Home Fokus Sepakbola Malang Tahun 90an – Persema Sang Saudara Tua Arema

Sepakbola Malang Tahun 90an – Persema Sang Saudara Tua Arema

3080
0
SHARE
Skuat terakhir Persema sebelum dibubarkan
Skuat terakhir Persema sebelum dibubarkan

Persema memang diidentikkan sebagai tim ‘kelas dua’ di Malang, atau kadang disebut juga Persema sang saudara Tua Arema. Kehadiran penonton yang minim menjadi guyonan satir bahwa Persema identik dengan klub ‘plat merah’ dan birokrasi politik.

Klub yang telah berusia lebih dari setengah abad ini bagaikan klub ‘pinggiran’ dimana tidak hanya jumlah penonton yang kalah jauh ketimbang saudara mudanya, Arema tetapi juga porsi perhatian publik kepada Persema meski sudah pernah diperkuat sederetan pemain ‘tenar’ seperti Irfan Bachdim dan Kim Jeffrey Kurniawan.

Namun siapa sangka, di era tahun 80an hingga sekitar tahun 1999 pendukung kedua tim relatif seimbang!

Persema di akhir tahun 80an hampir dibilang hilang peredaran ketika tim berjuluk Bledek Biru (sebelum diubah menjadi Laskar Ken Arok di tahun 2004 pada masa kepemimpinan Drs Peni Suparto) masih berkutat di Divisi 1 liga perserikatan. Di Jawa Timur perhatian publik masih terpusat pada Persebaya yang sedang dalam masa kejayaan menjelang akhir dekade 80an.

Nasib sedikit berubah ketika Persema menapaki tangga juara Divisi 1 Liga Perserikatan 1990. Pada final yang digelar di Stadion Mandala Krida Jogjakarta pada tanggal 3 Maret 1990 Persema mengungguli Persijatim(sekarang Sriwijaya FC) 1-0 lewat gol Harry ‘Hunter’ Siswanto. Ketika itu Persema dilatih oleh Rohanda atau yang akrab disapa sebagai Kandut.

Pelatih berpenampilan sederhana dan menjadi salah satu pelatih dengan masa jabatan terlama di Persema ini sukses meramu tim sejak awal penyisihan hingga babak semifinal menghadapi tuan rumah PSIM Yogyakarta. Di era ini masih terdapat nama Suliadi, pemain yang berkarakter keras dan akhirnya pernah memperkuat Arema Malang. Pemain lain yang juga memperkuat Persema adalah Maryanto (musim selanjutnya membela Arema), Sugiarto, Sulis Andri Asmawan (masih memperkuat Persema di tahun 1995/1996) dan Bambang Sumantri (pernah memperkuat Persela Lamongan di Divisi Utama Liga Indonesia beberapa tahun lalu).

Sukses Persema di Divisi 1 Perserikatan dan keberhasilan Arema menembus papan atas Galatama membuka perhatian penggemar sepakbola di Malang. Publik di Malang tidak lagi silau dengan gemerlap prestasi tetangganya di Surabaya namun dibarengi dengan kiprah Arema semakin membuka semangat loyalitas kepada klub yang ditunjukkan oleh Arek Malang.

Ketika Stadion Gajayana Malang selesai direnovasi oleh PT Putra Arema yang dikomandoi Sam Ikul, Persema turut merumput di Stadion ini ketika mengikuti Liga Perserikatan 1992/1993. Sayangnya selepas keberhasilan menembus Divisi Utama Perserikatan tidak dibarengi dengan peningkatan prestasi. Persema kerap tampil angin-anginan dan hampir terjerembab di papan bawah.

Kondisi ini diulangi lagi ketika Persema mengikuti kompetisi Liga Indonesia I di tahun 1994/1995. Dimotori oleh pemain senior Maryanto, dan dibantu sederet pemain asli Malang seperti Muchlis Tajudin, Syaifuddin Zuhri, M. Rochim (memperkuat Arema di tahun 1998-2000), dan penyerang muda M. Amin Zakaria (pensiun di tahun 2003) prestasi Persema berkutat di papan bawah. Secara perolehan hasil Persema masih kalah dengan saudara mudanya Arema yang sukses menempati peringkat 5 meski gagal melaju ke babak 8 besar.

Mundurnya beberapa tim menjelang musim 1995/1996 tidak dimanfaatkan dengan baik oleh Persema. Prestasi tim terjun ke papan bawah (setingkat dibawah Arema) dan hampir terjun bebas ke jurang degradasi. Persema yang berkostum kaus biru tua dan celana putih sering mengalami inkonsistensi ketika bermain. Kekalahan perdana Persema di kandang didapat ketika tim berjuluk Bledek Biru ini menjamu Gelora Dewata yang diperkuat Vata Matanu Garcia dan I Made Pasek Wijaya dengan skor 0-2.

Harapan untuk berprestasi sempat terukir ketika Persema melakoni kompetisi 1996/1997. Mendapat pasokan pemain asing seperti Derryl Sinnerine, Antonic Dejan, dan Ketcha Serryl (direkrut hanya beberapa pertandingan di Putaran II namun sanggup mencetak minimal satu gol dari setiap pertandingannya bersama Persema) dan mantan gelandang Arema Domingus Nowenik sempat memantabkan Persema di papan atas pada awal kompetisi. Namun ketika pertengahan musim Persema bermain buruk termasuk di beberapa laga kandangnya.

Persema baru bisa tancap gas menjelang berakhirnya kompetisi. Memanfaatkan perubahan Stadion Gajayana dengan penambahan lampu stadion membuat Persema memiliki kesempatan bermain pada malam hari. Keuntungan ini disadari Persema karena beberapa tim Divisi Utama ketika itu kurang terbiasa dengan laga yang dimainkan di malam hari.

Dengan serangan tim yang bertumpu pada Ketcha Serryl, Persema sukses membekuk Petrokimia Putra(finalis Liga Indonesia 1994/1995) dengan skor 3-0 (3 gol dicetak hanya dalam waktu 20 menit di babak pertama), Persedikab Kediri 5-1 dan Persiba Balikpapan dengan skor 4-1 (sempat tertinggal 1 gol terlebih dahulu namun Persema sukses membalikkan keunggulan).

Sayangnya kesempatan untuk tancap gas dan memperbaiki posisi perlahan sirna. Ketcha Serryl dinonaktifkan sebagai pemain oleh manajemen Persema dengan alasan ‘kenakalan remaja’. Laga Persema ketika menjamu Persipura di Stadion Gajayana Malang seolah tidak berarti apa-apa. Persema sempat unggul 1-0 lewat gol cepat M. Amin Zakaria, namun Persipura membalas lewat 2 golnya. Beruntung pemain Persema tidak kalah arang dan membalasnya untuk memaksakan skor seri 2-2. Apapun hasilnya Persema tidak dapat meraih posisi yang lebih baik dari sekedar peringkat 8 di klasemen akhir Divisi Timur dan membalas kekalahan 2-3 atas Persipura pada Liga Indonesia 1994/1995.

Harapan Persema untuk berprestasi sempat dipundakkan pada skuad yang berkompetisi setahun kemudian. Diperkuat Trio pemain Chile seperti Nelson Leon Sanchez, J.C. Manu Vega Lara dan Juan Rubio mengangkat prestasi Persema.

Meski kompetisi berhenti karena situasi politik dan laju Persema terhenti di peringkat 5 masih mendapat apresiasi dari penggemar sepakbola di Malang. Terbukti pendapatan Persema hampir menyamai pendapatan yang diraih oleh Arema. Di tahun itu rata-rata setiap pertandingan Persema mendapat pemasukan sekitar 30juta rupiah dengan jumlah penonton sekitar 7000-9000 penonton. Di tahun-tahun sebelumnya seringkali pendapatan Persema mentok di angka 10juta rupiah saja.

Meski Persema sedang mendapat durian runtuh dengan limpahan penonton, namun sesungguhnya klub tidak bergantung dengan prestasi tim semata. Berbagai terobosan dilakukan Panpel Persema, salah satunya adalah tiket berhadiah rumah senilai 100juta rupiah yang dikumpulkan dan diundi ketika akhir musim kompetisi. Namun, tidak jelas kabar undian rumah ini karena kompetisi berakhir akibat situasi politik yang melanda ibukota.

Agaknya di musim 1997/1998 adalah musim terbaik Persema. Di musim selanjutnya prestasi Arema kalah mentereng dengan Arema yang ‘sukses’ duduk di peringkat ketiga penyisihan grup meski tidak lolos ke babak 10 besar di Jakarta. Di masa itu Arema mulai memanen dukungan penonton dengan kehadiran Aremania.

Hal inilah yang kurang disadari oleh manajemen Persema ketika itu. Terbukti ketika Arema mendapat dukungan penuh dari suporternya, jumlah pendukung Persema di stadion cenderung stagnan (kalau tidak boleh disebut sebagai penurunan). Persema baru membentuk suporternya ketika tim ini terjerumus ke jurang degradasi Divisi Utama.

Suporter Persema atau yang saat ini akrab dipanggil dengan sebutan Ngalamania baru muncul di tahun 2003. Bisa dibilang kemunculan ini terlambat ketika klub sepakbola di Indonesia sudah mendapatkan dukungan penuh suporternya dalam jumlah masif.

Awal kemunculan Ngalamania ini bukanlah ‘segempita’ seperti sekarang ini. Ketika itu Persema memulai laga perdana di Divisi 1 melawan Persela. Persela didukung sekitar 500 LA Mania yang menempati tribun timur, sementara Ngalamania baru terdapat di tribun selatan dengan jumlah tidak lebih dari sepersepuluhnya.

Ketika Persema berganti ‘kostum’ dan julukan berubah menjadi Laskar Ken Arok Ngalamania berekspansi ke beberapa sudut Kota Malang. Dari kemunculan Korda Boldies hingga munculnya belasan Korda lainnya. Meski pertumbuhan jumlah suporter Persema tidak terlalu signifikan, kerapkali mendapat sindiran antara dukungan klub dengan pertautan politik dari salah satu background pengurusnya.

Sayang sekali, di tahun 2013 masa Persema benar-benar berakhir, keputusan tidak populer untuk pindah ke LPI juga berujung dengan merosotnya jumlah penonton. Bahkan saat penyatuan kompetisi di tahun 2013, nama Persema sudah tidak diikutkan. Tim ini akhirnya Almarhum dengan menanggung hutang dengan jumlah yang tidak sedikit.

Meski kini ada Persema 1953, namun embel-embel tahun di belakang nama besar Persema seolah membuktikan jika klub ini bakal lama kembali ke kasta tertinggi sepakbola Indonesia.

Tinggalkan Komentar