Beranda Fokus Tur – Mengunjungi Turnamen Sepakbola Di Negara Basket Filipina

Tur – Mengunjungi Turnamen Sepakbola Di Negara Basket Filipina

0
Negara Basket menjadi sebutan buat Filipina, pantas jika Stadion mereka sepi
Negara Basket menjadi sebutan buat Filipina, pantas jika Stadion mereka sepi

Sudah lama sebenarnya saya ingin menceritakan pengalaman selama dua Minggu di Filipina, tetapi baru kali ini bisa meluangkan waktu santai untuk menceritakan suasana penyelanggaran Piala AFF 2016 di negara yang mayoritas penduduknya tidak suka sepakbola alias negara basket.

Saya mendapatkan tugas yang lumayan istimewa untuk liputan bersama dua kawan hebat dari Goal.com. Faraby Firdausi dan Rais Adnan.
Baru mendarat di Bandara bersama dua kawan hebat dari Goal.com. Faraby Firdausi dan Rais Adnan.

Tugas meliput Piala AFF adalah kali kedua setelah pada 2014 lalu di Vietnam. Mendarat di Bandara Ninoy Aquino. Saya sama sekali tidak terkejut manakala di Bandara tidak ada sambutan tentang kegiatan penyelanggaran event bola terbesar di Asia Tenggara itu. Karena memang sebelumnya sudah banyak mendapatkan referensi dari kawan-kawan yang sudah tiba lebih dahulu.

Keterkejutan saya terjadi tatkala jumpa pers menjelang pertandingan perdana Piala AFF. Pelatih Filipina Thomas Dooley secara terang-terangan merindukan pressure seperti yang dialami oleh kontestan lain.

Menurutnya, banyak orang Filipina yang menggemari basket membuat sepakbola mendapatkan porsi yang sangat sedikit di media. Porsi itu hanya sebatas preview dan review pertandingan. Tidak ada tekanan dari media seperti layaknya di Indonesia.

Raut muka Dooley nampak murung, bukan karena tekanan namun karena tidak banyak tempat di media untuk sepakbola.
Negara basket. Raut muka Dooley nampak murung, bukan karena tekanan yang hadir kepada timnya namun karena tidak banyak tempat di media untuk sepakbola.

“Jika pelatih lain alergi terhadap tekanan, saya justru merindukan tekanan. Sepakbola kami tidak mendapatkan ruang banyak di media, saya rindu media menghakimi kami jika main jelek, saya rindu orang-orang banyak membahas kemenangan kami, itu yang tidak kami dapatkan di sini,” tegas Thomas Dooley.

“Di Indonesia atau Thailand, sepakbola begitu meriah, puluhan ribu orang bisa datang memberikan tekanan kepada lawan, sementara besok saya tidak tahu apakah kami akan mendapatkan dukungan dari semestinya yang kami dapatkan, karena saya sendiri menyakini jika tidak banyak yang tahu di mana letak Stadion kami.”

Yang dimaksud Dooley tentu saja Philippine Sports Stadium yang diresmikan pada tahun 2014. Sejumlah laga memang pernah digelar di sana, namun lokasi Stadion yang berbeda kota seperti membuat orang-orang enggan datang.

Perlu diketahui, letak Stadion baru Filipina ada di Propinsi Bulacan di kota yang bernama Bocaue itu tidak terlalu jauh karena hanya berjarak sekitar 32km saja atau sama jaraknya dari Bandara Sukarno Hatta ke Terminal Pulogadung. Namun Filipina dikenal sebagai kota macet sehingga saat saya iseng membuka google map dari tempat jumpa pers di Hotel Marco Polo Ortigas dengan Stadion memerlukan perjalanan hingga 6-7 jam!.

Besoknya saat ke sana. Sepanjang perjalanan saya tak menemui satu pun umbul-umbul, spanduk, maupun banner mengenai AFF Suzuki Cup 2016, dalam perjalanan kami ke stadion.

Tadinya, kami pikir mungkin nanti ketika di dekat stadion akan lebih terasa atmosfernya. Tapi ternyata, hingga masuk ke dalam stadion pun tak ada alat promosi yang menunjukkan bahwa tempat itu bakal menggelar laga AFF Suzuki Cup 2016, hari ini.

Kondisi Stadion di negara basket. Tidak ada hingar bingar penonton tuan rumah layaknya biasa.
Kondisi Stadion di negara basket. Tidak ada hingar bingar penonton tuan rumah layaknya biasa.

Satu hal lagi yang menjadi catatan, warga di luar Bocaue, Bulacan, cukup sulit untuk menjangkau stadion itu dengan menggunakan transportasi umum seperti bus.

Memang ada bus yang mengarah ke Bulacan, yang bisa dijumpai di wilayah Cubao. Tapi itu juga tak langsung sampai ke stadion, dan harus menggunakan kendaraan lagi untuk mencapai ke sana (bagi wartawan yang kerap mengejar waktu liputan tentunya itu tak mungkin menjadi opsi). Saya dan tim pun banyak memilih aplikasi grabcar untuk pergi dan pulang.

Philippine Sports Center sendiri adalah sebuah kompleks olahraga, selain Stadion sepakbola juga ada rencananya tempat olahraga lain yang masih dibangun seperti tenis dan lain sebagainya.

Lucunya, Stadion sepakbola di kompleks itu yaitu Philippine Sports Stadium kalah besar dibandingkan Stadion Indoor untuk pagelaran Basket yang bernama Philippine Arena.

Jika stadion sepakbola mampu menampung 20.000 penonton saja, maka stadion basket di sana bisa menampung 55.000 penonton dan diklaim sebagai yang terbesar di dunia.

Stadion baru itu nampak sangat bersih dan rapi, namun riuhnya suara tuan rumah seperti yang saya dapat saat bertugas meliput tidak ada. Suporter tuan rumah nampak seperti suporter bayaran karena mereka mendapatkan jatah bendera dan jatah makan setelah menonton. Teriakan pun hanya dilakukan saat mencetak gol atau mendapatkan peluang.

“Kami tidak punya keuntungan atau penghormatan sebagai tuan rumah, fans tidak tahu di mana letak stadion. Kami bahkan tidak tahu bagaimana kondisi rumput di stadion saat ini, karena saat kualifikasi Piala Dunia rumput sangat berbeda akibat hujan yang terus turun,” lanjut Dooley.

Stadion sepakbola kalah besar dengan stadion Indoor di negara basket.
Stadion sepakbola kalah besar dengan stadion Indoor di negara basket.

Sementara, suporter Thailand dan Indonesia begitu mewarnai suasana Stadion. Tabuhan drum dan chant bersahutan seiring dengan gerak bola di lapangan. Tidak heran, Dooley pun uring-uringan saat timnya tidak mendapatkan hasil positif saat melawan Singapura di laga perdana.

“Laga pertama yang krusial bagi Filipina, tapi kami tidak ada untungnya jadi tuan rumah, kami tidak punya fans, kami tidak punya keuntungan di stadion,” beber Dooley.

“Kami pernah main di Thailand dan ada sekitar 16ribu orang, Indonesia atau Singapura 19ribu orang, ini suatu perbedaan yang besar.”

Akhir kata, Sepertinya ambisi federasi sepakbola Filipina untuk bisa membuat olahraga ini lebih dihargai masih jauh dari kata terpenuhi. Anda akan lebih sering melihat ring basket di pinggir jalan ketimbang gawang besar atau kecil seperti yang ada di Indonesia.

“Jalur naturalisasi bukan hanya soal prestasi, tapi juga kebutuhan mereka. Bagaimana bisa membangun tim jika anak-anak muda Filipina sendiri tak minat pada sepakbola?” Kata Faraby Firdausi, kawan dari Goal.com.

Tinggalkan Komentar