Beranda Memorabilia Kliping Media Memorial Match Persib melawan Arema, Saat Adjat Sudrajat Acungkan Jari Tengah

Memorial Match Persib melawan Arema, Saat Adjat Sudrajat Acungkan Jari Tengah

0
Selebrasi jari tengah Adjat Sudrajat | Koran Pikiran Rakyat, repro by Bola.com
Selebrasi jari tengah Adjat Sudrajat | Koran Pikiran Rakyat, repro by Bola.com

Salah satu laga Persib melawan Arema yang dikenal cukup panas adalah laga di Piala Utama 1990. Laga yang berlangsung di Stadion Siliwangi tersebut cukup diingat terutama selebrasi mengacungkan jari tengah dari striker Persib Adjat Sudrajat.

Piala Utama 1990 adalah kompetisi yang mempertemukan empat tim dari Perserikatan dan Galatama. Dua model kompetisi tersebut memang diciptakan oleh PSSI untuk membedakan profesionalitasnya.

Saat itu, Arema di Piala Utama tergabung di grup B bersama Persib Bandung, Kramayudha Tiga Berlian, dan Persija Jakarta.

Singo Edan di laga pertama bermain dengan skor imbang 0-0 melawan KTB, karena itu untuk lolos ke semi-final mereka harus bisa menumbangkan tuan rumah Persib Bandung.

Tidak heran, Arema yang dilatih M. Basri memang sudah menginstruksikan pasukannya untuk bermain keras saat meladeni tuan rumah. Pernyataan bermain keras itu juga disampaikan oleh pemain legendaris Arema, Singgih Pitono. Dalam kutipan di surat kabar Pikiran Rakyat, Singgih ingin bermain ngotot melawan Persib.

“Dalam dua pertandingan sebelumnya di Surabaya dan Semarang, kami kalah dari Persib. Kesempatan kali ini akan saya gunakan sebaik mungkin untuk membalas dendam,” seru Singgih Pitono jelang laga lawan Persib dalam Pikiran Rakyat, Rabu 21 November 1990.

Benar saja, dalam pertandingan yang dilangsungkan di Stadion Siliwangi, Bandung, Arema mampu memaksa pemain-pemain Persib menahan emosi. Singo Edan pada menit-menit pertama langsung menerapkan sepak bola menyerang. Lini tengah Persib tak mampu mengalirkan bola dengan lancar ke posisi serang.

Laga Persib melawan Arema di Stadion Siliwangi berlangsung dengan sangat keras | Koran Pikiran Rakyat, repro by Bola.com
Laga Persib melawan Arema di Stadion Siliwangi berlangsung dengan sangat keras | Koran Pikiran Rakyat, repro by Bola.com

Menit ke-6 sedikit terjadi kericuhan saat bek Arema, Lulut Kistono menghajar dengan keras Djadjang Nurdjaman. Ternyata, taktik itu berhasil membuat pemain-pemain Persib terpancing emosinya. Permainan Persib pun menjadi rusak dan tak terkendali.

Aksi balasan untuk Lulut dibalas dengan luar biasa oleh Ade Mulyono. Tak terima rekannya dimakan dari belakang, bek Persib itu membalas dengan menekel dengan keras kaki Lulut. Wasit Soleh Hidayat dari Jakarta pun memberi Ade kartu kuning.

Persib ternyata pandai memanfaatkan peluang. Berawal dari tendangan bebas yang dieksekusi Djadjang, Adjat Sudrajat sukses membobol gawang Arema yang dikawal Sukriyan. Gol Adjat bisa dibilang sangat fantastis. Apalagi Adjat mencetak gol saat dirinya dikawal tiga pemain belakang Arema.

Di tengah kawalan Lulut, Aji Santoso, dan Jamrawi, Adjat yang sering dijuluki Kepala Emas mampu melepaskan sundulan melengkung yang tak mampu ditangkap oleh Sukriyan. Selebrasi Adjat diekspresikan dengan acungan jari tengah ke gawang Arema.

Acungan jari tengah yang kontroversial itu pun menandakan luapan emosi Adjat kepada gaya bermain Arema sepanjang pertandingan. Terbukti, mental Arema mulai runtuh setelah seisi stadion bersorak sorai menyambut gol Adjat.

Arema yang bermain ‘keras’ sebelum terjadi gol Adjat, mulai loyo. Meski sesekali Singgih Pitono mencoba menerobos masuk ke pertahanan Persib, ia tak mampu melewati palang pintu Bandung yang dijaga duet Robby Darwis dan Adeng Hudaya.

Basri menilai Persib beruntung mencetak gol karena tidak bisa mengembangkan permainan | Koran Pikiran Rakyat, repro by Bola.com
Basri menilai Persib beruntung mencetak gol karena tidak bisa mengembangkan permainan | Koran Pikiran Rakyat, repro by Bola.com

“Alhamdulillah, saya bisa mencetak gol lewat sundulan dan bawa Persib menang melawan Arema,” ujar Adjat selepas pertandingan keras tersebut.

Persib pun menang pada laga tersebut. Kemenangan tersebut tak hanya membawa Persib ke semifinal Piala Utama, tetapi juga menandakan era baru peta persaingan sepak bola Indonesia yang tradisional.

Tinggalkan Komentar