Beranda Fokus Sosial Media, Tekanan, dan Pengaruhnya Kepada Pemain

Sosial Media, Tekanan, dan Pengaruhnya Kepada Pemain

Sosial media telah berkembang dengan sangat pesat. Keberadaannya kini sudah sebagai dua sisi. Menguntungkan namun juga bisa merugikan. Seperti apa fenomena itu?

0
Kemenangan Arema akan membuat aktivitas di sosial media mereka meningkat.
Kemenangan Arema akan membuat aktivitas di sosial media mereka meningkat.

Memiliki akun sosial media (sosmed) kini sudah menjadi semacam kewajiban semua orang. Pasalnya, dengan sebuah akun di Facebook, Twitter, Instagram hingga Youtube, semua informasi apapun itu bisa diakses dengan mudah.

Dengan sosmed, suporter sepakbola bisa mudah melihat kegiatan dan aktivitas pemain sepakbola idolanya. Lebih dari itu, mereka juga bisa berinteraksi dengan pemain idolanya.

Di sisi lain, kini industri sepakbola beramai-ramai mengembangkan sosmed untuk mendapatkan keuntungan. Promosi sponsor hingga berita terkini yang ditayangkan di sosmed bisa diakses lebih cepat dibandingkan dengan yang lainnya.

Tidak ketinggalan, para pemain juga memiliki sosmed, tidak sekedar berinteraksi dengan sesama pemain. Mereka juga memajang foto pribadi hingga foto saat beraksi di lapangan bola. Tidak sedikit pula para pemain memanfaatkan kemudahan itu untuk beriklan.

Seperti dilansir the UK Sports Network, hajat hidup manusia yang paling mengundang atensi di sosmed adalah olahraga. 41 persen kicauan pengguna twitter berhubungan dengan olahraga dengan 50 persen diantaranya adalah sepakbola.

Untuk pemain, contoh paling gampang adalah Cristiano Ronaldo. Dirinya bisa memanfaatkan sosmed sebagai pundi uang untuk dirinya. Dengan 106 juta pengikut di instagram di akun @cristiano belum lagi di Facebook dan Twitter yang juga mencapai jutaar pengikut, konon Ronaldo akan mendapatkan pemasukan mencapai Rp5,6 milyar pada setiap unggahannya.

Timnas Jerman memanfaatkan akun sosial media untuk mendekatkan diri kepada penggemar.
Timnas Jerman memanfaatkan akun sosial media untuk mendekatkan diri kepada penggemar.

Untuk tim sepakbola, timnas Jerman bisa dijadikan contoh. Pada Piala Dunia 2014 lalu, mereka meluncurkan tagar #aneuererseite (di sisi mu). Antusiasme sangat luar biasa, akun sosmed timnas yang awalnya hanya ratusan ribu meningkat menjadi jutaan saat Jerman mengakhiri turnamen sebagai juara.

Di Indonesia, Kim Kurniawan, Bambang Pamungkas hingga klub Bali United memanfaatkan sosmed dengan sangat baik. Keberadaan akun itu mampu digunakan untuk menggaet sponsor dan mendekatkan diri kepada penggemar.

Namun bukan berarti sosmed tak punya efek negatif dalam sepak bola. Dalam sejumlah kesempatan, beberapa pemain malah terlibat perang dengan pendukungnya di Twitter atau Facebook. seperti yang dialami oleh Rio Ferdinand.

Akibat tampil buruk Ferdinand jadi sasaran ejekan fan sendiri di Twitter. Tak terima dengan ejekan Ferdinand membalas dengan kata-kata kasar.

Tidak hanya Ferdinand, sejumlah pemain juga terlibat perang terhadap sesama pemain, pelatih dan federasi sepakbola. Tidak heran otoritas sepakbola Inggris (FA) memberlakukan aturan ketat. Denda-denda kerap mereka layangkan atas aktivitas penggunaan sosmed yang tidak sewajarnya.

Pemain Arema Diminta Berhati-hati Kepada Sosial Media

Pelatih Arema FC Joko Susilo memperhatikan fenomena ini. Sebagai pelatih dirinya menyatakan jika beban pemain lebih berat di zaman sekarang.

Menurut pelatih kelahiran Cepu ini, sosmed akan membuat pemain cepat terkenal. Namun tidak sedikit para pemain yang baru saja naik panggung langsung turun seketika karena tidak kuat berinteraksi.

Pria yang akrab disapa Getuk memberikan dua contoh yang simpel, jika menang maka banyak sekali pendukung yang memberikan pujian setinggi langit. Padahal menurutnya pemain itu masih bisa mengeluarkan kemampuan yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Akibatnya pemain merasa sudah bagus mainnya, lupa jika tantangan semakin besar. Biasanya ini terjadi kepada pemain muda, saat mereka mabuk pujian maka karir perlahan akan meredup.

Permintaan maaf Zaenuri saat dirinya melakukan blunder ketika melawan Persela dia lakukan melalui sosial media.
Permintaan maaf Zaenuri saat dirinya melakukan blunder ketika melawan Persela dia lakukan melalui sosial media.

Jika bermain buruk, pemain harus menyiapkan hati dan mentalnya lebih kuat. Karena kini tidak ada batasan lagi, kata-kata tidak enak didengar dan diliihat bakal langsung hadir dari pendukung sendiri ataupun pendukung lawan.

“Saat ini pemain harus hati-hati, dulu waktu jaman saya dan Kuncoro masih bermain, suporter yang datang ke Stadion diyakini adalah keinginan menyaksikan kemampuan pemain dan memberikan dukungan. Sekarang, begitu selesai pertandingan dan kami tidak meraih hasil bagus, maka ada beberapa suporter yang langsung memaki pemain, memberikan pesan singkat dengan nada yang mungkin tidak enak didengar,” terang pria berusia 47 tahun itu.

“Tidak hanya kepada pemain, tetapi juga kepada pelatih karena mereka sudah tahu akun dan nomernya. Kalau saya biasanya whatsaap, jadi mungkin ya kalau misal mendapatkan pesan ya dihapus saja kalau tidak kenal orangnya.”

Joko pun punya pesan kepada dirinya dan pemainnya agar tidak mudah terlena dengan keberadaan sosmed.

“Pemain juga tidak perlu menanggapi isu miring tentang dirinya di sosial media. Kalau menurut saya ya tidak usah online-an. Jadi saya pikir pemain masa depan memang harus siap dengan setuasi ini tanpa menganggu mental mereka. Kalau sampai menganggu maka yang hancur ya karirnya sendiri,”

Selain interaksi dengan suporter, menurut Joko sosmed juga menjadi bumerang apabila pemain salah unggah. Sangat bagus apabila sosmed itu digunakan itu mendekatkan diri kepada pendukung, unggah keseharian hingga iklan. Namun tidak jarang ada unggahan dengan nada yang tidak enak yang ditujukan kepada lawan ataupun sindiran kepada manajemen klub. Menurut Joko biasanya ini terjadi di twitter.

“Pemain kerap bermasalah dengan manajemen terkait dengan postingan di sosmed. Ya, intinya harus hati hati saja karena akun mereka kini dipantau oleh orang se-Indonesia,” tukasnya.

Kalaupun untuk mencari iklan, dirinya memberikan contoh pesepakbola dunia yang menggunakan pihak kedua (admin). Keadaan yang membuat sang pemain tidak bersentuhan langsung dan berinteraksi dengan penggemar. Namun para penggemar tetap bisa melihat aktivitasnya.

Menurut Anda?

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.