Beranda Fokus Kliping Koran: Asal Mula Berdirinya Arema

Kliping Koran: Asal Mula Berdirinya Arema [Membuang Citra Buruk Arema 86]

0

Mendirikan klub Galatama sebenarnya tidak terlampau sulit asal memiliki dana yang cukup, pelatih yang baik, dan pemain yang berkualitas, maka selesalah sudah. Tetapi asal mula berdirinya Arema sebagai klub Galatama di Malang tidak begitu.

“Berat sekali,” kata Ir. Lucky Acub Zainal, ketua harian Arema. “Di sini pernah lahir klub Galatama Arema 86 yang bercitra tidak baik,” katanya lagi.

Arema Sejarah
Di wisma yang sangat sederhana inilah para pemain Arema bermarkas. Tepatnya di Jl. Tanjung 58-60 Malang. [BOLA]
Bekerja Keras

Untuk itu, Arema klub yang didirikannya 11 Agustus 1987 harus menyapu dahulu gambaran buram Arema 86 sang pendahulu. “Inilah yang kami rasakan begitu beratnya,” ujar putra bekas Gubernur kian Jaya Acub Zainal ini.

Namun kepercayaannya menjadi begitu besar setelah sang ayah, yang kebetulan ketua III PSSI dan administratur Liga PSSI memberikan dukungan. Selain itu Sinyo Aliandoe, bekas pelatih nasional dan Tunas Inti bersedia bergabung.

Lewat tangan Aliandoe, sisa-sisa pemain Arema 86 ditampung. “Modal dan kualitasnya sangat terbatas sekali. Tapi kami harus tetap berdiri. Kami harus tetap ada,” ucap pemuda kelahiran kota apel 9 Desember 1960 ini.

Maka Aliandoe pun bekerja ekstra keras. “Untuk menyulap mereka dalam waktu retatif singkat tidak mungkin. Tapi saya punya cara tersendiri,” tukas Aliandoe. “Semangat dan fisik mereka saya tingkatkan. Dengan kondisi fisik yang prima dan semangat juang yang tinggi permainan bisa dikendalikan. Ini saja yang mula-mula saya lakukan,” sambung Aliandoe.

Usaha tersebut ternyata tidak sia-sia. Dalam Piala Bentoel September 1987 Arema muncul tidak memalukan. Ini juga modal yang sangat baik. Terus terang untuk membeli pemain top, kami tidak sanggup,” ujar Lucky.

Teknik

Setelah muncul baik di Piala Bentoel, Aliandoe baru mulai memoles anak-anak Arema dengan teknik dan taktik. Usaha ini pun tidak sia-sia, meski belum juga dikatakan sudah mampu diserap dengan baik oleh para pemain. Maklum beberapa di antara sisa pemain Arema 86 pernah pula main di klub Gatatama. Mahdi Haris, Efendi Aziz (Arseto), Jamrawi (Niac Mitra), dan dari Perserikatan Panus Korwa (Perseman Manokwari).

Namun yang tetap dijadikan modal utamanya adalah semangat juang serta kemampuan serta daya tahan fisik yang prima. Dengan dua faktor itu, Arema membuktikannya di Piala Liga Milo IV putaran pertama grup I yang dimainKan di Malang beberapa waktu lalu, Arema mampu menyingkirkan Arseto, bekas juara Piala Liga I dan Perkesa Mataram.

Malah sebagai bukti semangat juang serta kekuatan fisik dapat menentukan sukses, mereka telah perlihatkan ketika melabrak Perkesa 4-0. Fisik Arema cukup baik sehingga mereka mampu memperdayai lawan dengan baik.

“Ini juga sebenarnya punya hambatan,” kata Lucky. “Banyak pemain yang semula tak pernah menduga akan diberi porsi latihan dua kali sehari. Jadi perlu waktu juga untuk membuat mereka dapat mengikutinya dengan baik,” sambung alumnus Universitas Brawijaya ini.

Tapi berkat keteguhan Aliandoe dan kesabaran pihak pengurus Arema, maka anak-anak itu akhirnya bisa juga muncul ke permukaan. Perlahan-lahan kebiasaan buruk yang mereka bawa sebelumnya bisa juga hilang.

Menurut para pemain Arema, bentuk atau metode latihan yang diberikan Aliandoe cukup baik. “Setelah fisik kami baik, chief (begitu Aliandoe dipanggil di Malang) memberikan taktik dan teknik. Kami baru serius menjabarkan satu taktik atau strategi setelah lawan yang akan dihadapinya sudah pasti. Jadi setiap lawan selalu berbeda taktik dan strategi yang kami tampilkan,” ujar para pemain.

Menangkal Suap

Acub Zainal, ketua yayasan Arema yang mendukung dana klub tersebut menyebutkan kebanggaan merupakan titik penangkal suap di klubnya. “Saya berikan gambaran kepada para pemain akan hal kebanggaan jika mereka sukses. Kepercayaan diri dan rasa memiliki klub yang besar. Dengan faktor-faktor ini, maka Insya Allah hantu suap tidak menyerang kami,” katanya.

Pembinaan mental secara khusus bagi Lucky tidak perlu. “Kami berikan kepercayaan pada para pemain. Dengan kepercayaan seperti itu, mereka akan selalu menjaga diri. Jika para pemain merasa bangga dengan klubnya, merasa diberi kepercayaan, dan memiliki klub itu, maka unsur lain yang culas tidak akan mereka lakukan.”

Namun Lucky sendiri menyadari meski sudah begitu, hantu suap tetap saja bisa menjamah. “Semua bergantung para pemain itu sendiri dalam menilai profesinya,” tukas anak muda yang hobi ngebut dan bertinju ini.

Lima Besar

Tentang target Arema sendiri, Aliandoe mengatakan akan merasa senang jika klubnya menjadi juara. Tetapi untuk awal semacam ini posisi lima besar saja sudah menimbulkan kegembiraan. “Bukan berarti jika ada kesempatan, kami tidak ingin juara,” tutur Aliandoe.

Lucky sendiri belum berani menjabarkan target sesungguhnya dari Arema di kompetisi Galatama. “Saya lebih mementingkan Arema diterima dulu di Malang sebagai klub kebanggaan. Jika semua kondisi sudah memungkinkan, baru kita bicara target sesungguhnya.”

Lucky sadar, timnya saat ini masih serba pas-pasan. Tetapi ia bergembira karena saat ini Arema sudah diterima oleh masyarakat sepakbola kota Malang. Kalau pada Arema 86 jumlah penonton tidak lebih dari 1.000 orang, kini minimal 4.000 penonton selalu mendatangi pertandingan Arema.

“Dari sini harapan untuk bernapas sudah kelihatan. Modal yang biasa kami lakukan rata-rata Rp 2 juta. Pemasukan rata-rata


Penulis: Caesar Sardi
Publisher: Peksi Cahyo Priambodo
Sumber: Mingguan BOLA Edisi No. 232, 5 Agustus 1988

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.