Kisah Lampu Lalu Lintas Pertama Di Kota Malang

    0
    Lampu lalu lintas di perempatan Rajabaly sekarang
    Lampu lalu lintas di perempatan Rajabaly sekarang

    Di Malang terdapat ratusan lampu lalu lintas. Namun, tahukah Anda dimanakah lampu lalu lintas pertama kali. Jawabannya terletak di perempatan Rajabaly.

    Salah satu wilayah yang cukup terkenal di masa Pemerintahan Kolonial Belanda adalah perempatan Rajabaly, sebuah kawasan yang seperti jembatan yang menghubungkan empat hal penting. Tidak heran kemudian di sana terdapat lampu lalu lintas pertama kali.

    Sejarahnya, lampu lalu lintas pertama kali dibuat di Inggris oleh Lester Farnsworth Wire pada 1863. Pada saat itu dirinya melihat tabrakan antara mobil dengan kereta kuda. Sehingga dia menciptakan penanda untuk digunakan sebagai pengatur lalu lintas untuk jalan persimpangan dia menciptakan lampu stop dan go, lampu lalu lintas kemudian disempurnakan oleh Garrett Morgan dari Amerika dan dipatenkan olehnya pada 1923.

    Lampu lalu lintas di perempatan Rajabaly | | Foto: Olivier Johannes
    Lampu lalu lintas di perempatan Rajabaly | | Foto: Olivier Johannes

    Pada foto yang dilansir bertahun 1930 atau tujuh tahun setelah penyempurnaan lampu lalu lintas. Pemerintah Kolonial Belanda membawa konsep lampu milik Morgan tersebut ke Malang. Posisi lampu itu digantung di tengah perempatan Rajabaly yang sudah mulai padat oleh aktivitas berbagai macam kendaraan seperti mobil, sepeda, dokar dan lain sebagainya.

    Jika sekarang lampu lintas menggunakan warna merah, hijau, dan kuning. Maka lampu yang ada di perempatan Rajabaly menggunakan tulisan. Djalan untuk kendaraan yang jalan, awas untuk kewaspadaan, dan stop untuk berhenti. Sistem dari lampu itu masih sangat sederhana dan dioperasikan secara manual.

    Seperti yang diungkapkan di atas, persimpangan perempatan Rajabaly adalah lokasi strategi atau pusat jalan di Malang pada masa itu karena menghubungkan empat tempat yaitu ke Alun-alun Malang di sisi selatan, jalan ke timur untuk Alun-alun bundar, jalan ke barat untuk ke Ijen Boulevard, dan keluar kota Malang jika jalan ke utara.

    Persimpangan ini adalah salah satu Bouwplan yang dikembangkan oleh Herman Thomas Karsten yang merancang persimpangan Kajoetanganstraat-Semeroestraat-Riebeecstraat sebagai titik pusat Kota Malang dan sekaligus membuka akses ke arah barat sebagai perkembangan kota yang baru.

    Persimpangan ini memiliki kekhasan yang dipertegas oleh bangunan termasuk gedung kembar yang fenomenal karena dibangun atas hasil inspirasi anak kembar sang arsitek. Saat ini sejumlah pertokoan masih mempertahankan bentuknya seperti Toko mainan Lido yang ada di pojokan, sedangkan yang lain sudah berubah dengan bentuk yang lebih modern.

    Beberapa kejadian yang menggunakan akses Kayutangan sebagai jalan utama antara lain, prosesi penyerahan kekuasaan Belanda kepada Jepang pada 27-28 Februari 1942. Sebelumnya, Belanda menyerah kalah di Laut Jawa pada 1 Februari 1942.

    Kemudian pada saat Belanda melakukan agresi militer pada 1947 juga menggunakan akses Jalan Kayutangan dengan perempatan Rajabali sebagai jalan penghubung.

    Tinggalkan Komentar

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.