Melihat Atmosfer Pertandingan Klub Singapura

    0

    Di sela-sela liputan turnamen International Championship Cup 2018 di Singapura, Goal Indonesia menyempatkan diri menonton sebuah pertandingan kompetisi sepakbola Singapura, akhir pekan lalu. Kebetulan, kami dapat menyaksikan pertandingan perempat-final Piala Singapura antara Tampines Rovers dan Home United. Jadwalnya kebetulan cocok karena berlangsung saat ICC tengah rehat. Seperti diketahui, ICC Singapura tahun ini diramaikan tiga tim besar Eropa, yaitu Arsenal, Atletico Madrid, dan Paris Saint-Germain.

    Pertandingan digelar di Stadion Jalan Besar, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Stadion Nasional Singapura. Menuju Stadion Jalan Besar, kami mengambil jalur MRT berwarna ungu. Kami turun di Stasiun Farrer Park untuk kemudian berjalan kaki dengan jarak kurang lebih 700 meter. Sebenarnya stadion berada lebih dekat dengan Stasiun Lavender, tetapi karena harus berpindah jalur, kami memutuskan untuk sedikit berolahraga.

    Stadion Jalan Besar terletak di kawasan perumahan. Terdapat sejumlah hotel bintang tiga di dekatnya. Stadion hanya memiliki dua buah tribun dan dua sisi lainnya dibiarkan melompong. Sisi utara berbatasan dengan tembok gelanggang kolam renang, sedangkan sisi selatan berbatasan langsung dengan jalan. Stadion ini merupakan kompleks olahraga yang juga memiliki food court di salah satu pojoknya.

    Meski kecil (hanya berkapasitas 6.000 tempat duduk), stadion ini cukup bersih. Jarak penonton dengan lapangan sangat dekat. Terlihat jelas lapangan menggunakan rumput sintetis. Jenis rumput ini seringkali dikeluhkan sejumlah pelatih tim yang datang melawat karena pantulan bolanya berbeda jika pertandingan dimainkan di rumput natural. Tapi, jangan salah. Stadion ini berkualitas internasional. Ajang seperti Piala AFF maupun SEA Games pernah dipentaskan di sini.

    Beralih ke pertandingan. Salah satu alasan kami datang menonton adalah karena ingin melihat dari dekat striker Tampines yang konon sedang diincar Arema FC, yaitu Khairul Amri. Nama pemain 33 tahun itu tidak asing bagi telinga fans tanah air. Amri langganan timnas Singapura yang juga pernah menjebol gawang Kurnia Meiga pada Piala AFF 2016 lalu.

    Stadion Jalan Besar juga sebenarnya tidak asing bagi suporter sepakbola nasional. Sejumlah fans Persija Jakarta pernah datang bertandang pada Piala AFC tahun ini. Pada pertandingan kali ini, Home United bertindak sebagai tuan rumah kendati ini bukan merupakan kandang mereka yang sebenarnya. Home United terpaksa bermain di Jalan Besar karena markas mereka, Stadion Bishan, dijadikan sarana latihan klub peserta ICC 2018.

    Pertandingan ini boleh dibilang big match karena kedua tim menghuni tempat ketiga dan kedua klasemen akhir Singapore Premier League (SPL) musim ini. Home United dan Tampines kembali berpeluang mewakili Singapura di kancah Piala AFC karena juara SPL Albirex Niigata, klub satelit asal Jepang, tidak memiliki hak partisipasi.

    Namun, bermain di kandang dadakan, Home United tidak sanggup meladeni permainan cepat Tampines. Mereka kebobolan lebih dahulu melalui gol Khairul Amri saat injury time babak pertama, lalu sempat membalas lewat Shahril Ishak pada menit ke-61. Pada akhirnya, Home harus rela kalah akibat aksi pemain naturalisasi Jordan Webb yang mencetak gol kemenangan Tampines pada menit ke-85.

    “Home United sebenarnya juga beruntung melawan Persija kemarin, karena pada saat itu Persija kehilangan kiper (Andritany) dan bek (Jaimerson). Walaupun begitu saya berharap mereka mampu menang melawan Ceres Negros di final zona ASEAN Piala AFC nanti,” ungkap Ho Zhao Xian kawan kami dari Singapura.

    Tidak seperti di Indonesia yang selalu dipadati pengunjung, kompetisi sepakbola Singapura belum bisa menghadirkan penonton dalam jumlah masif. Pertandingan ini menjadi contoh jelas. Meski tim yang bertanding merupakan wakil Singapura di Piala AFC tahun ini, ditambah lagi status sebagai tim papan atas SPL, keduanya tak mampu mengundang minat penonton.

    Tribun utama stadion yang tidak terlalu besar terbagi dua. Di sebelah kanan kami suporter Tampines, sedangkan di kiri Home United. Tribun seberang dibiarkan kosong melompong. Sedikitnya jumlah penonton menyebabkan teriakan pemain di atas lapangan terdengar sangat jelas.

    Minimnya jumlah suporter juga membuat pertandingan berjalan kondusif dan tidak terjadi adu ejek antarsuporter yang mungkin bisa menyebabkan kerusuhan.

    “Sepakbola lokal di sini tidak mendapatkan minat dari kebanyakan anak-anak muda. Kebanyakan penonton adalah generasi tua ataupun berasal dari keluarga pemain sehingga tidak membutuhkan stadion dengan kapasitas terlalu besar. Pertandingan akan ramai jika melibatkan tim nasional ataupun tim Eropa sehingga baru lah menggunakan Stadion Nasional yang berkapasitas lebih besar,” ujar Ho lagi.

    Ho yang tinggal di kawasan Bishan juga menceritakan jika laga Liga Singapura juga tidak membuat orang tertarik meskipun bermain di derahnya sendiri.

    “Pernah suatu kali saat pertandingan di Stadion Bishan sudah dimulai banyak warga yang masih joging di trek atletik. Mereka seolah tidak peduli dengan pertandingan, bahkan saat bola keluar mereka juga membantu menyepaknya ke dalam lagi. Indonesia negara besar, saya selalu senang dengan atmosfer bising ketika liga mereka berputar,” pungkasnya.

    Seperti yang sudah saya tulis di GOAL Indonesia

    Tinggalkan Komentar

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.