Home Fokus Kebocoran Tiket, Siapa yang Rugi?

Kebocoran Tiket, Siapa yang Rugi?

390
0
SHARE
Aremania saat mendukung timnya. Panpel di Kanjuruhan terus berupaya menekan kebocoran tiket.

Animo penonton pertandingan sepakbola di Indonesia cukup besar. Selama tiga tahun terakhir, jumlah penonton sepakbola Indonesia menempati peringkat pertama di kawasan regional dan lima besar Se Asia.

Jumlah penonton yang melimpah tersebut membuat ‘industri’ sepakbola Indonesia terlihat lebih meriah jika dibandingkan dengan beberapa kompetisi di kawasan ASEAN. Meski demikian, jumlah penonton yang masif tidak serta merta mampu mengangkat perekonomian klub.

Penyebabnya masih banyak klub yang belum mampu menggali dana secara maksimal dengan memanfaatkan potensi suporternya. Penyebabnya selain mental industri yang belum terbentuk sempurna, juga dukungan dari berbagai pihak(operator liga, manajemen klub, suporter/masyarakat, dan lainnya) yang masih belum maksimal. Alhasil klub seringkali arus berjuang seorang diri menghadapi tantangan yang datang.

Saat ini pelarangan penggunaan dana APBD kepada klub sepakbola profesional masih berlaku. Keadaan ini membuat manajemen klub harus memutar otak untuk menggali uang agar klub tetap survivemengarungi kompetisi. Salah satunya adalah dengan menggenjot pemasukan dari sektor bisnis berupa tiket pertandingan, sponsor, hak siar dan merchandise.

Melimpahnya jumlah penonton diharapkan mampu membantu menanggung sebagian pengeluaran klub selama mengikuti kompetisi. Kondisi ini dimanfaatkan oleh beberapa klub yang memiliki basis suporter besar. Sebut saja Arema, Persib, Persebaya, dan yang lainnya.

Dengan kapasitas stadion yang besar(lebih dari 25.000 orang) memungkinkan para klub tersebut untuk menggenjot pendapatannya dari sektor tiket. Sebutlah Arema yang didukung oleh Aremania mampu menghadirkan lebih dari 30ribu suporter untuk memenuhi stadionnya. Demikian pula dengan Persebaya yang beberapa kali menarik minat lebih dari 50ribu Bonek di Gelora Bung Tomo(kandang Persebaya).

Jika klub lain rata-rata hanya mendapatkan pemasukan kotor sebesar 150-250juta rupiah saja setiap pertandingan, bagi para klub dengan basis suporter kuat diatas mampu meraup pemasukan hingga 1 miliar rupiah ketika stadion dalam kondisi penuh. Jika kondisi demikian dapat dicapai secara konsisten setiap pertandingan, tentu membawa dampak positif bagi klub.

Misalnya Gelora Bung Karno(GBK) yang dipakai oleh Persija. Stadion ini berkapasitas 88ribu penonton. Namun sangat jarang tiket yang terjual mengalami sold out sebesar kapasitas GBK tersebut. Paling tidak jika panpel Persija mampu menjual tiket separuhnya saja dari kapasitas GBK, tentu sudah menjadi salah satu klub dengan penghasilan terbesar dari penjualan tiket pertandingan.

Setidaknya dengan 40ribu tiket yang terjual, Panpel Persija dapat mengeruk pemasukan minimal 1,2 miliar rupiah di setiap pertandingan(asumsi harga tiket terendah sebesar 30ribu rupiah). Jika hal ini dapat dicapai secara konstan oleh panpel, dalam satu musim kompetisi (ISL = 17 laga home) panpel Persija dapat meraup pendapatan hingga 20,4 miliar rupiah.

Dengan 20 miliaran rupiah sebenarnya sudah cukup untuk membiayai seluruh gaji pemain dan pelatih selama semusim. Sisa pembiayaan lainnya dapat ditutup dari bantuan sponsor/investor, hak komersial dari operator kompetisi maupun pendapatan bisnis lain(merchandise). Hal ini bisa dicapai jika ada kerjasama antara panpel, petugas tiket hingga suporter.

Memang tidak salah jika klub sangat menggantungkan pemasukan dari penjualan tiket pertandingan. Selepas larangan pemakaian hibah dana APBD sejak tahun lalu, sebagian besar klub masih menggantungkan pendapatan dari sponsor dan sektor tiket.

Selain Persija, beberapa klub sebenarnya mampu meraup pemasukan kotor lebih dari 1 miliar rupiah di tiap pertandingan. Sebut saja Arema(Stadion Kanjuruhan dan Gajayana), Persipura(Stadion Mandala) maupun Persebaya(Gelora Bung Tomo). Maka tidak heran hasil dari penjualan tiket adalah salah satu urat nadi dalam menjaga kehidupan klub. 

Rugi Kebocoran Tiket
Dibalik peluang besar para klub mendapatkan diatas masih terdapat sisi ironi lain yang menimpa sebagian besar klub sepakbola di Indonesia.

Meski memiliki basis suporter yang kuat namun tidak setiap pertandingan kandang menuai pendapatan besar dari sektor tiket. Hal ini terjadi karena jumlah penonton di setiap pertandingan tidaklah stabil serta terjadi kebocoran dalam penjualan tiket pertandingan.

Masalah ini dialami oleh banyak klub baik ISL maupun IPL. Deltras salah satunya. Klub yang bermarkas di Gelora Delta Sidoarjo ini musim lalu kerap merugi akibat kebocoran penjualan tiket tak sebanyak jumlah penonton yang memasuki stadion.

Dilansir dari Viva, menurut manajer Menurut Manajer Deltras, Yudha Pratama, kebocoran mencapai 20-30 persen. Deltras menjual tiket kategori ekonomi sebesar Rp15 ribu, VIP seharga Rp30 ribu dan VVIP dengan harga Rp50 ribu.”Kalau total penonton seperti tercantum di website Liga 15.000, namun yang membayar sebanyak 9.000 suporter,” jelasnya.

Secara kasar dengan kebocoran tiket mencapai 25% saja sudah menyumbang kerugian sekitar 30juta rupiah di setiap pertandingan. Jika selama semusim kompetisi Deltras menjalani 17 pertandingan kandang maka kerugian potensial yang diraih oleh klub berjuluk The Lobster ini mencapai 510juta rupiah.

Disinyalir potensi kerugian yang dialami Deltras juga terjadi di klub-klub lain. Jika Deltras saja mengalami kerugian hingga setengah miliar rupiah selama semusim akibat kebocoran tiket, kerugian yang lebih besar dapat dialami oleh para klub yang memiliki animo penonton sangat besar.

Mantan juara Liga Indonesia 1999, PSIS Semarang juga mengalami kondisi serupa pada tahun 2010 lalu. Wakil Ketua panitia pelaksana (panpel), Wahyoe “Liluk” Winarto kala itu mengatakan, tiap kali PSIS main di kandang sendiri tingkat kebocorannya cukup tinggi.

Kala itu, tiap kali Suwita Patha dan kawan-kawan main tak kurang 12.500 penonton memadati Stadion Jatidiri Semarang. “Kalau tiket hanya terjual 10 ribu lembar, maka kebocorannya mencapai 25%,” katanya. Ia menjelaskan, tiap kali PSIS main, panpel mencetak 17 ribu lembar tiket dan mampu menjual 10 ribu lembar. “Kalau diambil rata-rata harganya Rp 15 ribu per lembar, panpel mendapat pemasukan Rp 150 juta,” katanya

Dengan prosentase rugi yang sama (25%), klub lain dengan pendapatan tiket rata-rata hingga 500juta rupiah dapat menanggung kerugian hingga 125juta rupiah setiap pertandingan. Jika dikalkulasikan selama semusim (17 pertandingan) maka total kerugian yang harus ditanggung klub mencapai 2,1miliar rupiah. Jumlah yang cukup besar, setidaknya cukup untuk membayar pengeluaran gaji pemain dan pelatih selama 2-3 bulan.

Maka tak heran jika panpel pertandingan sangat mengharapkan kebocoran tiket bisa diminimalisir. Terlebih bagi klub-klub yang penghasilan terbesarnya bersumber dari tiket pertandingan.

Ada beberapa hal lain pula yang harus diwaspadai oleh panpel dari ancaman kebocoran tiket. Banyaknya penonton yang masuk ke stadion tak bertiket memberikan ancaman serius bagi panpel terkait faktor keamanan dan kenyamanan.

Kondisi ini pernah dialami oleh beberapa klub di Indonesia, salah satunya Arema. Jumlah penonton yang datang melebihi jumlah tiket yang dijual dan kapasitas stadion, menyebabkan sebagian penonton terpaksa turun ke sentelban melewati pagar pembatas dan parit sedalam beberapa meter.

Dalam Manual Liga, adanya penonton yang memasuki area sentelban adalah bentuk pelanggaran dan klub dapat dikenai sanksi. Klub sebesar Arema pun tak luput dari sanksi tersebut yaitu pada ISL 2009/2010 selepas pertandingan kandang melawan Persema maupun ketika menjamu Persija pada 13 Juli 2005.

Kejadian yang terakhir lebih fatal akibatnya bagi panpel, karena tidak hanya penonton yang membeludak namun terjadi kekacauan ketika pagar pembatas tribun roboh dan menyebabkan puluhan penonton terperosok kedalam parit. Satu orang penonton tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Selain harus menanggung hukuman yang diberikan oleh Pengelola Kompetisi, Arema harus menanggung segala pengeluaran berikut pengobatan yang diakibatkan kejadian tersebut.

1. Sumber Kebocoran Tiket

Meski tidak ada statistik besarnya kebocoran tiket yang dialami para klub, masalah ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Potensi terjadinya kebocoran juga semakin beragam dan tak pandang bulu. Seakan setiap peluang berusaha untuk diembat demi keuntungan pribadi.
Bertahun-tahun menonton pertandingan sepakbola dan mengikuti perkembangannya di berbagai media sedikitnya saya dapat merangkum beberapa hal menyangkut terjadinya kebocoran tiket yang banyak dialami para panpel.

Lazimnya yang terjadi di Indonesia, pada umumnya kebocoran tiket dapat disebut sebagai adanya selisih jumlah penonton yang memasuki stadion dengan jumlah tiket yang terjual beserta free pass ticket, dimana jumlah penonton yang datang lebih besar angkanya dibandingkan jumlah tiket yang berhasil dijual oleh panpel beserta tiket free pass untuk undangan.

Di Indonesia cara menghitungnya dapat dilakukan secara sederhana yaitu dengan membandingkan jumlah penonton yang masuk ke stadion(umumnya dihitung oleh petugas checker di pintu masuk stadion atau berdasar jumlah penonton yang dilaporkan ke Operator Liga) dengan jumlah tiket yang terjual serta tiket yang diperuntukkan untuk undangan(free pass). Adanya selisih jumlah penonton tersebut dihitung sebagai kerugian yang ditanggung oleh panpel.

Selisih jumlah penonton tersebut lazim disebut sebagai penonton tak bertiket. Ada berbagai macam cara mereka bisa memasuki stadion secara gratis. Mengapa bisa terjadi demikian? Sedikitnya terdapat beberapa faktor yang andil dalam menyebabkan kebocoran tiket, diantaranya:

A. Unsur Panpel (Portir, Petugas Keamanan, dll)
Peran dan kontribusi panpel tentu menjadi unsur dominan dalam meminimalisir kebocoran tiket. Namun ada kalanya kebocoran tiket terjadi dan pihak panpel andil dalam terjadinya kasus ini, beberapa kasus diantaranya terjadi seperti berikut ini, berdasarkan masukan dari berbagai penonton dari beberapa stadion di Indonesia :

  • Kelengahan petugas portir dalam memeriksa dan mengawasi tiket dan penonton yang masuk ke stadion.
  • Ketidaktegasan portir dan petugas keamanan dalam ‘mengusir’ penonton tak bertiket agar tidak memasuki stadion.
  • Tidak menyobek tiket yang diberikan oleh penonton di pintu masuk stadion(tiket diputar).
  • Terkadang tiket dijual/diberikan secara gratis kepada penonton atau penjual tiket lagi, dengan tujuan memperbanyak calon penonton yang datang ke stadion demi tujuan mendukung klub tersebut (kadang terjadi pada pertandingan/klub yang sepi/kurang diminati penonton).

A. Unsur Penonton

  • Masih terdapat paham ‘bondo nekad’, bukan dalam artian merujuk pada komunitas suporter sepakbola tertentu, namun perilaku penonton yang memanfaatkan segala cara untuk masuk ke stadion meski tanpa memiliki tiket. Seringkali disertai dengan tindakan ‘ilegal’, seperti menerobos antrian di pintu masuk, memanjat dinding/pagar stadion, dan lain sebagainya.
  • Memaksakan diri masuk ke stadion dengan bermodalkan ‘Say Hello’, atau menunjukkan ‘KTA’ yang tidak termasuk dalam list free pass(tiket undangan) yang diberikan oleh panpel kepada petugas portir agar diizinkan masuk meski tanpa tiket.
  • Memaksakan diri masuk dengan memberikan uang kepada petugas sebagai ganti tiket. Alasannya bermacam-macam mulai dari kehabisan tiket, atau sekedar lebih ekonomis(tak perlu membeli tiket di calo atau membeli seharga tiket).
  • Budaya ‘nunut’ atau ngekor kepada penonton yang memegang tiket(mengaku sebagai kerabat atau kenalan, dan sering juga dilakukan penonton dibawah umur).

C.  Sistem

  • Aturan ‘satu tiket untuk satu orang’ tidak diterapkan sebagian besar klub di Indonesia. Beberapa kejadian ini lazim dialami oleh panpel yang tidak menjual tiket untuk kategori anak-anak(dibawah umur 10 tahun) atau para pedagang yang masuk ke stadion dengan modal tiket untuk dirinya sendiri, namun ketika di tribun mengambil space tempat duduk lebih banyak dari jatah tiket seharusnya(umumnya terjadi pada tribun penonton yang tidak menerapkan tempat duduk bernomor/tunggal)
  • Pengaturan pintu masuk stadion tidak dilakukan secara ‘berliku’, untuk memudahkan panpel/petugas loket dalam menyeleksi para penonton yang membawa tiket maupun tidak.
  • Desain tiket tidak dilengkapi dengan fitur keamanan yang mumpuni. Banyak sekali kasus dimana tiket didesain secara sederhana dan memberikan peluang terciptanya tiket palsu.
  • Tidak ada nomor seri di tiket sehingga memungkinkan terciptanya kebocoran tiket dalam bentuk penggandaan dan distribusi tiket secara ilegal(tidak terdata dalam administrasi panpel klub maupun instansi pemerintahan daerah yang mengatur masalah pajak pendapatan). Dalam kasus lain saya pernah menyaksikan panpel sebuah stadion di bagian barat Pulau Jawa tidak menyobek tiket yang tidak memiliki nomor seri dan mengedarkan(dijual) kembali melalui makelar tiket.
  • Matchday concept(konsep penyelenggaraan yang tidak hanya berisi pertunjukan pertandingan sepakbola, namun terintegrasi dengan acara hiburan lain yang melibatkan suporter dan terletak di ring 1/2 stadion) hanya berkutat pada pertandingan sepakbola semata sehingga banyak calon penonton yang datang ke stadion mendekati waktu kick off. Efeknya di waktu mendekati kick offtersebut seringkali penonton berjubel antri dan berebutan masuk ke stadion. Potensi kebocoran tiket berpeluang terjadi disini.

D. Infrastruktur

  • Akses memasuki ke stadion tidak dilakukan secara terstruktur. Misalnya membagi beberapa ring area di kawasan stadion, dimana hanya calon penonton yang memiliki tiket yang diperbolehkan mengakses ring terdalam/terdekat dengan stadion.
  • Kondisi tribun stadion-stadion di Indonesia sebagian besar tidak menerapkan kursi tunggal bernomor, sehingga terjadi kerancuan dalam penghitungan besaran kapasitas stadion yang menentukan jumlah tiket yang harus dijual oleh panpel.
  • Terdapat celah bagi penonton untuk memasuki stadion secara gratis yang diakibatkan oleh buruknya kondisi infrastruktur(rendahnya dinding stadion, pintu masuk kurang kokoh, dsb).
  • Jumlah pintu masuk stadion terbatas. Banyaknya penonton yang berjubel dalam kurun waktu tertentu menyebabkan antrian di pintu masuk semakin panjang dan kadang semrawut. Kebocoran tiket dapat terjadi ketika antrian penonton tak tertib dan berebut untuk masuk ke stadion dengan jalan menerobos antrian.

Melihat banyaknya potensi masalah yang dihadapi klub untuk melawan kebocoran tiket. Sepertinya mustahil jika inisiasi penyelesaian masalah hanya melibatkan salah satu pihak semata. Itupun jika klub menginginkan prosentase kebocoran tiket mendekati angka nol persen.

Paling tidak, diperlukan kerjasama melibatkan semua pihak, baik dari unsur panpel, penonton maupun dengan perbaikan sistem dan infrastruktur. Tanpa kerjasama yang solid dikhawatirkan celah kebocoran tiket masih menganga dan siap mengikis setiap potensi keuntungan yang didapat dari tiket pertandingan.

2. Siasat Meminimalisir Kebocoran

Besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh kebocoran tiket tidak serta merta dibiarkan oleh klub. Beragam cara dan upaya coba diatasi oleh para klub untuk mengurangi besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh kebocoran tiket.
Inisiasi perbaikan harus dimulai sejak dini, dari mempersiapkan SDM, membuat sistem yang efektif dari pintu-pintu masuk stadion, hingga perbaikan infrastruktur yang melibatkan pemilik/pengelola stadion.

Beberapa klub memilih melakukan pengetatan sejak internal klub dulu, baru mengajak serta pihak lain untuk bekerjasama menanggulangi kebocoran tiket. Beberapa klub dibawah ini adalah contoh nyata beberapa perbaikan yang dilakukan oleh para panpel :

A. Persib
Dua tahun lalu klub berjuluk Maung Bandung ini melakukan pemotongan harga tiket hingga 50% untuk tribun dibelakang gawang. Hal ini dilakukan setelah panpel melalukan evaluasi akibat kebocoran tiket mencapai 50-70%.

Untuk menanggulangi pemalsuan tiket klub yang didukung oleh Bobotoh(sebutan suporter Persib) tersebut juga berencana menerapkan penggunaan teknologi berupa barcode pada tiket. Cara ini pernah digunakan oleh Persib, dan sistem ini dinilai sukses dalam menghindari pemalsuan tiket.

Selama ini pemalsuan tiket hanya dapat dideteksi secara manual, mengandalkan kejelian pengamatan para petugas portir di pintu masuk. Diharapkan dengan tiket yang menggunakan sentuhan teknologi informasi tersebut dapat mendeteksi peredaran tiket palsu dan tidak teregistrasi oleh sistem informasi yang dibuat oleh panpel.

Bentuk tiket barcode sangat sulit untuk dipalsu, karena hanya rangkaian kode angka yang terdaftar/teregistrasi oleh sistem yang dapat dideteksi oleh mesin scanner. Para penonton yang menggunakan tiket tanpa barcode dapat dilakukan pengecekan lebih lanjut apakah tiket tersebut ilegal(palsu) atau tidak.

Selain barcode sebenarnya panpel dapat menjual e-ticket(tiket elektronik) yang memiliki fungsi sama seperti tiket fisik yang dijual di loket ataupun para calo. Tiket jenis ini memiliki nilai lebih dalam hal penghematan(karena tidak memerlukan pencetakan tiket fisik) dan memudahkan kontrol distribusi tiket.

Namun sayang sekali sebagian besar klub di Indonesia masih menggunakan cara manual dalam menseleksi peredaran tiket ilegal. Umumnya tiket hanya diperiksa dalam sekejap mata saja. Hal ini disebabkan adanya antrian penonton yang berjubel di pintu masuk stadion dan tidak memberikan banyak waktu bagi petugas untuk menseleksi tiket lebih detail.

Selain barcode panpel Persib diuntungkan dengan kondisi infrastruktur di Bandung yang terus berbenah. Stadion Si Jalak Harupat yang menemani langkah Maung Bandung beberapa tahun terakhir mendapat pembenahan serius.

Saat ini Si Jalak Harupat mendapat renovasi berupa pemasangan kursi tunggal bernomor(single seat). Renovasi ini dipandang sebagai langkah maju dimana hanya beberapa stadion sepakbola di Indonesia yang memiliki kursi bernomor untuk seluruh tribun stadion.

Dengan kursi bernomor, Panpel Persib dapat menerapkan aturan “1 tiket = 1 tempat duduk”, sebagai salah satu langkah mengurangi kebocoran tiket secara efektif. Dengan penerapan aturan yang tegas, langkah ini memberikan kenyamanan kepada penonton untuk mendapatkan nomor kursi yang sesuai dengan tiketnya.

Pendeteksian kebocoran tiket dapat dilakukan didalam stadion/tribun ketika terdapat penonton tak bertiket dan menempati kursi yang bukan sebagai haknya. Sanksi yang diterapkan dapat berupa ‘pengusiran’ dari stadion, atau pemberlakuan suplisi/denda namun tetap dikeluarkan dari stadion.

Disisi lain konsekuensi penerapan kursi bernomor memang mengurangi kapasitas stadion Si Jalak Harupat dari 40ribu menjadi sekitar 27ribu penonton. Jumlah ini didapat dari banyaknya kursi yang baru dipasang di stadion yang berdiri di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung tersebut.

Berkurangnya potensi pendapatan tak menjadi soal jika melihat angka kebocoran tiket sebelum dipasang kursi bernomor tersebut sangat tinggi (mencapai 40% lebih). Toh dengan peningkatan sarana dan kenyamanan penonton, panpel sebenarnya dapat meningkatkan harga tiket (kebijakan yang ‘lazim’ dilakukan oleh banyak instansi di Indonesia).

Niscaya berapapun harganya akan tetap dibeli Bobotoh yang setia datang menyaksikan Maung Bandung berlaga. Pada pertandingan pertama di Stadion Jalak Harupat setelah pemasangan kursi bernomor(3/3), sebanyak 26.587 penonton membeli tiket dan menyaksikan jalannya bigmatch yang mempertemukan Persib dan Persija.

B. Arema
Strategi untuk mengurangi angka kebocoran tiket juga ditunjukkan Arema. Klub berjuluk Singo Edan ini sudah bertahun-tahun dirugikan adanya kebocoran tiket yang disebabkan banyaknya penonton yang tak bertiket.

Untuk musim Liga Indonesia 1999-2000 saja, terdapat ribuan penonton yang masuk ke Stadion Gajayana tanpa tiket. Penyebabnya bermacam-macam. Dinding stadion yang hanya bertinggi kurang dari 8 meter memudahkan para suporter untuk memasuki stadion secara gratis. Hanya bermodal seonggok bambu, spanduk, ataupun beberapa buah syal yang disambung dapat digunakan para penonton sebagai sarana olahraga panjat dinding secara bebas.

Alhasil dari kapasitas stadion(termasuk sentelban) yang mampu menampung 20ribuan penonton, hanya 14ribuan diantaranya yang bertiket. Hanya sekitar 70% penonton yang bertiket, sisanya masuk ke stadion secara gratis lewat berbagai cara.

Guna menanggulangi masalah tersebut, berbagai terobosan dilakukan panpel Arema. Untuk mencegah suporter nekad memanjat dinding stadion, ditempatkan beberapa regu tenaga keamanan untuk berjaga di sekitar dinding stadion. Selain itu, pihak pengelola stadion juga memasang kawat/besi berduri di dinding bagian atas.

Beberapa insiatif tersebut memang berhasil mengurangi kenekadan penonton yang mencoba masuk ke stadion. Aksi-aksi nekad semacam ini baru mereda setelah Arema memindahkan kandang ke stadion yang memiliki tinggi dinding lebih tinggi, misalnya Stadion Kanjuruhan di Kabupaten Malang.

Toh ternyata penyebab kebocoran tiket Arema tidak hanya disebabkan oleh aksi panjat dinding stadion semata. Selama dua dasawarsa terakhir, Panpel Arema seakan sudah kenyang asam garam akibat aksi yang menimbulkan terjadinya kebocoran tiket.

Berbagai strategi dicoba oleh Panpel untuk mengurangi angka kebocoran tiket. Untuk mencegah penggunaan tiket palsu dalam pertandingan Arema, panpel bekerjasama dengan petugas keamanan dan portir untuk mensortir lebih teliti tiket yang diserahkan oleh penonton saat memasuki stadion. Namun tindakan ini baru sebatas manual, karena terhambat belum tersedianya sistem dan prasarana yang dibutuhkan.

Selain itu Panpel Arema juga pernah mengurangi jumlah tiket yang dijual. Meskipun jumlah tiket yang dijual sebelumnya sesuai kapasitas, senyampang angka kebocoran tiket masih belum menunjukkan angka nol, Panpel ‘terpaksa’ melakukannya untuk menjaga lonjakan penonton tak bertiket yang akan memenuhi tribun stadion.

Jika bertahun-tahun lalu jumlah tiket yang dijual mencapai 42500, namun perlahan-lahan tiket yang terjual dikurangi hingga sekitar 33ribuan saja untuk pertandingan Arema di Stadion Kanjuruhan. Untuk pertandingan di Stadion Gajayana jumlah tiket yang dijual berada di kisaran 23ribuan dari kapasitas yang mencapai 30ribu orang.

Panpel Arema juga memasang spanduk di beberapa titik stadion untuk mensosialisasikan gerakan menonton pertandingan dengan bertiket. Khusus Panpel Arema ISL menerapkan penggunaan gelang penanda di tiap pertandingan yang akan diberikan bagi penonton bertiket sejak 7 Februari 2013. Dalam beberapa waktu kedepan akan didapat data statistik berupa efektifnya pemakaian gelang untuk mengurangi kebocoran tiket. Untuk mengurangi kebocoran tiket hingga nol persen, dibutuhkan beberapa effort lain dari Panpel Arema untuk mengatasinya .

C. Persisam
Musim lalu Stadion Segiri sebagai tempat penyenggaraan pertandingan ISL 2011-2012 sempat mengalami kecolongan adanya penonton tak bertiket. Meski tidak disebutkan berapa jumlah prosentase kebocoran namun masalah ini sempat menimbulkan keresahan bagi klub.

Masalah ini tak luput dari perhatian manajemen. Dikutip dari Tribunnews, manajemen Persisam Putra Samarinda memastikan bakal mengganti pengelola ataupun panitia penyelenggara Stadion Segiri  Samarinda, untuk pertandingan kompetisi Indonesia Super League (ISL) musim 2012/2013.

Alasan pergantian pengelola atau penyelenggara, lantaran diduga pengelolaan penjualan tiket pertandingan bocor dan menyebabkan tidak memenuhi target pendapatan dari penjualan karcis penonton.

3. Solusi Mencegah Terjadinya Kebocoran Tiket

Diluar upaya dan tindakan yang dilakukan oleh klub, sejatinya terdapat banyak solusi yang dapat diambil untuk mencegah terjadinya kebocoran tiket.

Berikut ini adalah contoh solusi yang dapat digunakan oleh para panpel dan klub untuk mencegah terjadinya kebocoran tiket. Solusi ini dirangkum dari berbagai sumber serta hasil analisa dari berbagai sumber terjadinya kebocoran tiket diatas :

A. Unsur Panpel

  • Pemilihan petugas yang benar-benar terseleksi dengan baik dan sanggup mengemban dan melaksanakan tugas sesuai dengan job description yang telah ditentukan oleh Panpel.
  • Ketegasan dari panpel/petugas didalam stadion bilamana terdapat penonton yang tak bertiket dan tidak dapat menunjukkan bukti potongan tiket yang dimilikinya sesuai dengan nomor bangku yang ia tempati.
  • Pemberian reward dan punishment bagi petugas yang berjaga di pintu masuk stadion. Tambahan komisi dapat diberikan kepada petugas yang berhasil mencegah kebocoran tiket, dimana jumlah penonton yang masuk dan dihitung oleh petugas checker(telah terseleksi dan dipercaya dengan baik) sesuai dengan jumlah tiket yang diterima dari penonton di pintu masuk tersebut. Award lain dapat digunakan pada momen tertentu bilamana terdapat petugas yang konsisten dalam melaksanakan tugasnya dan telah dinilai secara layak oleh klub.
  • Rotasi atau pergantian petugas

B. Unsur Penonton

  • Kampanye budaya slogan ‘masuklah stadion dengan membawa tiket yang sah’, ‘stop budaya masuk stadion dengan jalan nrombol‘, dan sejenisnya dan diterapkan dengan sebaik-baiknya menjelang pertandingan sepakbola dilaksanakan.
  • Tidak memaksakan diri untuk masuk ke stadion dengan cara ilegal jika tidak memiliki tiket pertandingan yang sah.
  • Membangun kesadaran diantara sesama suporter bilamana klub membutuhkan partisipasi suporter secara ekonomis dengan wujud pembelian tiket bilamana ingin menonton pertandingan.

C. Sistem

  • Menerapkan sistem ticketing 1 buah tiket hanya dapat digunakan untuk 1 orang saja.
  • Memberlakukan beberapa tarif dan jenis tiket sesuai tempat duduk dan peruntukannya. Misal : pembuatan tiket untuk anak-anak/pelajar maupun golongan tertentu dengan tarif reduksi. Untuk penonton dibawah umur/manula sebesar 20-25% yang lazim digunakan oleh panpel di stadion di Eropa.
  • Memberlakukan electric ticket dan electronic gate system(sistem pemindai berdasarkan infra red,barcode, dan lainnya), untuk mendeteksi dan mencegah pemalsuan tiket(automatic system), dimana hanya penonton bertiket dan telah dipindai secara otomatis oleh sistem yang terintegrasi denganserver database dapat masuk ke stadion. Sistem akan menerima data dari tiket yang dimasukkan oleh pengunjung, diolah server untuk dilakukan verifikasi dan pencocokan data(barcode, nomor tiket, dsb). Jika valid maka data akan dikirim kembali ke rangkaian sistem di pintu masuk dan pintu dibuka secara otomatis untuk penonton yang bertiket sah tersebut.
  • Petugas dapat membawa mobile checker bilamana jika didalam stadion timbul perselisihan yang disebabkan oleh tiket yang memiliki barcode, nomor ganda maupun tiket yang tidak dipindai dengan baik akibat sistem scanning di pintu masuk mengalami masalah.
  • Membuat program ‘nonton bareng’ diluar stadion bagi penonton yang tak kebagian tiket masuk(dapat digunakan pada pertandingan yang sold out penjualan tiketnya). Agar lebih ekonomis, klub dapat menyediakan tempat tersendiri secara ‘eksklusif’ dengan memberikan beberapa layanan yang menguntungkan secara ekonomis bagi penonton dan klub.
  • Memberlakukan sistem ring, hanya penonton bertiket yang dapat mengakses kawasan ring terdekat dengan stadion. Agar tidak terjadi bercampurnya antara penonton bertiket dan tak bertiket di arearing terdekat(ring 1), maka ticket box dapat dibuat diluar ring 1 seperti halnya yang terdapat pada kawasan Gelora Bung Karno di Jakarta.
  • Pembuatan sistem antrian yang ‘berliku’ dan kokoh untuk mencegah antrian penonton yang tak tertib dan nrombol.
  • Bilamana Panpel hanya dapat menerapkan sistem manual bagi masuknya penonton ke stadion, seyogyanya dapat menyediakan petugas tambahan untuk menghitung jumlah penonton yang masuk ke stadion(checker) dengan menggunakan beberapa alat manual. Hasil perhitungan kemudian dicocokkan dengan jumlah tiket yang diterima oleh petugas pintu masuk stadion. Selisih perhitungan antara petugas checker dengan tiket yang terkumpul di pintu masuk tertentu dapat dijadikan sebagai acuan untuk melakukan perhitungan jumlah kebocoran tiket. Kemudian panpel dapat melakukan inisiasi dan tindakan lebih lanjut untuk memperkecil atau menekan angka kebocoran tiket dalam pertandingan-pertandingan selanjutnya.

D. Infrastruktur

  • Pembuatan single seat ataupun kursi bernomor di tribun penonton. Kursi yang hendak digunakan haruslah sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket masuk.
  • Pembuatan beberapa kawasan ring di kawasan stadion untuk membedakan antara penonton yang telah memegang tiket masuk yang dapat mengakses kawasan ring terdekat dengan stadion. Antar kawasan ring dapat dipisahkan dengan pagar.
    Penambahan pintu masuk stadion untuk mencegah antrian atau penumpukan calon penonton di beberapa pintu masuk tertentu.
  • Mempertinggi dinding tribun untuk mencegah penonton nekat dan berusaha mengakses masuk stadion secara ilegal dengan jalan memanjat dinding stadion.
  • Penyediaan sarana dan fasiltias pendukung di dalam stadion seperti pintu dan pagar masuk stadion yang kokoh, gerbang/pintu elektronik, dan sebagainya.

30 Januari 2013

Tinggalkan Komentar