Beranda Fokus Meskipun Layak, Bhayangkara FC Juara Di Tengah Kesunyian dan Cibiran

Meskipun Layak, Bhayangkara FC Juara Di Tengah Kesunyian dan Cibiran

0
Bhayangkara FC juara dengan mendapatkan cibiran. Seolah menafikan perjuangan mereka selama semusim.
Bhayangkara FC juara dengan mendapatkan cibiran. Seolah menafikan perjuangan mereka selama semusim.

Sunyi dan cibiran, begitulah perayaan yang dilakukan oleh Bhayangkara FC juara usai menumbangkan Madura United dengan skor 2-1 di pekan ke-33.

Sunyi karena laga yang dilangsungkan di Stadion Gelora Bangkalan ini tidak dihadiri oleh suporter karena tuan rumah mendapatkan sanksi larangan tanpa penonton akibat kerusuhan yang terjadi melawan Pusamania Borneo FC. Tidak ada teriakan dan sejenisnya selain dari pemain yang membuat perayaan itu terasa hambar.

Cibiran, terjadi karena sehari sebelum pertandingan. Bhayangkara FC mendapatkan tambahan dua poin sebab protes mereka atas akumulasi Sissoko membuahkan hasil. Seperti yang ditulis oleh banyak media, Bhayangkara FC melaporkan Mitra Kukar ke komisi disiplin karena lawannya tersebut memainkan Sissoko yang masih menjalani hukuman. Laporan diterima dan dua poin yang menjadi tambahan ini membuat persaingan melawan Bali United di pemuncak klasemen menjadi lebar.

Tidak heran, publik bereaksi negatif atas keputusan ini. Sebuah reaksi yang seolah menafikan usaha Bhayangkara FC pada pertandingan demi pertandingan di Liga 1 musim ini.

Tiga gol Spasojevic menyelesaikan perjuangan Bhayangkara dengan kemenangan 3-1.
Tiga gol Spasojevic menyelesaikan perjuangan Bhayangkara dengan kemenangan 3-1.

“Pembicaraan tentang timing sanksi tersebut sehingga menguntungkan posisi Bhayangkara melebihi porsi pembahasan peluang juara Liga 1 pada pekan-pekan akhir. Dua hari sebelum Bhayangkara bertanding, Bali United merebut posisi puncak klasemen berkat kemenangan dramatis 1-0 di markas PSM Makassar. Posisi itu kemudian direbut lagi oleh Bhayangkara berkat sanksi Mitra,” ungkap Agung Harsya, Chief Editor Goal Indonesia.

“Spekulasi merebak. Tidak hanya dari kalangan fans, tetapi juga para pengurus sepakbola. Mereka mencibir posisi Bhayangkara, menganggapnya sebagai “anak emas”, dan mempertanyakan kapabilitas The Guardians sebagai juara. Liga 1 menjadi liga lelucon, liga sirkus, dan banyak lagi.”

Layak Bhayangkara FC Juara

Melihat perjalanan di awal musim, tidak banyak yang memperhatikan skuat Bhayangkara FC. Padahal mereka punya modal bagus karena memadukan skuat jebolan timnas U-19 seperti Evan Dimas, I Putu Gede Juniantara, Ilham Udin dengan pemain senior seperti Jajang Mulyana, Indra Kahfi dan lain sebagainya. Melihat lebih dalam, sebenarnya kekuatan itu hanya mengalami sedikit perubahan dibandingkan di ISC tahun sebelumnya. Namun sekali lagi, tidak banyak yang memperhatikan skuat Bhayangkara.

Di awal musim, selain memindahkan markas dari Stadion Gelora Delta ke Stadion Patriot Candhabaga, manajemen Bhayangkara juga mendapuk Simon McMenemy sebagai pelatih. Di awal musim, dirinya terang-terangan terinspirasi dengan kiprah Leicester City yang baru saja menjadi juara Liga Inggris.

“Kami bukan termasuk tim besar, tapi kami berkompetisi melawan tim-tim yang pernah merasakan segalanya. Jelas, media sosial berpengaruh terhadap popularitas suatu tim. Saya merasa tak banyak orang, termasuk sponsor liga, kalau saya boleh bersikap politis, yang akan senang jika kami juara,” ungkap Simon.

Sayang inspirasi itu tidak berjalan mulus. karena sebelum kompetisi dimulai, Bhayangkara gagal di dua ajang yaitu Bhayangkara Cup dan Piala Presiden. Dua turnamen yang akhirnya dimenangkan oleh Arema.

Simon layak mendapatkan apa yang seharusnya layak dia dapatkan.
BHAYANGKARA FC JUARA! Simon layak mendapatkan apa yang seharusnya layak dia dapatkan.

Di awal musim juga begitu, mereka kalah melawan Arema di pekan kedua dan PS TNI di pekan ketiga. Siklus yang tidak stagnan ini membuat mereka mengalami sembilan kali kekalahan di paruh musim, angka yang sangat banyak untuk seorang kandidat juara. Namun, mereka tetap berada di papan atas atau tepatnya berada di posisi keempat di paruh musim akibat 10 kali kemenangan yang menghasilkan 30 poin.

Di putaran kedua, nasib baik seolah berpihak kepada The Guardian, mereka mendapatkan kemenangan demi kemenangan yang membuat persaingan menjadi juara sangat terbuka.

Ujaran timnya selayaknya Leicester kembali dia ulang setelah menang 2-1 melawan Persipura.

“Saya tidak ingin mengatakan bahwa kami Leicester, tapi kami serupa. Setahun setelahnya Leicester tidak bagus tidak ada kejutan lagi,” ungkapnya.

“Tim-tim lebih tertarik untuk menghentikan kami daripada mencoba mengalahkan kami. Ini adalah pujian. Tahun depan akan berbeda dan kami tidak dapat bersaing dalam bursa transfer dengan klub yang lebih besar.”

Di akhir klasemen, mereka memiliki poin yang sama dengan Bali United. Namun, Bhayangkara memiliki keunggulan head to head sehingga ditabishkan menjadi juara. Keunggulan itu pula yang mengganggap Bhayangkara lebih layak ketimbang Bali.

“Bali selalu dikatakan juara sebenarnya padahal mereka kalah melawan kami. Di kandang Bali kami bahkan menang 3-1.  Sedangkan di kandang kami, stadion patriot kami menang, 3-2. Lalu di mana unggulnya Bali dari kami musim ini,” ujar Sekretaris Perusahaan, Rahmad Sumanjaya.

Simak juga omongan Evan Dimas berikut yang menyatakan jika Bhayangkara sudah bekerja keras. Mereka menghempaskan Bali United kandang dan tandang, mengalahkan Persib, Persipura, Arema, dan lain sebagainya. Gelar yang cukup wajar didapatkan atas kerja keras itu.

“Saya tidak peduli kata orang, kami juara tidak karena satu pertandingan, kami menjalani 34 pertandingan, semua laga kami bekerja keras dan kami bersyukur atas gelar juara ini,” ungkap Evan Dimas.

 

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.