Beranda Soal Ngalaman PS Ardjoena, Potret Kemesraan Sepakbola Malang Dan Surabaya

PS Ardjoena, Potret Kemesraan Sepakbola Malang Dan Surabaya

0

Sejarah pernah mencatat bahwa hubungan Malang-Surabaya dalam khasanah sepak bola perah mengalami masa-masa kemesraan. Ardjoena (PS Ardjoena) adalah salah satu klub sepak bola dari Malang yang memiliki hubungan mesra dengan klub yang ada di Surabaya.

Tempo dulu, sepak bola menjadi salah satu permainan yang digunakan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk semakin mempertegas politik segregrasi rasial. Perkumpulan-perkumpulan klub sepak bola didirikan berdasarkan ras.

Orang-orang berkulit putih memfokuskan kegiatan sepak bolanya di bawah naunagn Neteherland Indie Voetbal Bond (NIVB), Sedangkan orang-orang Tionghoa berafiliasi pada Hwa Nan Voetbal Bond (HNVB) dan golongan Bumiputra memakai Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia (PSSI) sebagai media perjuangannya. Namun, pada perjalanannya di tahun 1936 NIVB berubah nama menjadi Netherland Indie Voetbal Unie (NIVU) yang ketuai oleh Mastenrbroek.

Dukut Iman Widodo dalam karyanya yang berjudul Malang Tempoe Doeloe memaparkan bahwa perkumpulan-perkumpulan sepak bola mulai menjamur di Malang pada kurun tahun 1920-an. Pada waktu itu dominasi orang Eropa di persepakbolaan Malang sangat dominan.

Beberapa perkumpulan sepak bola yang ada di pada saat itu antara lain yaitu, Vitesee, Sparta, Stormvoger, Corientians sebagai wakil Eropa, Hwa Tjiao Tjing Nien Hwee (HTTNH) milik warga Tionghoa di Malang, Al- Badhar kebanggaan warga Arab dan Malang Vooruit (Malang Maju) – Pada masa ini pengunaan nama Belanda bagi perkumpulan Bumiputra adalah hal yang wajar, hal ini baru berubah pada kurun waktu 1930-an akibat dari semangat kebangsaan pada sepak bola setelah berdirinya PSSI. Ardjoena mewakili perkumpulan Bumiputra. pada perkembanganya terdapat perkumpulan sepak bola yang berorientasi organisasi keagamaan yaitu Persatuan sepak bola Hisbul Wathan. (Asia Raya, 5 Juli 1942)

Diantara sekian banyak perkumpulan sepak bola yang terdapat di Malang salah satu nama yang menonjol dan berpresatasi adalah perkumpulan Ardjoena. Kemungkinan perkumpulan ini didirikan oleh para pemuda Bumiputra yang tinggal di kawasan Ardjoenastraat.

Layaknya perkumpulan sepak bola Bumiputra lainya Ardjoena tidak didukung dengan kemampuan finansial yang memadai, namun mereka mempunyai semangat yang besar untuk menunjukan eksistensi mereka. Yang paling utama adalah untuk menjadi identitas perlawan atas kejumawaan perkumpulan sepak bola orang Eropa. Hal tersebut juga banyak dijumpai di wilayah lainya, seperti yang terjadi di Surabaya. Soerabaja Indonesia Voetbal Bond (SIVB) yang pada tahun 1935 menjadi Persebaya menjadi simbol perlawan terhadap Soerabajasche Voetbal Bond (SVB) yang miliki orang Eropa.

Oleh karena terkenal ketangguhanya Ardjoena pada tahun 1942 diundang oleh Gementee Surabaya untuk menjalai pertandingan yang hasilnya disumbangkan untuk pegawai pensiunan Gementee Surabaya. Pada pertandingan itu Ardjoena harus berhadapan dengan salah satu klub tenar di Surabaya yaitu Tionghoa Surabaya serta kesebelasan pegawai Gementee Surabaya. Tionghoa Surabaya adalah salah satu perkumpulan sepak bola Tionghoa terbaik pada masanya. Tercatat sejak tahun 1916 hingga 1936 Tionghoa Surabaya sukses sepuluh kali menjuarai kompetisi sepak bola Tionghoa di Jawa.

Pada pertandingan pertama Ardjoena harus menghadapi tantangan dari Tionghoa Surabaya, pertandingan yang dihelat pada sore hari tanggal 1 agustus ini berlangsung di Stadion Tambaksari. Pertandingan berjalan lambat hingga babak pertama berakhir keduanya belum berhasil mencetak gol.

Di babak selanjutnya pertandingan berlangsung lebih menarik, hingga akhir babak kedua masing berhasil menciptakan 1 gol, hasil sama kuat 1-1. Kemudian pertandingan dilanjutkan dengan perpanjangan waktu 2 x 7 menit, pada masa perpanjangan waktu masing-masing berhasil menambah 1 gol. karena setelah perpanjangan waktu pertandingan masih imbang 2-2, maka untuk menentukan pemenang ditentukan dengan tendangan bola 12 langkah (penalti) masing-masing lima tendangan.

Akhirnya Djoeri dan kawan-kawan harus mengakui keunggulan Tionghoa Surabaya dengan hasil 4-3. Sementara itu dipertandingan kedua yang dihelat sehari kemudian mempertemukan Ardjoena dengan para pegawai Gementee Surabaya yang diperkuat pula oleh Dr. Nawir. Karena stamina pemain Ardjoena sudah terkuras pada pertandingan pertama, maka Ardjoena menyerah dengan hasil kekelahan 5-1. Pada pertandingan ini berhasil dikumpulkan dana sebanyak 601 Æ’ dan hasilnya akan disumbangkan untuk pensiunan pegawai Gementee Surabaya (Soeara Asia, 5 Agustus 1942).

Hubungan mesra antara Ardjoena dengan perkumpulan sepak bola dari Surabaya berlanjut ketika pada bulan September 1942 datang HBS Surabaya datang ke Malang dalam rangka pertadingan untuk amal.

Pertandingan akan dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada tanggal 5 dan 6. Pada hari pertama HBS akan menghadapi kesebelasan Tionghoa, sedangkan di hari kedua Ardjoena akan menantang keperkasaan HBS. Hasil penjualan tiket pertandingan ini seluruhnya akan disumbangkan untuk membantu para orang miskin yang ada di Malang (Pewarta Perniagaan, 3 September 1942).

Nampaknya Ardjoena sangat gemar melakukan pertandingan yang hasilnya digunakan untuk keperluan sosial, selain dua pertandingan diatas Ardjoena juga melakukan pertandingan persahabatan yang hasilnya ditujukan pada para korban banjir. Pertandingan tersebut rencananya akan dilangsungkan pada tanggal 26-27 Desember 1942 serta 2-3 Januari 1943, sedangkan yang akan menjadi lawan bertanding belum ditentukan (Pewarta Perniagaan, 23 Desember 1943).

Selain itu lewat Ardjoena, hubungan mesra sepak bola Malang-Surabaya juga dapat disaksikan pada saat perayaan dibukanya Kantor Denki Kosya di Malang. Untuk memeriahkan suasana penitia tidak segan mengundang kesebelasan sepak bola dari Surabaya untuk turut bertanding di Malang.

Pada hari pertama tanggal 16 Januari 1943 tim perwakilan Denki Kosya Surabaya bertanding melawan perwakilan Denki Kosya Malang. Di hari kedua, Persema Malang menjadi lawan yang harus dihadapi oleh tim Denki Kosya Surabaya. Seluruh hasil pertandingan pada pertandingan ini akan disumbangkan untuk korban banjir di Malang (Pewarta Perniagaan, 15 Januari 1943).

Ardjoena yang sejak awal terbentuk sebagai perkumpulan klub sepak bola yang berangotakan oleh pemain Bumiputra selain sukses menjelma sebagai klub yang kuat juga berjiwa sosial tinggi. Terbukti dari beberapa kali Ardjoena bersedia melakukan pertandingan yang hasilnya digunakan untuk amal.

Pemain-pemain yang memperkuat kesebelasan Ardjoena pada kurun waktu tahu 1942-1944 antara lain Siswari (Penjaga Gawang), Sapari, Moen (Belakang), Oesman, Djuri, Soeparmo, Soegondo, Oentung, Imam (Tengah), Soelimin, Djadjadi (Depan) (Soeara Asia, 5 Agustus 1942).

Kehebatan para pemain Ardjoena juga dapat dibuktikan dengan terpilihnya Sapari dan Djuri dalam tim yang akan mewakili Malang dalam kejuaraan yang diselenggarakan oleh Tai Iku Kai (Soeara Asia, 22 Oktober 1943).

REFLEKSI

Salah satu fungsi belajar sejarah adalah untuk meledani masa lalu yang baik dan diterapkan di masa kini, serta digunakan untuk merancang masa depan. Dari kiprah perkumpulan sepak bola Ardjoena dari Malang agaknya bisa diambil banyak pelajaran dari kelamnya sepak bola Indonesia kini (2013).

Khusus untuk perkara disharmonisnya hubungan antara suporter sepak bola Malang dan Surabaya yang diwakili oleh Aremania dan Bonekmania, agaknya setitik kisah ini bisa jadi renungan bersama bahwa dahulu hubungangan diantara mereka pernah harmonis. Jauh panggang dari api jika berharap kisah ini bisa menyatukan mereka dari kisah singkat ini, namun setidaknya kisah ini bisa menjadi topik baru dalam dalam tema “rivalitas” diantara mereka.

eladan selanjutnya yang bisa diambil dari perkumpulan sepak bola Ardjoena adalah menjadikan sepak bola sebagai wadah kepedulian bagi sesamanya. Ardjoena bersedia melakukan beberapa kali pertandingan yang hasilnya digunakan untuk amal dan kegiatan sosial. Ardjoena berhasil mentransformasikan sepak bola sebagai wadah persatuan dan kepedulian sesame, bukan sebagai sebuah kendaraan politik. Sepak bola sebagai olahraga yang bisa menarik banyak masa tidak selaknya dipakai untuk pencitraan politik dan kepentingan golongan melainkan untuk kepentingan dan kebanggaan bersama. Bersama dalam bingkai bendera Merah-Putih serta lambang Garuda didada.

Daftar Rujukan

Surat Kabar

  1. Asia Raya, 5 Juli 1942.
  2. Soeara Asia, 22 Oktober 1943.
  3. Soeara Asia, 5 Agustus 1942.
  4. Pewarta Perniagaan, 15 Januari 1943.
  5. Pewarta Perniagaan, 3 September 1942.
  6. Pewarta Perniagaan, 23 Desember 1943.

Buku

  1. Barretty, W. 1934. 40 Jaar Voetball in Netherland Indie. Sukabumi: tanpa penerbit.
  2. Widodo. D.I. 2006. Malang Tempoe Doeloe Jilid I dan II. Surabaya : Bayumedia Publishing.

*Ditulis oleh As’ad Arifin, Lulusan Sejarah UM tahun 2012

Tinggalkan Komentar