Beranda Fokus Panggung Vokal Utama Yang Dirindukan Joko Susilo

Panggung Vokal Utama Yang Dirindukan Joko Susilo

0
Joko Susilo masih merindukan panggung utama yang dipenuhi teriakan dukungan.
Joko Susilo masih merindukan panggung utama yang dipenuhi teriakan dukungan.

Jika susunan tim pelatih Arema ini adalah panggung musik, maka kehadiran Joko Susilo bisa dikatakan sebagai backing vokal terhebat yang dimiliki. Namanya backing, tentu saja tidak sama dengan vokalis utama.

Joko sebenarnya memiliki ilmu yang bisa dibilang mumpuni sebagai vokalis utama.

Bagaimana tidak, usai menjadi vokalis di panggung akademi Arema di tahun 2006, Joko langsung diangkat sebagai backing vokal pada musim 2007 untuk mendampingi vokalis utama yaitu Miroslav Janu. Dia kemudian juga hadir saat skuat Arema dinyanyikan oleh Robert Rene Albert, Suharno, Rahmad Darmawan, Milo Seslija, hingga Aji Santoso. Pendek kata, Joko memiliki bekal ilmu yang baik sebagai penyanyi.

Setelah tampil baik dan juara di musim 1992/1993, Arema harus puas di posisi keenam kompetisi Galatama. Foto Joko Susilo saat selebrasi di tahun sebelumnya.
Joko adalah salah satu pelatih yang pernah membawa Arema juara

Selain ilmu pengalaman sebagai backing vokal pelatih top, Joko juga bersekolah untuk meningkatkan lisensinya. Peningkatan ini digunakan sebagai salah satu syarat yang diharuskan oleh PSSI agar nantinya seluruh penyanyi bisa terlisensi dengan baik.

Walaupun begitu, ternyata ilmu vokalis Joko memang paling cocok digunakan sebagai backing vokal, bukan sebagai pemimpin di panggung utama.

Kesempatan untuk melepaskan suara maksimal hadir di ISL 2011/12. Pada saat itu Arema baru saja memecat Wolfgang Pikal setelah sang vokalis gagal menampilkan suara terbaik di Liga. Puncaknya dia keluar manakala Arema bermain imbang 2-2 melawan Persiram. Sebagai ganti, Manajemen pun memilih Joko sebagai vokalis utama walaupun sifatnya sementara.

Namun, debutnya berjalan buruk. Melawan Sriwijaya FC yang diakhir liga menjadi juara, Arema kalah dengan skor telak 5-1. Salah satu skor yang kelak masuk sebagai salah satu rekor kekalahan Arema sepanjang masa.

Panggung berikutnya juga tidak berjalan mulus karena musik yang dimainkan oleh Arema masih kalah dengan skor 2-1 melawan Persidafon, hingga kemudian seri melawan Deltras 3-3. Kualitas vokal Joko baru mumpuni manakala Arema mengalahkan PSMS dengan skor 2-1.

Total Arema mempekerjakan Joko sebagai vokalis utama pada musim 2012 dengan 19 panggung. Hasilnya Arema berhasil meraih lima kali kemenangan, empat kali seri, dan 10 laga berakhir dengan kekalahan. Buruk, tapi masih diampuni karena sebagian besar pemain yang diibaratkan sebagai komposer musik bukan pilihannya.

Posisi Joko sebagai vokalis kemudian digantikan oleh Suharno hingga akhir musim. Musim berikutnya Arema sempat menggunakan jasa Rahmad Darmawan, Suharno lagi, Milo Seslija, dan Aji Santoso sebagai vokalis utama. Semuanya berjalan cukup mulus karena kualitas backing vokal milik Arema sangat mumpuni.

“Dia adalah asisten (backing vokal) yang bagus karena memiliki banyak sekali strategi yang diperlukan di lapangan,” terang Thiery Gathuessi memberikan pujian.

Kesempatan kedua hadir manakala Aji Santoso di musim 2017 hanya diberi kesempatan selama setengah musim setelah dianggap gagal menampilkan suara terbaik. Joko pun yang sudah punya lisensi A ditunjuk sebagai vokalis, bukan lagi sebagai carateker seperti 2012.

Panggung pertama tidak berjalan mulus karena Arema dihempaskan Bhayangkara FC dan seri melawan Persib Bandung, namun Joko mampu membuat Arema menang 3-0 melawan Persiba dan Barito Putera pada dua laga sesudahnya.

Di akhir musim, Joko memimpin Arema di 17 panggung, hasilnya hanya enam kemenangan yang didapatkan oleh Singo Edan, sisanya Arema kalah enam kali dan seri lima kali. Masih buruk tetapi setidaknya lebih bagus dibandingkan musim 2012.

Di awal musim, Joko mendapatkan keleluasaan berburu pemain. Menajemen melalui Ruddy Widodo memberikan kesempatan kepada Joko untuk memilih pemain yang mau bergabung dengan timnya.

Musim 2018 pun juga diawali dengan diskusi terbuka dimana awak media mempertanyakan kenapa Arema membuang Adam Alis dan Esteban Vizcarra. Jawaban Joko ketika itu sangat jelas.

“Adam memang memilih Sriwijaya FC, sementara Vizcarra tidak masuk ke dalam skema saya,” kata Joko.

Peruntungan Arema di tangan Joko awalnya berjalan mulus di sejumlah laga ujicoba. Tetapi, kelemahan Arema mulai terlihat di Piala Presiden dan Gubernur Kaltim terutama di lini belakang dan kiper.

Sayang, sepertinya kelemahan itu terlambat diantisipasi karena sehingga Arema babak belur di panggung laga resmi dengan Joko sebagai vokalis yang posisinya mulai digoyang pendukungnya sendiri.

Selasa, (14/5), sang vokalis harus merelakan panggung utama kepada Milan Petrovic. Sang vokalis harus kembali duduk sebagai backing vokal setelah menjalani delapan panggung dengan menuai satu kemenangan saja. Total selama 44 kali memimpin Arema di liga sejak 2012, Joko hanya bisa menang selama 12 kali, sementara 20 kali sisanya adalah dengan kekalahan.

Tentang Joko Susilo
Tentang Joko Susilo

Memang tidak semua panggung membuat vokalis Joko jelek, di ajang Cup (Piala) dia pernah memimpin skuat Arema menjadi juara Piala Menpora 2013, dia juga sanggup membawa Arema hingga babak semi-final Piala Presiden 2015 dan Piala Jenderal Sudirman. Tetapi tentu intensitas tekanan Cup dengan Liga termasuk pengaturannya juga berbeda sehingga terkadang tidak bisa dibandingkan.

Pada sesi jumpa pers, Joko mengakui anggapan orang jika panggung dia memang ada di backing vokal. Semuanya tidak masalah dan setiap orang berhak memberikan penilaian.

“Saya tidak akan berusaha mengubah image yang sudah kadung melekat seperti itu, saya ya begini. Biarlah orang memberikan penilaian kepada saya apapun itu,” ungkap Joko dalam sesi jumpa pers.

Tinggalkan Komentar