Beranda Memorabilia Kliping Media KLIPING: Menunggu Terobosan Baru

KLIPING: Menunggu Terobosan Baru

0

Arema terbelit masalah keuangan yang pelik menjelang kompetisi Liga Indonesia 2003. Pada saat itu, pengurus klub memiliki terobosan baru untuk menghidupi klub.

Salah satu opsi yang dipilih adalah menjual kepada Pemkot Malang. Bukan jalan merger dengan Persema, melainkan Pemkot menjadikan Arema adalah aset daerah dengan mengubahnya menjadi perusahaan daerah.

Berbagai pertemuan digelar pada waktu itu dengan pemkot. Namun menemui jalan buntu.

Pada akhirnya Iwan Budianto kemudian menawarkan pemainnya kepada Persik untuk ‘dibeli’, salah satunya adalah Suswanto dan Johan Prasetyo yang dihargai 200 juta, dengan uang itulah akhirnya Arema memulai persiapan untuk 2003.

Endingnya semua tahu, di tengah jalan Arema dijual ke Bentoel dan di akhir kompetisi Arema terdegradasi.

Kartun di Kliping Yang Unik

Pada kliping ini juga ilustrasi yang unik dimana Arema juga diibaratkan manusia seperti tarzan yang membutuhkan dana. Sementara pemain dijejer bak etalase yang siap dijual.

Di sisi lain, pengurus sibuk ke Balaikota untuk mencoba mencari cara pengelolaan Arema. Tawaran Pemkot sendiri hanya Rp3 milyar saja untuk mengelola Arema.

Sementara itu, juga ada sosok perempuan yang digambarkan tengah menagih hutang kepada Arema sebesar Rp300 juta.

Keadaan ini membuat suporter digambarkan cukup pusing dengan kondisi Arema saat ini.

Baca selengkapnya kliping Tabloid Bola, Selasa 3 September 2002 ini.

Menunggu Terobosan Baru

Arema dan Malang sepertinya menjadi antitesis dari perkembangan sepakbola di Indonesia. Di saat kota-kota lain memiliki tim besar berbasis perserikatan, di Kota Apel tersebut malah sebaliknya. Klub eks Galatama yang lahir tahun 1987, Arema, malah tumbuh dan berkembang jauh melewati Persema.

Kebesaran Arema tak hanya dari sisi prestasi yang mampu melewati Persema. Namun, klub juara Galatama 1992 ini juga menyedot perhatian Arek-arek Malang, yang jauh lebih besar dibanding tim induk perserikatan tersebut. Meski demikian Arema juga memiliki masalah klise seperti halnya peserta Liga Indonesia lainnya.

Setiap akan memulai kompetisi, tim yang didirikan Acub Zainal ini selalu berteriak soal dana.

Terakhir, para pendiri & pengurus yayasan berencana menjual Arema ke pemerintah Kota Malang, namun masih mengalami jalan buntu. Alhasil, banyak pemain merasa tak betah dengan kondisi tersebut. Beberapa bintang Arema yang selama ini dikenal setia pada Singo Edan mulai hengkang.

Libero Charis Yulianto siap membela PSM. Striker muda potensial, Johan Prasetyo siap kabur ke PSIS. “Perpindahan pemain itu wajar tapi soal status kontrak mereka harus jelas dulu,” ujar Iwan Budianto, Ketua Umum Yayasan Arema, yang juga manajer Arema.

Konon Johan masih terikat kontrak dengan Arema sehingga pengurus tenang-tenang saja mananggapi keinginan tim lain merekrutnya. Namun hingga kini, skuat Arema sendiri tidak jelas. Para pemain sudah berhamburan. Nyaris tidak ada aktivitas di mes Arema.

Opsi Pengelolaan
Persoalan lain, perihal status pengelolaan Arema yang kabarnya seharusnya dimiliki Kafe Hore-Hore, Jakarta.

“Mestinya opsi Arema sudah berpindah tangan sejak dua tahun lalu, tepatnya di penghujung LI 2000, bersamaan dengan jatuh temponya batas peminhaman uang dari Ny. Sri S Tardjo, tapi niat baik tidak ditanggapi dengan baik,” tegas Gandi Yogatama, mantan ketua harian dan manajer Arema.

Padahal, Ny. Sri sudah memberikan batas tempo pengembalian utang hingga sebulan kedepan, terhitung sejak perjanjian diteken tahun 2000. Gandi melakukan peminjaman itu atas dasar surat kuasa yang dibuat pemilik Arema, Lucky Adriana Zainal di Hotel Indra, Jakarta.

Lucky pun mengakui utang itu sebagai tanggungan organisasi. “Tapi opsi yang dimaksud dalam peminjaman itu adalah pengelolan klub, bukan Yayasan Arema,” tuturnya.

Namun, persoalan kemudian berkembang, “Dulu saat LI 2001 akan bergulir, kami menanti pihak Hore-Hore untuk merencanakan keikutsertaan Arema di LI, namun tidak ada tanggapan. Akhirnya kami putuskan jalan sendiri,” jelas Iwan.

Guna memuluskan langkah penjualan Arema, sekaligus melangsungkan kehidupan dan pembinaan sepakbola yang lebih baik. Iwan dan Lucky mengajukan kerjasama baru.

“Kami sepakat, kita buat saja Arema menjadi perusahaan Daerah. Dana dari pemkot dihitung sebagai saham, begitu juga hutang kami dengan Hore-Hore,” ujarnya.

Namun, opsi ini masih perlu dibicarakan. Selasa (3/9) ini, rencananya Pemkot dan Yayasan Arema kembali duduk semeja. Bila tercapai kata sepakat bisa jadi akan menjadi terobosan besar bagi pengelolaan klub di masa datang.

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.