Beranda Fokus Mengenang Gelandang Pekerja Arema, Setyo Budiarto

Mengenang Gelandang Pekerja Arema, Setyo Budiarto

0
Setyo Budiarto di kompetisi Liga Indonesia 2002
Setyo Budiarto di kompetisi Liga Indonesia 2002

Setyo Budiarto, Salah satu gelandang jangkar terbaik yang pernah dimiliki Arema Malang. Pemain yang selalu menggunakan nomor punggung 17 itu selalu menjadi andalan Arema dari musim 1999/2000 hingga 2003.

Salah satu staf pengajar SSB AMS di Kepanjen ini mengawali karirnya profesionalnya di Petrogres Gresik pada tahun 1989 setelah setahun termasuk anggota skuat Persema Junior. Setahun di Petrogres pemain bertinggi badan 168 dan berat 60 kg hijrah ke klub sekota Petrokimia Putra yang bermain di kompetisi Galatama.

Bermain di Petrokimia selama 5 tahun membuat Setyo meningkat permainannya. Apalagi dukungan rekan-rekan se-timnya yang sudah matang seperti dukungan gelandang idolanya Zulkarnaen Lubis.

Puncaknya ketika ia membawa Petrokimia Putra lolos ke final liga Indonesia 1994/1995 menghadapi Persib Bandung. Sayang Setyo gagal mewujudkan ambisinya untuk mengangkat piala presiden karena secara kontroversial Petrokimia kalah dari Persib.

Musim kompetisi berikutnya Setyo memperkuat Persema Malang hingga musim kompetisi Liga Indonesia 1998/1999. Setahun bersama Persema Setyo langsung ke Arema di Liga Indonesia 1999/2000, Setyo Budiarto bergabung di Arema bersamaan dengan masuknya Charis Yulianto sebagai pemain muda yang sebelumnya bergabung bersama Timnas PSSI Baretti, debut pertama di Arema ia berhasil membawa Arema lolos 8 besar yang berlangsung di Senayan, hal yang sama ia ulangi pada musim kompetisi berikutnya dengan membawa Arema lolos 8 besar yang berlangsung di Makassar.

Diantara kiprah Setyo Budiarto tersebut salah satu prestasi fenomenalnya adalah ia menjadi tumpuan beberapa pelatih Arema untuk menguasai sektor lini tengah. Praktis mulai dari era kepelatihan Suharno, Winarto, M. Basri, Daniel Rukito hingga Gusnul Yakin Setyo Budiarto bahu membahu bersama pemain tengah Arema lainnya seperti Kuncoro, I Putu Gede, Nanang Supriadi, dan bantuan pemain sayap seperti Miftachul Huda, Wawan Widiantoro hingga Khusnul Yuli.

“Pak Yo (panggilan akrab Setyo) adalah tipe gelandang pekerja, perannya di lini tengah Arema sangat besar “, kata pelatih Arema Daniel Roekito. Strategi 3-6-1 dengan mengandalkan 2 gelandang bertahan memang membuat peran Setyo sangat besar di lini tengah Arema, ia sangat ngotot bila bermain, tipe permainannya yang tak kenal kompromi memang membuat lini tengah lawan ‘keder’. Walaupun begitu Setyo masih dianggap punya kelemahan, terutama dari segi fisik, jarang sekali ia bermain penuh selama 90 menit

“Saya masih belum habis, Saya akan bukti bahwa saya ini masih layak bermain untuk Arema,” kata Setyo atas kritikan tersebut. Walaupun mengakui ia telah memasuki masa-masa senja dalam karirnya Setyo menolak dianggap menurun.

Setyo Budiarto saat dalam kondisi sakit
Setyo Budiarto saat dalam kondisi sakit

Karir Setyo Budiarto bersama Arema berakhir pada akhir tahun 2003 ketika Setyo bersama Joko Susilo memutuskan pensiun. Selepas pensiun Setyo Budiarto tidak serta merta meninggalkan Arema. Bersama Joko Susilo dan eks kiper Arema, Yanuar “Begal” Hermansyah dan komando dari manajer Arema U-18 Ekoyono Hartono turut memperoleh gelar Piala Suratin 2007 setelah menyelesaikan pertandingan final di Stadion Bea Cukai Rawamangun melawan Persimuba dari Musi Banyuasin.

Pada 25 April 2009, setelah setahun bergelut dengan tumor ganas yang menjalar ke Paru-paru dan organ vital lain. Setyo akhirnya meninggal dunia di usia 39 tahun. Ketika itu dirinya meninggalkan seorang istri dan 2 orang anak.

Profil Setyo Budiarto

Nama Lengkap Setyo Budiarto
Nama Panggilan Pak Yo
Kebangsaan Indonesia
Tanggal Lahir 7 Januari 1972
Tempat Lahir Malang
Tinggi Badan 168
Berat Badan 60
Posisi Gelandang Bertahan
Karier Klub
Sebelum Arema Persema
2008-2002 Arema
Setelah Arema Pensiun
Karier Timnas

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.