Beranda Memorabilia Kliping Media Sejarah Arema Malang (reupload)

Sejarah Arema Malang (reupload)

0
Skuad Arema 1987-88 Berdiri dari kanan-kiri : Dominggus Nowenik, Jamrawi, Donny Latuperisa, Micky Tata, Kusnadi Kamaludin. Jongkok dari kanan-kiri : Mahdi Haris, Muchrim Akbar, Jonathan, Effendi Aziz , ????, Andik.

Arema FC sendiri lahir pada tanggal 11 Agustus 1987. Terpicu semangat mengembangkan persepakbolaan di Malang. Jauh sebelum itu, sebenarnya gairah Arek Malang begitu tinggi terhadap olahraga rakyat itu. Waktu itu, Persema bagai sebuah magnet bagi warga Malang. Stadion Gajayana –home base klub pemerintah itu– selalu disesaki penonton. Sampai-sampai pohon tanjung di sekitar stadion “berbuah” orang.

galatama_xii2

Di mana Arema waktu itu ? Yang pasti, ia belum mengejawantah sebagai sebuah komunitas sepakbola. Ia masih jadi sebuah “utopia”. Adalah Acub Zaenal yang kali pertama punya andil menelurkan pemikiran

Jasa “Sang Jenderal” tidak terlepas dari peran Ovan Tobing, humas Persema saat itu. “Saya masih ingat, waktu itu Pak Acub Zaenal saya undang ke Stadion Gajayana ketika Persema lawan Perseden, Denpasar,” ujar Ovan. Melihat penonon membludak, Acub yang kala itu menjadi Administratur Liga lantas mencetuskan keinginan mendirikan klub galatama. “You bikin saja galatama di Malang,” kata Ovan menirukan ucapan Acub.

Beberapa hari setelah itu, Ir Lucky Acub Zaenal –putra Mayjen TNI (purn.) Acub Zaenal– mendatangi Ovan di rumahnya, Jl. Gajahmada 15. Ia diantar Dice Dirgantara yang sebelumnya sudah kenal dengan dirinya. “Waktu itu Lucky masih suka tinju dan otomotif,” katanya. Dari pembicaraan itu, Ovan menegaskan kalau dirinya tidak punya dana untuk membentuk klub galatama. “Saya hanya punya pemain,” ujarnya. Maka dipertemukanlah Lucky dengan alm. Dirk Sutrisno, pendiri klub Armada.

Melalui beberapa kali pertemuan, maka Lucky A.Z., Ovan Tobing, Dirk Sutrisno dan Slamet Pramono, sepakat mendirikan Arema ’87. Materi pemainnya campuran klub Armada dan eks pemain Arseto seperti Efendi Azis, Mahdi Haris, dan lainnya.

Waktu itu, Arema ’87 masuk tahap persiapan mengikuti galatama musim kompetisi VII. Di tengah persiapan itu, masuklah notaris Pramu Haryono dan James Theo Setlight, menambah jajaran pengurus klub. Sempat ada kendala, yakni masalah dana –masalah utama yang kelak terus membelit Arema.

“Kalau memang tidak ada alternatif lain, ya papimu Luk yang harus mendanai,” jelas Ovan saat mengantarnya ke Bandara Juanda.

Sepulang dari Jakarta, Acub Zaenal sepakat menjadi penyandang dana. Maka, masuklah Arema ’87 ke persaingan keras kompetisi Galatama. Mess pertama klub itu adalah barak Paskhas TNI AU di kompleks Lanud Abdulrahman Saleh.

Pilihan Nama dan Logo
Soal nama, sempat muncul sejumlah nama, antara Aremada (Arek Malang Armada) selanjutnya diubah Arema 87 dan lainnya. Akhirnya disepakati memakai nama Arema. Logonya waktu itu masih bergambar burung “Garuda”.

Soal logo, Acub Zaenal menetapkan gambar kepala singa karena bertepatan dengan bulan Agustus. Sejak itu, Arema mulai merasuki pikiran warga Malang. Logo kepala singa ini lahir lewat sebuah momentum. Kala itu SIWO PWI Malang menggelar lomba membuat bendera Arema tanpa ada pemaksaan kreasi. Hampir suporter di setiap RW muncul. Mayoritas mengekspresikan imajinasinya dengan simbol kepala singa. Seorang pemuda di sebuah gang Jl. Semeru yang mendesain kepala singa ini. Ia dan kelompoknya akhirnya memenangkan hadiah televisi. Hasil kreasinya dipampang kali pertama dalam cover depan majalah Singo Edan produksi SIWO PWI Malang sebanyak 5 ribu eksemplar terbitan Agustus l993. Akhirnya seakan ada kesepakatan lahirlah logo kepala singa yang mengaum. Logo inilah yang menjadi logo resmi klub Arema.

Adalah mantan Walikota Malang, dr Tom Uripan (alm.) yang menjadi birokrat pertama yang memberi restu berdirinya Arema. Maka, 13 tahun lalu, mulailah muncul “persaingan” antara Arema dan Persema di pentas satu kota. Tapi Arema lebih terkenal daripada Persema, konon karena Persema bernuansa birokrat karena klub itu adalah milik pemerintah daerah.

Pasang Surut
Prestasi klub Arema bisa dibilang seperti pasang surut, walaupun tak pernah menghuni papan bawah klasemen, hampir setiap musim kompetisi Galatama, Arema tak pernah konstan di jajaran papan atas klasemen, namun demikian pada tahun 1992 Arema berhasil menjadi juara Galatama. Dengan modal pemain-pemain handal seperti Aji Santoso, Micky Tata, Singgih Pitono, Jamrawi dan eks pelatih PSSI M.Basri, Arema mampu mewujudkan mimpi masyarakat kota Malang menjadi juara kompetisi elit di Indonesia.

Walaupun berprestasi lumayan, tapi Arema tidak pernah lepas dari masalah dana. Hampir setiap musim kompetisi masalah dana ini selalu menghantui. Sehingga tak heran hampir setiap musim manajemen klub selalu berganti.

Ketika PSSI memutuskan untuk menggabung 2 kompetisi yaitu kompetisi Galatama yang dihuni klub semi profesional dan kompetisi Perserikatan yang terdiri dari klub amatir milik Pemda kedalam kompetisi Liga Indonesia, Arema bergabung dengan klub-klub elit seperti Persebaya Surabaya, PSM Ujung Pandang, Pelita Jaya, dan Persipura Jayapura. Walaupun berada dalam grup yang persaingannya sangat ketat, Arema tetap mampu untuk bertahan dan tidak pernah degradasi ke divisi I. Sungguh sebuah prestasi yang sangat fenomenal mengingat selain bersaing dengan klub-klub elit, masalah dana yang menimpa Arema nagaikan api yang tak kunjung padam. Sungguh ironis jika melihat fakta bahwa Arema adalah klub yang kaya suporter namun miskin dana.

Sungguh sangat beruntung Arema memiliki suporter fanatik yang sangat perduli, pendukung fanatik yang punya julukan Aremania ini rela membantu Arema, dalam bentuk sumbangan ataupun dengan cara membayar tiket ketika pertandingan kandang Arema F.C. di stadion Gajayana. Apalagi kreatifitas Aremania akhirnya membuat banyak sponsor ikut membantu untuk mendanai Arema F.C. mengikuti Liga.

Sejak mengikuti Liga Indonesia, Arema tercatat pernah 2 kali masuk putaran kedua atau 8 besar. Yang pertama pada musim kompetisi Liga Indonesia ke II tahun 1995 dan pada musim kompetisi Liga Indonesia ke VI tahun 2000. Dalam musim Liga Indonesia ke VII tahun 2001 kali ini, Arema kembali mengulangi suksesnya masuk putaran 8 besar yang berlangsung di Jakarta.

*Tulisan ini adalah upload ulang dari laman aremaniacyber yang pernah diunggah pada tahun 2001

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.