Beranda Fokus Stadion Shah Alam, Lapangan Buruk yang Mempersulit Marinus Maryanto

Stadion Shah Alam, Lapangan Buruk yang Mempersulit Marinus Maryanto

0

Shah Alam adalah Stadion yang cukup fenomenal di Malaysia, dari nama Stadion ini sudah saya kenal saat beberapa waktu lalu Bambang Pamungkas dan Elie Aboi berduet sedemikian rupa mengharumkan Selangor FA sebagi klub dari negeri tersebut.

Kali ini saya berkesempatan mengunjungi stadion itu dalam rangka liputan timnas Indonesia di ajang SEA Games 2017. Laga pertama timnas Indonesia melawan Thailand, (16/8)

Dari lokasi saya menginap yaitu Apartemen Casa Mutiara yang terletak di Bukit Bintang, Stadion itu bisa ditempuh dengan menggunakan angkutan umum. Anda bisa menuju ke Stasiun Hangtuah yang kemudian naik MRL yang disediakan oleh RapidKL, tiketnya cukup murah yaitu hanya 1.6 Ringgit saja, lebih murah daripada es teh di Kedai depan Apartemen yang dihargai 1,7 ringgit. MRL itu turun di Tun Sambathan.

Dari sana perlu perjalanan lagi menuju Halte di Sekolah Kebangsaan Metodhis Tun Sambathan untuk naik angkutan bis RapidKL, semacam bis cepat seperti Bus Way kalau di Jakarta. Dari bis itu kemudian turun di Halte Istana Kayagan Shah Alam. Untuk sampai Shah Alam, ada bisa berjalan sejauh 1,7 km atau menggunakan grab yang bertarif 3 Ringgit.

Dari depan Stadion Shah Alam seperti Stadion lawas.
Dari depan Stadion Shah Alam seperti Stadion lawas.

Dilihat dari depan, Shah Alam adalah tipe stadion lawas, pengelola stadion masih mempertahankan beton seperti pembangunan awalnya alias tidak diberi sentuhan cat. Saya jadi teringat dengan beberapa stadion di Italia yang mempertahankan warna awalnya. Keadaan yang membuat sekilas seperti kusam.

Pada saat itu, Fotografer termasuk saya masuk melalui pintu B. Oleh Voluenter SEA Games, kemudian diarahkan menuju ke tribun media di Stadion. Dari tribun itu saya bisa turun ke bawa untuk memotret.

Kondisi Shah Alam

Saya menyakini jika Stadion ini sangat megah, sayang ada beberapa kekurangan yaitu beberapa atap Stadion ada yang jebol yang membuat keindahan Stadion ini berkurang. Stadion ini adalah stadion standar FIFA, salah satu indikatornya adalah ada jalan untuk evakuasi penonton jika terjadi sesuatu yang tidak diin. Memang masih ada pagar di sekeliling tribun, tetepi evakuasi terhadap penonton apabila perlu tindakan medis dilakukan di atas. Bahkan mobil pun bisa berjalan di tribun atas.

Sementara untuk rumput, Shah Alam menggunakan rumput cow gras atau rumput gajah yang memiliki daun lebar, kalau sulit membayangkan bisa dilihat seperti rumput Stadion Kanjuruhan yang dikatakan Hakan Calhanoglu mirip dengan salad.

Bedanya, pengelola Shah Alam sudah memotong rumput saling melintang pada jarak satu meter, pemotongan yang berfungsi untuk refleksi cahaya gelap terang jika dilihat dari tribun.

Sayang, kondisi daerah sana yang hujan sejak pagi plus baru saja dipakai bermain kemarin oleh timnas Malaysia melawan Brunai Darussalam membuat rumput menjadi sangat empuk. Beberapa kali pemain Indonesia ataupun Thailand terjatuh saat mengejar bola.

Kondisi rumput yang licin juga diutarakan Evan Dimas, “Lapangan cukup licin karena kami belum coba lapangan sebelumnya dan langsung main tadi. Tapi alhamdulillah, kami bersyukur dengan hasil ini,” ujar Evan Dimas.

Marinus seringkali terjatuh!
Marinus seringkali terjatuh!

Tampaknya, dengan kondisi Malaysia yang sering hujan, lapangan diperkirakan akan semakin rusak mengingat pertandingan di Shah Alam dari Grup A dan B bakal digelar setiap hari.

Pindah Lokasi Latihan

Hasil imbang yang terjadi di laga pertama rupanya berbuntut panjang bagi timnas Thailand. Sejumlah petingg FAT langsung datang keesokan harinya untuk melihat secara langsung latihan anak asuh Worrawoot Srimakha.

Mereka langsung melakukan beberapa perubahan, yang pertama adalah mengubah lokasi latihan dari Inspen Bangi ke Padang Kelab Aman.

“Kami memindahkan lokasi latihan karena ingin mencari tempat yang cocok yangs sesuai dengan kondisi di Stadion Shah Alam,” terang Watanya Wangopasi.

Sementara Indonesia mengambil jalan serupa dengan juga memindahkan lokasi latihan. Sayang keinginan untuk memakai Padang Kelab Aman terkendala oleh cepatnya Thailand memesan lapangan. Alhasil Indonesia pun hanya latihan pagi hari.

Tinggalkan Komentar