Beranda Fokus Mamahami Gaya Bermain Rodrigo Ost Dos Santos Di Skuat Arema

Mamahami Gaya Bermain Rodrigo Ost Dos Santos Di Skuat Arema

Rodrigo Ost Dos Santos datang dengan harapan mampu mengembalikan ruh permainan Arema yang hilang. Tetapi banyak pihak yang sangsi, bukan karena kemampuan dia di lapangan melainkan adanya tato singa di lengan kanan.

0
Rodrigo Ost Dos Santos ketika latihan.
Rodrigo Ost Dos Santos ketika latihan.

Hampir semua pemain yang didatangkan oleh Joko Susilo ke Arema untuk persiapan Liga 1 musim 2018 berkarakter cepat dan keras. Namun, tetap ada yang berbeda dari semuanya. Anomali itu bernama Rodrigo Ost Dos Santos.

Gelandang kelahiran Sao Paulo Brasil ini memiliki tipikal permainan yang cukup kalem. Namun, dirinya punya umpan yang mematikan. Umpan-umpan yang pernah dia suguhkan manakala membela Mitra Kukar di menjadi juara Piala Presiden 2015 dan Indonesian Soccer Championship 2016 lalu.

Kedatangannya diharap mampu menerjemahkan keinginan Joko Susilo yang kehilangan pengumpan jitu pada kompetisi Liga 1 2017. Kehilangan yang cukup parah karena berdampak pada suplai bola di lini depan. Tidak heran Arema hanya mencetak 43 gol saja musim lalu.

Rodrigo Ost Dos Santos dikenalkan di Arema.
Rodrigo Ost Dos Santos dikenalkan di Arema.

Kenapa Mimilih Rodrigo Ost Dos Santos

Arema belum bisa move on dari Gustavo Lopez. Sebagai sosok playmaker, Gustavo mampu menghadirkan kengerian di depan gawang lawan. Selain dia bisa memberikan umpan jitu, sosoknya juga bisa mengubah jalannya pertandingan dengan gol yang dia ciptakan.

Pendek kata, kehadiran Gustavo memberikan inspirasi magis yang mampu membuat suporter yang datang berdecak kagum.

Saat Gustavo pergi, beragam pemain yang bertipikal playmaker didatangkan, namun belum ada yang mampu memikat Arema dan Aremania.

Gustavo Lopez saat Arema melawan Selangor
Belum ada yang bisa menggantikan peran Gustavo selepas dia pergi

Di sisi lain, Arema sudah mencoba cara lain dengan memainkan gaya atau tipikal permainan yang berbeda, tetapi permainan yang berbeda itu ternyata tidak cukup menyihir sehingga demi memuaskan hasrat Aremania, di musim 2018 playmaker adalah orang yang paling dibutuhkan.

Dari sejumlah nama yang disodorkan, Joko memilih Rodrigo. Ada dua alasan yang dipakai saat Singo Edan mendatangkannya, yaitu dia pernah bermain di Indonesia dan dia adalah rekan dari bek Arthur Cunha. Dua alasan itu cukup mampu menyisihkan beberapa nama yang disodorkan oleh agen.

Memahami Gaya Bermain Rodrigo

Rodrigo saat ini masih menjalani proses adaptasi bersama pemain yang sudah ada ataupun pemain baru di tim Arema. Namun, dari youtube panditfootball gaya main Rodrigo dijelaskan dengan gamblang.

Rodrigo sendiri memang memiliki gaya main playmaker khas Amerika Latin. Tak terlalu memiliki kecepatan, tapi memiliki visi bermain yang baik. Pergerakannya dengan atau tanpa bola akan menentukan keberhasilan timnya dalam membangun serangan. Simak videonya di bawah

Tato Rodrigo Jadi Kutukan?

Ada sebuah hal menarik dari sosok Rodrigo yang langsung menjadi perhatian Aremania. Yaitu sebuah tato kepala Singa di lengan Rodrigo.

Banyak suporter berharap, keberadaan tato itu mampu membuat sang pemain cepat menyatu karena sesuai dengan simbol Singo Edan.

Tidak ada pemain yang bertahan lama ketika memiliki tato Singa.
Ada mitos jika tidak ada pemain yang bertahan lama ketika memiliki tato Singa. Tetapi Rodrigo berharap lebih lama di Arema

Tetapi tidak sedikit Aremania yang takut, karena meskipun singa adalah logo Arema, ternyata singa di logo tidaklah berjodoh dengan singa yang ada di badan pemain. Franco Hitta, Muhammad Ridhuan, Kiko Insa, hingga Fellipe Bertoldo pernah menerima ‘kutukan’ itu.

Kutukan itu adalah mereka tidak akan bertahan lama di tim Arema, hal ini terjadi karena ada anggapan jika gambar singa cukup di Arema sebagai tim saja dan tidak perlu tergambar pada tubuh pemain. Karena pemain sudah cukup terwakilkan dengan sebuah simbol gaya main yang menunjukkan karakter singa yaitu pantang menyerah, tidak takut lawan, dan selalu ingin memenangkan pertandingan.

“Saya pikir semua itu hanya mitos,” tegas seorang kawan mengomentari fenomena unik ini.

Tetapi kemudian selalu ada pertanyaan lain, berapa lama Rodrigo bertahan?

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.