Menggali Potensi Strategis Penjualan Tiket Musiman

Menggali Potensi Strategis Penjualan Tiket Musiman

549
0
SHARE
Aremania anti tiket

Sudah jamak terjadi dalam penyelenggaraan kompetisi sepakbola di benua Eropa, tiket pertandingan tak dijual secara eceran dengan batasan waktu yang singkat.

Para manajemen klub di beberapa kompetisi besar di Eropa (La Liga, English Premier League, Serie-A maupun Ligue 1) menyediakan penjualan tiket terusan dalam bentuk season tickets yang dapat dibeli oleh suporter sebelum kompetisi digelar.

Keberadaan tiket musiman ibarat jaminan finansial bagi klub sebelum kompetisi bergulir. Karena dengan penjualan tiket musiman sebelum kompetisi berjalan, memberikan uang hingga puluhan juta euro kepada klub yang dapat dikelola sebagai salah satu modal mengarungi musim baru dengan segudang rencana dan anggaran belanjanya.

Besarnya tiket musiman yang terjual memberikan jaminan terhadap okupansi stadion yang stabil sepanjang musim. Kemeriahan dan atmosfir stadion tetap terjaga. Klub tak perlu khawatir stadion akan kosong melompong karena penjualan tiket telah dipastikan jauh hari sebelumnya.

Sementara bagi suporter, tiket musiman mendatangkan keuntungan ekonomis(harga yang lebih murah), maupun kemudahan memperoleh tiket tanpa susah payah mencari dalam setiap pertandingan home maupun tawaran ekonomis lainnya yang diberikan hanya bagi pemegang tiket musiman(dapat berupa diskon dalam paket pembelian merchandise, bar/restoran, dan lainnya).

Harga tiket musiman klub Leicester City 2014-15. Source : leicestermercury

Tawaran diskon menjadi sesuatu yang menarik karena membuat penonton berhasil mendapatkan tiket dengan harga lebih ekonomis dibandingkan membeli eceran menjelang pertandingan. Mereka tak perlu waswas kehabisan tiket atau membelinya dengan banderol mahal melalui calo.

Keuntungan lain bagi pemegang tiket musiman adalah prioritas dalam mendapatkan jatah tiket away ke kota/stadion lain. Mereka tak disibukkan dalam aktifitas pencarian tiket pertandingan di kota tujuan, dan berebut ‘jatah’ dengan pendukung tuan rumah.

Jelang laga final Liga Champions 2003 lalu, Bayern Muenchen menerima 250.000 permohonan tiket dari pendukungnya. Jatah yang disediakan oleh UEFA tak sampai 10% dari aplikasi permohonan yang diterima manajemen klub. Dengan ‘terpaksa’ hanya pemegang tiket musiman dan anggota klub yang harus diundi untuk mendapatkan selembar tiket.

Diluar pembeli tiket musiman, calon penonton harus siap bersaing dengan ratusan ribu penonton lain dari penjuru dunia untuk mendapatkan sisa tiket yang belum terjual. Ada kalanya calon penonton masih mendapatkan harga bagus(harga tiket sesuai dengan ketentuan), namun seringkali harus menebusnya dengan merogoh kocek yang lebih dalam.

SIAPA YANG SUKSES JUALAN TIKET MUSIMAN

Premier League dan Bundesliga masih memegang rekor sebagai liga dengan rataan penonton terbanyak dalam beberapa tahun terakhir. Persentase tiket yang terjual dalam pertandingan Premier League dan Bundesliga rata-rata lebih dari 90% sepanjang musim 2012/13. Data dari Stadiumguide, lebih dari 50% pertandingan Bundesliga dan Premier League di musim itu mengalami sold out dalam penjualan tiketnya.

Dibandingkan beberapa liga lain seperti Serie A Italia, La Liga Spanyol dan English Premier League(EPL), harga tiket rata-rata klub Bundesliga adalah yang termurah (selengkapnya lihat data Guardian disini). Faktor harga memberikan andil sebagai magnet untuk menarik kesetiaan suporter dalam membeli tiket musiman.

Total di awal musim 2012/13 sebanyak 18 klub Bundesliga berhasil menjual 482.562 tiket musiman (26800 tiket/klub). Borussia Dortmund berhasil menjual seluruh tiket musiman yang disediakan kepada calon penonton sebanyak 54.000 tiket. Menempati urutan pertama diatas Schalke 04 (43.195 tiket) dan Bayern Muenchen (38.000 tiket dari kapasitas Stadion Allianz Arena sebesar 69.000 penonton).

Separuh (sembilan klub) Bundesliga lainnya menghentikan penjualan tiket musiman yang ludes terjual sebelum musim bergulir. Kejutan terbesar berasal dari Fortuna Dusseldorf. Setelah lima belas tahun tergelincir dari Bundesliga, mereka kembali dan berhasil menjual 31.000 tiket musiman. Menempatkan peringkat (penjualan tiket musiman) mereka di Esprit Arena tepat dibelakang tiga klub teratas yang berhasil menjual tiket musiman terbanyak di musim 2012/13 lalu.

Salah satu anggota direksi Fortuna Dusseldorf, Sven Muhlenbeck berkata kepada Rheinische Post “Menjual sebanyak mungkin tiket musiman yang kami miliki hanyalah sebuah sensasional, kami tidak menghitungnya untuk ini”.

Perbedaan harga tiket klub Premier League dan Bundesliga untuk musim 2012/13. Source : Dailymail

Berdasarkan data Guardian, Harga tiket musiman yang dijual Borussia Dortmund di Signal Iduna Park sebesar 303 – 823 poundsterling, Schalke 04 (Veltins Arena) 303 – 735 poundsterling, sedangkan Bayern Muenchen (Allianz Arena) berkisar antara 57 – 540 poundsterling.

Dari penjualan tiket musiman setidaknya Borussia Dortmund mampu mendapatkan minimal 16,4juta poundsterling (sekitar Rp 325,27 miliar menurut kurs 13 Desember 2014, 1 poundsterling = Rp 19.833). Dengan perhitungan yang sama maka minimum Schalke 04 mendapatkan uang dari penjualan tiket musiman sebesar 13,1 juta poundsterling (Rp 259,8 miliar).

Salah satu klub tersukses di Jerman, Bayern Muenchen hanya memberlakukan tiket musiman seharga 104 poundsterling untuk kelas terbawah, sementara kelas paling atas dipatok dengan biaya 540 poundsterling. Jauh lebih murah dibandingkan harga tiket musiman duo Londoners seperti Arsenal (985-1955 poundsterling) dan Tottenham Hotspur (730-1845 poundsterling).

Terkait hal ini, presiden Bayern Muenchen Uli Hoeness menghargai para suporternya. Dikutip dari Dailymail, ia mengatakan bisa saja Bayern Muenchen menaikkan harga lebih dari 104 poundsterling, katakanlah dengan harga 300 poundsterling untuk sebuah tiket musiman kelas terendah maka tim berjuluk Die Roten tersebut dapat memperoleh tambahan uang sebesar 2juta poundsterling. Namun mereka tidak memberlakukan kebijakan demikian karena menyadari perbedaan harga antara 104 dan 300 poundsterling terlalu besar bagi suporter.

“Kami tidak berpikir bahwa suporter layaknya sebuah sapi yang memiliki susu untuk diperas, sepakbola adalah untuk semua orang, dan hal tersebut adalah sebuah perbedaan terbesar antara kami (sepakbola di Jerman) dan Inggris”, tambahnya.

Selain memberikan pelayanan penjualan tiket musiman kepada suporter secara ‘umum’, Bayern juga menyediakan tiket musiman untuk penyandang difabel dan disabilitas. Mereka tetap dapat menikmati semua pertandingan Bayern Muenchen di liga hanya dengan membayar 67 poundsterling selama semusim. Tersedia tempat khusus bagi mereka didalam stadion yang memenuhi standar UEFA.

Selain di Jerman, penjualan tiket musiman juga berlaku di berbagai liga sepakbola lainnya di Eropa. Liga Italia yang telah mengalami penurunan popularitas dalam beberapa musim terakhir masih terdapat beberapa klub yang meraih kenaikan penjualan tiket musiman.

Juara Serie A 2012-13 (Juventus) mengalami kenaikan penjualan tiket musiman dari 27.442 lembar menjadi 28.000 lembar tiket. Besarnya angka penjualan tiket tersebut memastikan klub berjuluk La Vecchia Signora tersebut dalam setiap laga tandangnya minimal terdapat 67,9% tiket yang terjual dari seluruh kapasitas stadion yang berjumlah 41.254 kursi (diluar penjualan tiket secara ‘eceran’, dan lain sebagainya).

Dibelakang Juventus terdapat Fiorentina yang berhasil menjual 19.520 tiket musiman(naik 7000 tiket dibandingkan musim sebelumnya) hingga bulan Agustus 2013 lalu. Menyusul dibelakangnya terdapat pula Inter Milan(19.200 tiket), AS Roma 18.030 tiket, Lazio 15.010 tiket, Hellas Verona 14.936.

AC Milan sebagai salah satu tim dengan basis suporter yang besar di Italia mengalami penurunan dalam hal penjualan tiket. Pada tahun 2012 lalu, penjualan tiket musiman mengalami penurunan hingga angka 19.283 lembar. Dibawah rezim Berlusconi angka penjualan tiket musiman ini adalah yang terendah. Musim lalu (2013/14) diperkirakan penjualan tiket musiman tak menampilkan titik cerah, setidaknya dengan mencapai penjualan diatas 25.000 lembar tiket.

Disinyalir kekecewaan Milanisti(suporter AC Milan) terhadap performa tim dan penjualan pemain bintangnya membuat penjualan tiket musiman AC Milan mengalami penurunan beberapa tahun terakhir ini. Sebelumnya pada musim 2009/10 (pasca penjualan Kaka ke Real Madrid) jumlah tiket musiman yang terjual hanya sebesar 27.865 lembar tiket, dan musim berikutnya (2010/11) ketika AC Milan menjuarai liga penjualan tiket musiman hanya naik sedikit ke angka 28.754 lembar.

Di masa jayanya, klub berjuluk Rossoneri tersebut adalah salah satu klub dengan penjualan tiket musiman terbesar di Eropa. Contohnya pada musim 1992/93 mereka berhasil menjual tiket musiman sebesar 71.895 lembar, dan musim 1990/91 dengan 69.322 tiket. Jumlah penjualan tiket musiman tersebut bahkan melebihi kapasitas beberapa stadion besar Eropa seperti Allianz Arena, dan Emirates Stadium.

Penjualan tiket musiman AC Milan di era Silvio Berlusconi. Source Tuttosport

INDONESIA BELUM MELIRIK PASAR TIKET MUSIMAN

Di Indonesia seringkali kita mendengar keluhan suporter mengenai mahalnya harga tiket menonton pertandingan sepakbola. Umumnya hal ini terjadi pada pertandingan bigmatch atau panpel klub tertentu yang memiliki jumlah penonton tinggi.

Untuk mendapatkan tiket termurah tersebut tak jarang para suporter harus mengeluarkan uang lebih dari harga yang ditentukan. Keadaan ini disebabkan oleh buruknya mekanisme distribusi tiket yang tidak langsung tersalurkan kepada calon penonton.

Peredaran tiket banyak tersalurkan kepada oleh ‘pihak ketiga’. Penonton harus mengeluarkan ongkos lebih dari seharusnya untuk membelinya. Terdapat selisih keuntungan yang harus ditebus oleh penonton yang membeli tiket tersebut.

Selain masalah harga, waktu pembelian tiket juga terbatas. Lazimnya tiket diedarkan pada saat hari pertandingan. Penonton hanya memiliki waktu beberapa jam untuk bertransaksi sebelum menggunakannya sebagai tanda masuk kedalam stadion.

Memang ada klub-klub tertentu memberikan kebijakan berupa pemesanan tiket beberapa hari menjelang pertandingan, namun jumlahnya terbatas.

Untuk mengurangi kerugian yang ditimbulkan oleh penonton, perlu dirumuskan kebijakan khusus yang memberi kemudahan penonton dalam membeli tiket. Salah satunya adalah pemberlakuan tiket musiman.

Wacana pengadaan tiket musiman di beberapa klub telah bergulir sejak lama. Para suporter tak ketinggalan dalam memberikan opini dan dukungan untuk pengadaan kebijakan ini oleh klubnya.

Pihak Manajemen Arema Indonesia pada musim ISL 2010/11 lalu pernah mewacanakan penjualan tiket musiman. Kepada crew Aremasenayan.com, Abriadi Muhara mengatakan bahwa Arema Indonesia berencana memberlakukan tiket terusan selama satu musim dan akan di mulai pada penonton VIP seharga Rp 1.700.000 dengan perincian 17 pertandingan kali Rp 100 ribu.

Gayung bersambut, rekan-rekan komunitas Arema Senayan segera mengumpulkan anggotanya untuk membeli tiket musiman. Hasilnya terkumpul 1 kloter pertama berjumlah 7 orang dan membeli tiket musiman untuk sisa 13 pertandingan Indonesia Super League 2010/11.

Sayang selepas musim tersebut tidak terdengar lagi gaung penjualan tiket musiman oleh manajemen Arema Indonesia. Penjualan tiket pertandingan kandang kembali ke cara ‘konvensional’ dengan bentuk fisik yang mengalami perubahan dari lembaran kertas hasil digital printing hingga gelang tanpa barcode elektronik.

KEUNTUNGAN SISTEMATIS TIKET MUSIMAN

Kebijakan untuk ‘menunda’ pemberlakuan tiket musiman bagi sebagian besar klub tentu sangat disayangkan. Padahal penjualan tiket musiman tersebut adalah salah satu sumber pemasukan berharga bagi klub.

Pada awal musim klub membutuhkan dana segar untuk membiayai persiapan klubnya. Sumber dana potensial yang dapat diperoleh klub beraneka ragam. Selain ‘mengharapkan’ dilirik para sponsor, mereka dapat menjual tiket pertandingan sebanyak mungkin jauh sebelum laga digelar.

Hasil penjualan tiket musiman akan mendatangkan uang tunai dalam jumlah besar. Uang tunai tersebut dapat digunakan sebagai modal untuk menggerakkan roda ekonomi klub seperti belanja modal maupun penyelesaian kewajiban yang tertunda.

Dengan menjual tiket secara musiman, artinya ada slot kursi yang terjamin (telah terbeli oleh penonton). Klub tak perlu mengeluarkan ongkos untuk memproduksi dan mendistribusikan tiket sebagaimana sistem yang lama.

Selain menekan angka kebocoran tiket hingga ke titik terendah, menjual tiket sebanyak-banyaknya melalui season tickets merupakan salah satu cara untuk menghemat pengeluaran ongkos produksi maupun mereduksi kerugian dari tiket yang tak terjual.

Penjualan tiket musiman juga dapat menarik minat para sponsor untuk bermitra dengan klub. Skema promosi oleh para sponsor dapat disertakan kedalam penjualan season tickets tersebut. Klub dapat menjalin kerjasama dengan mitra/sponsor untuk membantu penjualan season tickets.

Bagi penonton, season tickets memberikan keuntungan strategis. Selain memberikan tarif promo yang lebih murah, para suporter tak perlu disibukkan lagi dengan problem distribusi tiket yang menghantui penjualan tiket pertandingan selama ini.

Program season tickets tersebut sangat memudahkan para suporter yang memiliki intensitas cukup tinggi. Dengan menjadi pemegang tiket musiman, dapat menghemat waktu para suporter karena tidak perlu lagi antre di loket dan terlibat perburuan tiket ke para calo.

Analisa SWOT Kebijakan Tiket Musiman Bagi Klub Sepakbola (Arema) di Indonesia :

Strengths(Kekuatan) :

  1. Arema adalah salah satu brand market terbaik di wilayah Malang Raya. Arema juga menjadi sumber hiburan yang paling banyak dinikmati oleh warga Malang Raya.
  2. Jumlah penonton pertandingan Arema merupakan salah satu yang tertinggi dibandingkan dengan seluruh klub Indonesia Super League (ISL).
  3. Market(Pasar) yang jelas. Ada ratusan ribu Aremania baik yang aktif maupun sekedar simpatisan yang siap menjadi target pemasaran klub. Karena pasar sudah ada, maka Arema tidaklah memulai berjuang dengan kondisi dari nol.
  4. Arema masih bermukim di Malang sebagai home base-nya. Hal ini menguntungkan klub jika menilik sekian ratus ribu Aremania yang bertempat tinggal di Malang Raya.
  5. Arema memiliki web resmi sebagai bahan publikasi klub. Arema juga memiliki akun social media seperti halnya akun twitter sebagai langkah mendekatkan klub kepada suporternya.
  6. Arema memiliki homebase dengan kapasitas yang besar. Stadion Kanjuruhan Malang dapat menampung sekitar 28.000 – 30.000 penonton untuk duduk dan sekitar 10.000 penonton lainnya yang berdiri.
  7. Arema merupakan tim yang berprestasi di lingkungan sepakbola Indonesia. Setidaknya dua gelar liga (Galatama dan ISL 2009/2010), dua gelar Copa Indonesia (2005 dan 2006), serta satu gelar juara Divisi Satu tahun 2004 menjadi koleksi lemari trophy Arema.

Weaknesses(Kelemahan) :

  1. Dalam beberapa musim terakhir, okupansi penonton pertandingan kandang Arema tidak stabil.
  2. Kurangnya pemanfaatan teknologi yang membantu dalam mencegah kebocoran sumber pendapatan klub, seperti penggunaan barcode dalam tiket pertandingan, pintu automatis, kamera CCTV di setiap pintu masuk stadion, dsb.
  3. Stadion Kanjuruhan sebagai kandang Arema kurang memiliki dukungan prasarana untuk menunjang penjualan season tickets di musim mendatang.
  4. Distribusi tiket pertandingan Arema masih kurang baik, akses pembelian tiket masih terbatas.
  5. Animo penonton di Stadion Kanjuruhan seringkali membeludak. Akibatnya sebagian penonton tak mendapat tempat duduk di tribun meski sudah memiliki tiket.
  6. Kurangnya pelayanan kepada penonton di setiap pertandingan kandang Arema dengan memberikan added value berupa matchday book, souvenir, dan lainnya.
  7. Tidak ada survey dan database penggemar, suporter dan membership yang up to date berkaitan dengan kondisi sosial, kemampuan ekonomi, dan lain sebagainya.
  8. Diperlukan kesiapan fisik prasarana, Sumber Daya Manusia, dan sistem untuk mendukung terlaksananya program tiket musiman dalam pertandingan kandang Arema.

Opportunities(Peluang)

  1. Pada Indonesia Super League (ISL) 2015 mendatang akan ada setidaknya 623.200 – 684.000 tiket yang dapat dijual, dengan asumsi tiap pertandingan panpel Arema melepas 32.800 – 36.000 tiket ke penonton dengan berbagai kelas.
  2. Jumlah penonton pertandingan kandang Arema merupakan salah satu yang tertinggi diantara klub peserta Indonesia Super League.
  3. Ikatan emosional yang tumbuh dari kecintaan suporter(Aremania) kepada klubnya(Arema) sangat tinggi
  4. Pasar yang masih dapat terus bertumbuh. Jumlah Aremania setiap tahun dapat mengalami kenaikan seiring dengan prestasi yang diraih oleh Arema serta kemampuan manajemen klub dalam mengikat suporter secara emosional.

Threats(Ancaman)

  1. Kondisi iklim sepakbola Indonesia belum berjalan normal. Isu mafia dan fairplay masih menggerogoti kompetisi sepakbola profesional dibawah PSSI.
  2. Masalah kepastian jadwal kompetisi masih menjadi tanda tanya hingga saat ini. Terutama kepastian dan jaminan penyelenggaraan pertandingan Indonesia Super League 2015 mendatang.
  3. Kebocoran sumber pendapatan klub dari hasil tiket pertandingan masih ada dan perlu ditanggulangi.
  4. Isu dualisme klub dan kepastian hukum yang belum terselesaikan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY