Beranda Artikel Lambau, Kenangan yang Tersisa Dari Hilangnya Hutan Kota

Lambau, Kenangan yang Tersisa Dari Hilangnya Hutan Kota

0
Lambau ketika sedang bersiap berubah menjadi kawasan perumahan elit medio 2007 silam
Lambau ketika sedang bersiap berubah menjadi kawasan perumahan elit medio 2007 silam

Dahulu Lambau merupakan kawasan hutan kota yang terletak di Kota Malang. Nama Lambau sendiri berasal dari bahasa Belanda Landbouw yang artinya pertanian. Penamaan ini bukanlah tanpa sebab, hutan kota strategis tersebut banyak dipenuhi lahan pertanian dan perkebunan.

Berbagai varietas tanaman seperti tebu, coklat dan padi tumbuh disini. Di tempat ini pernah ada Sekolah Penyuluh Pertanian yang kini telah ‘ditukar lahannya’ ke Jl. Dr. Cipto Bedali, Lawang. Jejak bangunan akademik tersebut nyaris tak bersisa, dan tinggal puing bangunan di sebelah selatan area yang saat ini dibangun perumahan elit.

Karena acap lidah masyarakat Malang, kata Landbouw yang merupakan kosakata dari bahasa Belanda telah berubah penyebutannya seperti yang dikenal di masa sekarang. Seperti halnya kata Zwembad yang bermakna kolam renang dan berubah pengucapan vokalnya menjadi swembad atau slembat oleh warga Malang.

Lambau sebagai hutan kota dulunya memberikan manfaat kepada Kota Malang dengan aneka ragam flora dan fauna yang cukup banyak. Pohon-pohon dan semak yang hidup membantu dalam pengurangan limpasan air hujan, pengurangan polusi udara, meningkatkan habitat kehidupan satwa, juga mitigasi dampak lingkungan perkotaan secara keseluruhan.

Lambau semestinya merupakan area pelestarian plasma nutfah dalam bentuk mini. Di masa lalu menyimpan keanekaragaman hayati flora dan fauna tak ternilai harganya. Di tempat ini pula warga sekitar dapat memanfaatkannya sebagai kawasan untuk pendidikan dan penelitian.

Para siswa-siswi usia sekolah sering memanfaatkan Lambau untuk tujuan akademik. Tugas-tugas sekolah seperti praktikum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan hasta karya dapat diselesaikan dengan mengambil bahannya yang mudah ditemui.

Selain anak-anak usia sekolah, keberadaan Lambau memberikan keuntungan sosial, psikologis dan rekreasi bagi warga yang bermukim di sekitarnya. Para pemuda kerap memanfaatkan lapangan sepakbola di sebelah selatan.

Luas lapangan yang terbatas tak menyurutkan minat masyarakat sekitar. Hiruk pikuk pemuda yang bermain sepakbola tak sebanding dengan daya tampung arena. Dalam kondisi ramai, jumlah pemain yang memenuhi gelanggang permainan dapat berjumlah 50-80 orang. Jumlah yang cukup besar dibandingkan kondisi ideal permainan sepakbola dengan jumlah pemain 22 orang saja.

Di tengah hingar bingar permainan, jarang terjadi gesekan antar warga. Seolah ada peraturan tak tertulis, lapangan tersebut terbagi beberapa petak berdasarkan domisili ataupun kecepatan waktu dalam mengaksesnya. Semua seolah sudah mahfum, fasilitas umum alangkah baiknya dapat digunakan bersama-sama tanpa memandang kasta.

Lambau sebagai sarana rekreasi murah tak hanya dimonopoli oleh keberadaan lapangan sepakbola semata. Pasca musim panen padi, warga kerap berkumpul di sore hari untuk melatih burung merpati. Sementara para remaja dan anak-anak lainnya mencari kesibukan lain dengan berburu satwa seperti burung (kuntul, gereja, gelatik, pleci), ikan (lele, sepat, tawes, gatul/cere, wader, dll), hingga ular.

Pengalaman penulis sendiri cukup menyenangkan berburu satwa seperti ikan dan belut di sini. Belut sebesar telunjuk orang dewasa dengan panjang 20-30cm kerap diburu pasca musim panen padi tiba. Tak hanya untuk konsumsi semata, belut yang didapat terkadang digunakan sebagai bahan lomba ketika menyambut hari kemerdekaan.

Pepohonan yang tersisa
Pepohonan yang tersisa

Lambat laun keberadaan satwa-satwa tersebut mulai berkurang. Dekade lalu masih banyak terdapat ikan wader jumbo sebesar jari telunjuk orang dewasa. Kini setelah perubahan alih fungsi status hutan kota, keberadaan ikan-ikan tersebut seolah menghilang dan hanya tersisa ikan kecil berukuran jari kelingking bayi.
Ikan wader niscaya hanyalah penggalan cerita dari kerusakan ekosistem kawasan Lambau oleh komersialisasi lahan.

Perubahan alih fungsi status Lambau dari hutan kota menyimpan pelajaran bagi Kota Malang untuk tidak terulang di masa mendatang. Hutan kota jika dilestarikan memberi banyak faedah bagi masyarakat Malang itu sendiri.

Efek fungsional dan strategik dari keberadaan hutan kota dapat mengatasi banyak masalah lingkungan kota dan perkotaan. Hutan kota yang estetik dan futuristik memberi dampak simultan untuk peningkatan estetika kota dan sarana wisata murah bagi masyarakat.

Pendeknya hutan kota merupakan sebuah investasi positif yang dapat dirasakan manfaatnya secara nyata dalam jangka waktu yang panjang.

Tinggalkan Komentar