berhutang budi dan terus belajar dari sepakbola untuk menikmati hidup. Saya melihat pemain yang berusaha sekuat tenaga, mulai dari latihan hingga di sebuah pertandingan. Mereka mengorbankan banyak hal yang bersifat urusan pribadi. Entahlah, saya tidak membahas kalau para pemain mendapatkan bayaran yang fantastis seperti di liga top Benua Eropa, atau Liga 1 Gojek Traveloka (Saya menyebutkan sponsor bukan untuk promosi, karena saya ingin saja) sehingga harus profesional.

Saya juga belajar sepakbola juga dari Romo Sindhunata, orang kelahiran Kota Batu yang sekarang mengelola Majalah Basis di Jogjakarta. Beliau pernah menulis bola itu Sederhana. Hanya sebentuk kulit bundar. Tetapi kesederhanaan itu tiba-tiba menyetakkan suatu hakikat. Tanpa bola, tidak ada keramaian pesta sepakbola tahun ini; seperti halnya, jika tiada nasib, juga tiada ria kehidupan ini. Tulisan Romo Sindhunata itu tak terbantahkan.

Inilah saya yang akrab dengan jurnalisme dan sepakbola. Dua hal itu yang menghiasi cerita keluarga kecil saya. Saya terpaksa tidak menemani istri melahirkan anak pertama karena jurnalisme dan sepakbola pada 26 Januari 2017. Saya berada di Purbalingga, Jawa Tengah karena liputan Arema FC yang sedang uji coba dengan tim lokal setempat. Saya mengartikan itu sebagai tanggung jawab seperti halnya pernyataan Albert Camus, saya menuntaskan menulis dan memotret sepakbola sebaik-baiknya walau pikiran ini tak bisa tenang.

Dedik Setiawan cetak gol terakhir saat Arema hempaskan Braling All Star
JURNALISME DAN SEPAKBOLA! Saya melakukan liputan ke Purbalingga saat Arema bermain di Purbalingga melawan Braling All Star.

Di saat istri membutuhkan dukungan semangat di rumah sakit untuk melahirkan, saya malah berkutat dengan sepakbola. Itu sudah terjadi, saya tidak mengambil salah benar, akan tetapi saya belajar tanggung jawab dari sepakbola. Nasib itu telah membuat kehidupan saya berwarna tiada tara.

Sejak kecil saya mecintai sepakbola. Mulai bermain sepakbola dengan bola plastik di halaman rumah dan menyaksikan Liga Italia serta Piala Dunia di layar kaca. Saya pendukung berat Inter Milan. Dulu bisa mendukung tim dengan jersey biru hitam ini karena teman saya mendukung Juventus, teman satu lagi mendukung AC Milan. Sehingga sejak kecil, saya berusaha berbeda dari yang lain, sehingga saya memilih Inter Milan.

Saya pernah menangis ketika klub andalan saya, Inter Milan kalah dari Villareal dalam perempatfinal Liga Champion 2006. Inter Milan sudah menang di leg pertama dengan skor 2-1, akan tetapi Villareal berhasil menang 1-0 di kandangnya. Hasil itu jelas membuat Villareal lolos ke semifinal karena menang gol tandang walau kedudukan sama imbang 2-2. Saya menangis di subuh tahun itu, saya masih kelas 3 MTs.

Sepakbola telah membuat hidup saya berwarna. Emosi, tangis, bahagia, kecewa, bisa muncul. Ke depan, saya tetap belajar jurnalisme dan sepakbola, namun yang lebih penting saat ini adalah sayang istri dan anak.

Aris Syaiful Anwar

Tinggalkan Komentar