Beranda Fokus Tur – Kemegahan National Stadium Tidak Menolong Singapura

Tur – Kemegahan National Stadium Tidak Menolong Singapura

0
Penampakan di depan Stadium.

Apa beda suporter dengan penonton. Jika anda bertanya tentang itu, maka pengalaman saat saya tur ke National Stadium, Singapore, untuk menonton pertandingan penentuan di Piala AFF 2014 antara tuan rumah Singapura melawan Malaysia bisa dijadikan rujukan.

Awalnya, laga tersebut memang bukan destinasi saya, namun lamanya transit di Singapura seusai meliput timnas Indonesia di Hanoi, membuat malam minggu di Singapura bisa dinikmati sembari menonton pertandingan terakhir di grup A. Apalagi dua tim yang menjadi musuh bebuyutan itu sebelum duel sudah dipanaskan oleh media lokal masing-masing negara.

Di Malaysia, koran lokal setempat mempertanyakan kebijakan imigrasi perbatasan Johor Bharu dengan Singapura. Hal ini terjadi karena tertahannya sejumlah suporter sejak pertandingan pertama Malaysia melawan Myanmar. Bahkan saat antusiasme luar biasa dari fans ke Singapura di pertandingan terakhir menjadi terkendala karena imigrasi menahan sejumlah orang, dan tentu saja jumlah lebih banyak dibandingkan laga perdana.

“Kebijakan ganda tuan rumah,” kata koran Strait Times dalam headline-nya

Sementara itu, koran di Singapore lebih kalem, mereka mencoba membuka kenangan saat dua tahun lalu Singapura menjadi juara Piala AFF dengan lolos dari kandang Malaysia. Mereka membandingkan, jika di Malaysia saja lolos, maka apalagi di kandang sendiri.

Dari Bandara Changi, National Stadium paling murah dan mudah ditempuh dengan dengan MRT. Anda cukup mengeluarkan uang tidak lebih dari 10 dollar Singapura untuk PP, Dari Changi perjalanan MRT menuju ke Tanah Merah, kemudian oper kereta lanjut ke Paya Lebar. Dari situ anda pindah kereta menuju ke arah Stadium. Asyiknya, seperti sudah disengaja jika stasiun di Stadion berdekatan. Sehingga saat keluar maka pemandangan yang pertama anda lihat adalah sebuah stadion megah yang dikelilingi kompleks olahraga.

Untuk mengatasi masalah rumput, sebelum pertandingan dimulai dan di pergantian babak, ada air yang menyemprot.
Untuk mengatasi masalah rumput, sebelum pertandingan dimulai dan di pergantian babak, ada air yang menyemprot.

Bicara soal Stadion ini, merupakan renov dari stadion nasional sebelumnya, dengan dimulai pembangunannya pada tahun 2007. Berkapasitas 55 ribu untuk sepakbola dan berkapasitas 52 ribu untuk Rugby. Sempat dikeluhkan kualitas rumputnya yang buruk dari tim nasional Brasil ataupun klub Juventus yang pernah menjajal Stadion ini. Pemerintah Singapura akhirnya menjanjikan jika masalah rumput ini tidak akan terjadi saat perhelatan Piala AFF 2014.

Stadion memang sangat sangat megah, bisa jadi merupakan yang termegah di Asia Tenggara. Atap Stadion tertutup sehingga tidak akan menggangu pertandingan yang dijalankan. Sementara didalam stadion juga terdapat cafe yang diperuntukkan untuk fans jika mereka merasa lapar.

Suporter Singapura banyak duduk
Suporter Singapura banyak duduk

Sementara itu, di luar stadion, fans Malaysia yang jumlahnya tidak lebih dari 500 bernyanyi-nyanyi. Bahkan lagunya sangat keras di telinga fans Singapura meski liriknya diganti. ‘Singapura itu sshh”. [Sebagai catatan, Ultras Malaya menyanyikan Singapore itu an***g di Piala AFF 2012 lalu]. Sementara itu, fans Singapura yang melihat kejadian itu hanya terdiam. Biasa jadi mereka tidak punya lagu dan terlihat kurang kompak.

Saya menduga, atmosfer di dalam Stadion akan didominasi oleh Ultras Malaya. Dan benar saja, Stadion yang berkapasitas 50 ribu penonton itu penuh sesak, lautan warna merah lebih mendominasi secara jumlah. Namun, tidak dengan kebisingan. Ultras Malaya yang ada sisi belakang gawang tidak ada yang duduk di kursi. Mereka berdiri dan bernyanyi dengan lagu-lagu mereka. Sepintas, terdengar lagu-lagu suporter Indonesia yang diganti liriknya, beberapa kali juga terdengar lagu ‘ale-ale’ ala Ultras.

Fans Malaysia, bisingkan Stadion.
Fans Malaysia, bisingkan Stadion.

Kondisi itu membuat stadion terdengar bising, dan sayangnya bukan milik suporter tuan rumah melainkan suporter Malaysia. Sementara kebisingan bagi tuan rumah hanya terjadi disaat Singapura mendapatkan peluang, namun hanya suara ‘ha hu ha hu’ saja. Sehingga praktis stadion itu dikuasai oleh fans Malaysia.

Jika melihat di sekeliling, apa yang dilakukan fans bola Singapura adalah perwujudan dari sebutan penonton. Warna merah di stadion juga bukan akibat penonton menggunakan kaos Singapura atau jersey. Tetapi juga karena warna jersey dari Liverpool, Manchester United, Arsenal hingga Kashima Antlers.

Juan Mata nonton bola
Juan Mata nonton bola, dua jersey di sisi kiri adalah Liverpool dan United, sementara penonton di sisi kanan menggunakan jersey Korea Selatan. Yang penting merah!

Tak heran, motivasi di lapangan juga berbeda, terutama disaat babak kedua. Saat dimana striker Malaysia lebih dekat dengan suporternya. Safee Sali, Noor Idlan, hingga Safiq Rahim berani bertarung di lapangan. Teriakan suporter di tribun seperti membius kakinya untuk bergerak lebih cepat dibandingkan pemain Singapura. Hasilnya, tiga gol dengan dua diantaranya di menit akhir memungkasi pertandingan dengan skor 3-1.

Akhir cerita indah untuk Malaysia.
Akhir cerita indah untuk Malaysia.

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.